Dari Sabang sampai Merauke.
Bukan bom. Bukan peluru. Bukan gempa.
Tapi layar.
Layar ponsel menyala dalam genggaman tangan-tangan yang lelah. Layar laptop berkedip di meja-meja kantor yang sunyi. Layar videotron di bundaran kota memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menganga. Bahkan layar mesin slot tua di pinggir pasar ikut menampilkan pesan yang sama.
The Octagon.
Di bawahnya, daftar nama. Bukan sekadar nama. Foto. Alamat lengkap. Aliran dana. Rekening. Perusahaan cangkang. Bahkan tanggal dan jam transfer.
Konsorsium judi online terbesar di Indonesia mulai runtuh dalam satu malam.
Tanpa peringatan. Tanpa ampun.
Di sebuah rumah mewah di kawasan perbukitan, hanya butuh tiga puluh detik bagi pesan itu untuk mengubah segalanya.
Seorang pria paruh baya sedang duduk santai di paviliun halaman belakang. Sandal jepit. Celana pendek. Kopi tubruk di tangan kiri, ponsel di tangan kanan.
Wajahnya tidak berubah saat membaca.
Dia sudah terlalu lama di posisi ini untuk panik.
Dengan gerakan yang sama santainya seperti memesan kopi, dia menekan satu nomor tersimpan.
Suaranya pelan. Nyaris bisikan.
"Bro, amankan ya."
Dari seberang sambungan, suara laki-laki menjawab dengan cepat. "Siap pak bos. Aman terkendali. Hanya butuh waktu sepuluh menit."
Pria paruh baya itu tersenyum. Bukan senyum lega. Senyum bos yang tahu anak buahnya takut padanya.