Aruna berdiri mematung, mendengar suara itu. Suara familier yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Suara Fajar, pria yang pernah ia cintai sekaligus yang paling melukai.
Damar memandang Aruna dan Fajar bergantian lalu menyadarkan Aruna.
"Yang, kamu tidak apa-apa?"
Aruna tersentak dari lamunannya.
"Aku tidak apa-apa kok, Yang. Bagaimana Elok? Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa kok. Untung ada Mas ini yang membantu menangkap Elok, jadi Elok tidak jatuh. Terima kasih ya, Mas," ucap Damar, suami Aruna.
Aruna juga mengucapkan terima kasih, lalu mengajak anak dan suaminya pergi. Senyumnya dipaksakan. Ia ingin segera lari dari tempat itu.
Melihat Aruna beranjak pergi, Fajar mengucapkan kata yang membuat langkah Aruna terhenti seketika.
"Lama tidak bertemu, Runa. Kamu masih sama seperti dulu," ucap Fajar.
Aruna berdiri diam, mematung. Punggungnya kaku.
"Kamu kenal Mas ini, Yang?" ujar Damar bertanya kepada sang istri.
Aruna tidak langsung menjawab. Napasnya memburu.
"Yang, kamu bawa Elok dulu deh ke dalam, titipkan sama anak kafe sebentar. Sepertinya kita perlu bicara dengan Mas ini," kata Aruna dengan suara bergetar.
Damar mengangguk, meski dahinya mengernyit bingung. Ia mengantar Elok ke dalam kafe.
Kini hanya tinggal mereka berdua di gazebo belakang itu. Angin Kota Batu yang dingin tidak mampu mendinginkan suasana yang memanas.