Foto itu masih ada.
Aku kira aku sudah membuangnya tiga tahun lalu. Ternyata tidak. Ia terselip di antara tumpukan kartu nama lama di laci meja kerjaku yang sudah berdebu. Kertasnya sudah menguning, agak terlipat di ujung.
Foto USG.
Di pojok kanan bawah ada tulisan tangan Aruna yang masih aku hafal weeks - calon princess kecil kita?
Tanganku gemetar.
Tiga tahun lalu, di kosan petak yang pengap itu, Aruna menunjukkan foto yang sama persis dengan mata sembab. "Aku hamil, Jar."
Dan jawaban apa yang keluar dari mulut laki-laki 23 tahun yang pengecut itu?
" Run. Aku belum siap mejadi Ayah. Gaji aku cuma cukup buat makan sehari -hari. Dan aku benar - benar belum siap sepenuhnya menjadi Ayah ataupun suami. "
Aruna tidak menjawab. Dia hanya menatapku lama, kemudian berkata "Aku nggak nyangka kamu sepengecut ini Jar, kamu nggak ingat ketika kita melakukan hal itu, kamu sendiri yang bilang kalau akan bertanggung jawab.Tapi apa sekarang! Kamu bilang belum siap! Semudah itu kamu mengatakannya? Lalu kamu pikir aku siap? Sama aku juga belum siap! Tapi apa ini kesalahan kita dan aku mau nebus itu dengan menjaga anak ini, kita sudah melakukan satu dosa besar jar, aku nggak mau lagi melakukan satu dosa lagi dengan nggak menerima anak ini. Oke kalau kamu belum siap, nggak apa- apa aku bisa besarin anak ini sendiri tanpa kamu."
Lalu Aruna mengambil tasnya dan akan beranjak pergi.
"Run, tunggu Run dengerin aku dulu." ujar fajar berusaha menghalangi Aruna pergi. Tapi Aruna menyeret koper kecilnya dan pergi.
Aku kira dia hanya ngambek. Paling besok balik. Ternyata aku salah.
Dia tidak pernah balik. Nomornya mati. Kosannya kosong. Utari, sahabatnya, bilang, "Pergi aja, Fajar. Kamu sudah membunuh dua orang malam itu."