Namun, meskipun begitu, hal itu tak menyurutkan niat aku untuk bisa diterima di pergaulan teman-teman sekelas. Maka, aku pun lalu melakukan upaya ketiga. Yaitu, berupaya menjadi problem solver bagi teman-teman sekelas yang sedang dilanda masalah. Salah satunya adalah Mikail. Pagi itu, tak seperti biasanya, Mikail kelihatan murung dan menjadi pendiam. Melihat hal itu, aku pun lalu memberanikan diri untuk berkata, ‘Hei, Mikail. Kamu kenapa? Kamu tampak seperti lagi ada masalah hidup?'
‘Iya, nih, Dik. Aku lagi dilema banget. Di satu sisi, nanti malam itu, aku ada undangan rapat karang taruna dan biasanya itu baru selesai lewat dari jam sepuluh malam. Namun, di sisi yang lain, aku itu belum menyelesaikan tugas menyulam pelajaran tata busana dan seperti yang sudah kamu ketahui, besok pagi itu sudah harus dikumpulin di atas meja kerjanya bu Mirtha[1]. Aku sih, berharapnya ada cara agar aku tidak harus memilih satu dari keduanya, tetapi sepertinya itu gak mungkin’ jawab Mikail.
Aku diam saja, mencoba untuk menjadi pendengar yang baik.
Mikail menghembuskan napas panjang, lalu melanjutkan, ‘Dik, kalau seandainya itu kamu menjadi aku, kamu akan memilih yang mana? Ikut rapat karang taruna, atau mengerjakan tugas menyulam pelajaran tata busana?’
Untungnya, aku nerd. Aku tak hanya banyak membaca buku pelajaran sekolah, tetapi juga banyak membaca buku ilmu pengetahuan umum lainnya, sehingga aku tahu persis harus memilih apa jika seandainya saja aku menjadi Mikail. Maka, dengan mantap, aku menjawab, ‘Mikail, masalah kamu ini bisa diselesaikan dengan cara menggunakan pendekatan skala prioritas’
‘Pendekatan skala prioritas? Apa itu, Dik?’ tanya Mikail.
‘Skala prioritas adalah sebuah cara yang digunakan untuk mengurutkan kegiatan berdasarkan tingkat urgensi-nya, dimulai dari yang paling terpenting sampai yang paling gak penting’ jelas aku.
‘Hooo’ respons Mikail, sambil mengangguk-anggukan kepala.
‘Sekarang, kamu jawab pertanyaan aku ini’ lanjut aku. ‘Menurut kamu, sebagai seorang PELAJAR, mana yang lebih penting antara MENGERJAKAN TUGAS SEKOLAH, atau ikut rapat karang taruna?’
Aku pikir, dengan memberikan penekanan suara di kata, ‘Pelajar’ dan ‘Mengerjakan tugas sekolah’, bisa membuat Mikail menjadi tercerahkan, lalu membantunya untuk menjawab dengan mantap, ‘Ya, tentu saja lebih penting mengerjakan tugas sekolah. Karena itu adalah kewajiban aku sebagai pelajar, dan sedangkan, ikut rapat karang taruna itu sifatnya sunnah muakkadah. Sangat dianjurkan untuk dilakukan. Namun, tetap, yang utama itu adalah kewajiban’. Namun, kenyataannya tak begitu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Mikail malah dengan mantap menjawab, ‘Ya, tentu saja lebih penting ikut rapat karang taruna, karena selain, mendapatkan makan-minum gratis, aku juga bisa terus membina hubungan baik dengan tetangga. Punya hubungan baik dengan tetangga itu penting lho, Dik!’
Hmm, kalau dipikir-pikir, betul juga omongan Mikail. Punya hubungan baik dengan tetangga itu memang penting. Karena dengan berhubungan baik dengan tetangga, kita itu bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai, dan bahkan, bukan tidak mungkin, kita juga akan sering mendapatkan kiriman makanan/minuman gratisan dari tetangga[2]. Tetapi, sebaliknya jika hubungan kita dengan tetangga itu buruk, maka selain, gak akur dan cekcok melulu, kita juga bahkan, bukan tidak mungkin jika terjadi musibah di hidup kita, misalnya seperti ada kebakaran kecil di dapur rumah kita. Mereka, para tetangga, bisa-bisa langsung dengan cepat dan sigap datang berbondong-bondong ke rumah kita. Lalu, mereka bekerja sama, saling tolong-menolong, gotong-royong, dan bahu-membahu menyirami apinya itu pakai bensin, hingga menjadi berkobar-kobar hebat dan melahap habis seisi rumah kita. Lalu, end up-nya, kita menjadi gembel dengan sangat menggenaskan. Suram.
Karena khawatir Mikail mengalami hal buruk yang semacam itu, aku pun lalu dengan berbesar hati berkata, ‘Ya, udah, begini aja, Mikail. Bagaimana kalau kamu ikut rapat karang taruna, dan sedangkan, tugas menyulam kamu itu biar aku yang ngerjain? Gimana? Apa kamu setuju?’
‘Kamu serius, Dik?’ seru Mikail, tampak kaget, tak percaya.
‘Iya, aku serius!’ jawab aku, mantap, sambil menganggukan kepala.
‘Alhamdulillah ya, Allah![3]’ kata Mikail, yang lalu diikuti dengan helaan napas lega. Lalu, melanjutkan, ‘Dik, terima kasih banyak, ya?’
‘Iya, sama-sama’ jawab aku, sambil tersenyum.
Mikail lalu ngeliatin muka aku dengan tatapan penuh arti dan berkata, ‘Dik, kamu tahu gak sih, kamu itu teman yang luar biasa?’
‘Enggaklah, Mikail, aku gak luar biasa. Aku itu cuma teman yang biasa-biasa saja. Nothing special, sama seperti yang lainnya’ elak aku, berusaha tetap rendah hati[4].
‘Enggak, Dika’ kata Mikail, sambil menggelengkan kepala sekali. Lalu, melanjutkan, ‘Kamu itu teman yang luar biasa. Kamu peduli, perhatian sama teman, tidak egois, murah hati[5], dan bahkan, sekarang, kamu rela berkorban demi untuk lebih mementingkan kebahagiaan aku seperti ini. Kamu tahu, Dik? Bahkan, bagi aku, sekarang, kamu itu sudah selayaknya seperti pahlawan’
‘Pahlawan?’ reaksi aku, sok cool. Padahal, hati aku sudah membumbung tinggi dan berbunga-bunga.
Mikail menganggukan kepala, lalu berkata. ‘Iya. Karena tanpa adanya pertolongan dari kamu, besok, aku pasti akan mendapatkan hukuman dari bu Mirtha karena tak menyelesaikan tugas menyulam aku’
‘Hmm,’ kata aku, merenungi kata-katanya sejenak. Lalu, mengangguk-anggukan kepala dan berkata, ‘Iya, kamu benar. Aku memang pahlawan’[6]
‘Ya,’ sahut Mikail, yang lalu diikutin dengan angguk-anggukan kepala.
‘Oh, ya, ngomong-ngomong soal pahlawan’ sambung aku, excited. ‘Apa aku sudah cerita bahwa aku pernah mendonorkan darah aku di PMI[7]?’
‘Um, belum sih,’ jawab Mikail, sambil menggelengkan kepala.
Aku lalu bercerita, ‘Jadi, waktu itu aku dengan kesadaran diri sendiri pergi ke PMI dan mendonorkan darah aku sebanyak 350 cc’
‘Oh, wow! That’s huge, Dik! Awesome!’ seru Mikail, tampak kagum.