TIDAK ingin hal buruk terus-menerus menimpa hidup aku, utamanya karena takut kalau tak ada perubahan berarti dalam cara aku menjalani hidup, bukan tak mungkin orang-orang di sekolah aku, khususnya teman-teman sekelas dan pak Subagyo berbuat hal yang jauh lebih ekstrim dan brutal lagi kepada aku. Contohnya seperti, boker di dalam tas ransel aku, atau diam-diam menyundut pantat aku pakai api obor yang berkobar-kobar hebat[1]. Maka, demi untuk tak mengalami hal mengerikan yang semacam itu, aku pun lalu berupaya agar bisa diterima di pergaulan sosial sekolah, khususnya di teman-teman sekelas aku. Upaya pertama aku adalah minta saran kepada ibu aku. Ada dua saran yang diberikan olehnya. Satu, ‘Windy, tidak masalah kamu tergila-gila dengan imu pengetahuan dan ingin menularkan kegilaan itu kepada orang lain. Tetapi, ya jangan juga kamu terus-terusan meminta ke semua guru untuk diadakan kelas tambahan, apalagi sampai lima jam. Guru kamu, teman-teman sekelas kamu, punya keluarga dan kegiatan lainnya yang mesti mereka jalani’. Kedua, ‘Untuk bisa diterima baik di suatu pergaulan sosial, kamu itu harus menurunkan ego dan memperlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan’. Dua saran dari ibu aku itu pun akhirnya aku praktekan. Karena aku pribadi senang diberi perhatian, maka aku pun mulai memberikan perhatian kepada teman-teman sekelas. Mulai dari datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya supaya bisa memberikan contekan PR ke teman-teman yang belum mengerjakannya, sampai memberikan perhatian khusus ke beberapa teman sekelas yang prestasi akademiknya kurang, yaitu dengan cara secara rutin meneleponi mereka setiap habis Maghrib, lalu menanyai mereka dengan pertanyaan yang sama di setiap harinya: ‘Halo? Kamu lagi ngapain? Sudah belajar, apa belum? PR-nya sudah dikerjain? Apa ada materi pelajaran yang gak kamu pahami? Nanti, kamu mau bobok jam berapa?’. Hasilnya? Empat dari tujuh orang (Cowok) mengira aku homo[2]. Dan, sedangkan, tiga orang lainnya (Cewek) kompak melaporkan aku kepada guru BP atas perbuatan tak menyenangkan. Aku akhirnya disidang di ruang BP dan orang tua aku dapat surat panggilan ke sekolah. Iya, asem emang mereka semua.
Lalu, upaya kedua aku adalah mengubah kepribadian aku menjadi yes man. Yang mana itu artinya, aku mengiyakan permintaan apa pun dari teman-teman sekelas. Iya, apa pun. Dampaknya, aku jadi punya banyak kesibukan di luar dari kewajiban aku sebagai pelajar. Dari mulai menemani teman bermain playstation 1 di rumah teman yang lain, sampai menemani teman kencan buta dengan cewek yang baru dikenalnya di Facebook[3]. Dari mulai menemani teman buang hajat di WC, sampai menemani teman nongkrong di warung kopi depan sekolah selama berjam-jam - Pengeluaran uangnya memang betul tak seberapa, cuma beli segelas es teh manis, tetapi dosanya itu yang tak kira-kira karena dari mulai duduk sampai bayar, obrolannya kalau gak ghibah[4], ya fitnah. Ada saja yang dibahasnya, bahkan orang lewat depan kita yang gak salah apa-apa ikut dibahas olehnya. Contohnya seperti saat Reza, anak kelas 1C, lewat depan kita, di tengah teman aku itu lagi curhat soal hidupnya yang belakangan ini penuh dengan musibah. Begitu melihat Reza lewat depan kita, teman aku ini berhenti bercerita, ngeliatin Reza sebentar, lalu berkata, ‘Lihat, si Tono itu’
‘Tono, siapa?’ tanya aku, bingung.
‘Oh, sorry, maksud aku, Reza. Kebiasaan, aku manggil Reza pakai nama bapaknya’ katanya, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Aku mengelus dada prihatin. Lalu, berkata, ‘Emang ada apa dengan si Tono[5]?’[6][7]