Malam itu, setelah pemberitaan besar mengguncang negeri, delapan orang di delapan sudut kota berbeda melakukan hal seperti biasa. Mereka tidak saling kenal. Mereka tidak tahu kalau suatu hari nanti nama mereka akan berjejer di daftar yang sama. Tapi untuk saat ini, mereka sibuk dengan masalahnya sendiri.
Di atap parkiran bekas, Kinoe menyusun rute balap liar sambil memakan roti tawar yang sudah agak basi.
Ayahnya polisi. Perwira menengah yang setiap hari di TV bicara soal pemberantasan judi online. Tapi di rumah, ayahnya diam ketika nama-nama besar disebut. Kinoe muak. Tapi diam-diam, dia tahu dia tidak sendirian.
Ponselnya bergetar. Bukan dari ayahnya. Pesan singkat dari nomor tak dikenal:
"Tikungan ketiga malam ini basah. Hati-hati."
Kinoe mengerutkan kening. Siapa yang tahu tikungan ketiga basah?
"Siapa ini?" balasnya.
Tidak ada jawaban. Pesan itu sudah hilang dari kotak masuk.
"Gila," gumamnya. "Mulai kurang tidur."
Di pinggir jalan depan Alfamart, Kenzo membungkus peralatan sulapnya.
Baru saja selesai menghibur tiga tukang ojek dan satu kucing liar. Hasilnya: lima ribu rupiah, sepotong tahu goreng, dan seekor kucing yang sekarang ngikutin ke mana-mana.
"Lo tau gak," kata Kenzo pada kucing itu, "sulap itu seni membohongi mata. Kayak ayah gue kalau pidato di TV soal pemberantasan korupsi."
Kucingnya diam.
"Gue gak bisa benci ayah gue sepenuhnya. Karena tanpa duit hasil 'sokongan', gue gak punya modal beli kartu sulap impor."
Kucingnya menguap.
"Tapi gue tetep benci."
Kucingnya mulai pergi.
"Ya udah. Gue benci sendirian."
Ponselnya bergetar:
"Ajang sulap terbesar Asia. Dua bulan lagi. Daftar."
Kenzo membaca. Lalu tertawa. "Hoax."
Tapi dia tidak hapus pesan itu.
Di sebuah bar kecil yang temaram, Farah duduk sendiri dengan segelas whiskey dan sebatang rokok di tangan.
Merokok bukan masalah buatnya. Penampilan juga bukan masalah. Farah bisa jadi siapa saja — eksekutif, artis, ibu rumah tangga, wanita malam. Itu keahliannya.
Tapi malam ini, dia jadi dirinya sendiri. Hanya satu malam dalam sebulan dia melakukan ini.
Keluarga Farah hancur bukan karena judi langsung. Tapi karena investasi bodong yang ternyata terafiliasi dengan human trafficking dan judi online. Ibunya hilang. Ayahnya depresi. Adiknya terpaksa putus sekolah.
Sejak itu Farah belajar: di dunia ini, untuk melawan monster, kamu harus bisa menjadi monster lain. Tapi jangan sampai jadi monster sungguhan.
Ponselnya bergetar:
"Kamu bisa jadi siapa saja. Sekarang saatnya jadi seseorang yang berguna."
Farah membaca. Rokok diisap. Lalu dia hapus pesan itu.
Tapi tidak sebelum dia screenshot.
Di kafe sederhana dengan segelas jus jeruk, Sena sedang membuka laptopnya.
Dia tidak pernah merokok. Tidak pernah minum keras. Tidak pernah pulang larang malam. Orang tuanya — pengusaha besar — bangga punya anak perempuan yang baik-baik.
Mereka tidak tahu Sena sudah membangun bisnis sendiri sejak 19 tahun. Bukan untuk pamer. Untuk membantu.
Dia membiayai beasiswa, modal usaha kecil, biaya pengobatan. Sena tidak catat berapa banyak dia memberi. Karena baginya uang bukan tujuan. Uang adalah napas untuk orang yang hampir mati.
Julukannya ATM Berjalan karena dia bisa mencairkan dana kapan saja. Tapi tidak seperti ATM biasa, Sena tidak pernah memungut biaya.
Ponselnya bergetar:
"Kami butuh lo. Bukan karena lo kaya. Tapi karena lo satu-satunya orang kaya yang tidak lupa kalau di bawah masih ada manusia."
Sena membaca. Lalu tersenyum kecil.
"Kirim lokasi."
Di kamar kos beraroma kopi instan dan kertas berserakan, Phino duduk di depan lima laptop.
Ayah, paman, pakde, kak ipar — semua pejabat. Semua koruptor. Terparah yang pernah terjadi di seantero alam. Phino tahu karena dia sendiri yang membongkar data mereka.
Data adalah kebenaran terakhir. Data adalah senjata terkuat.
Tapi makin dalam dia menggali, makin dia sadar: ada pola yang luput. Angka yang tidak dia pahami. Dan di situlah nama Afifa mulai muncul di radar-nya.
Wanita yang belum pernah dia temui. Tapi konon kemampuannya dalam analisa data melebihi Phino sendiri. Phino tidak percaya. Tapi diam-diam, dia ingin membuktikan.
Malam itu, ponselnya bergetar. Bukan pesan biasa. Tapi file data mentah — dengan satu kalimat:
"Ini yang luput dari matamu. Pelajari. Lalu cari Afifa."
Phino menatap layar. Untuk pertama kalinya, dia merasa kalah.