Dapur Kedai Kopi Sendu sempit, hanya muat dua orang. Aroma kopi dan kayu manis bercampur bau bedak bayi Hasya.
Aruna menyeduh susu untuk Hasya. Batari mencuci botol Hasya yang baru saja kosong, tanpa disuruh. Seperti sudah kenal lama.
Damar mengintip dari celah pintu dapur. Ia siap melerai kalau ada drama. Tapi yang ia dengar bukan drama.
"Elok sudah lepas popok malam, Mbak?" tanya Batari sambil menggendong Hasya.
"Belum, Mbak. Masih ngompol kalau kecapekan main. Hasya gimana?" jawab Aruna.
"Hasya malah sudah nggak mau pakai popok siang, tapi kalau pup masih ngumpet di pojok," kata Batari, lalu mereka berdua tertawa.
Tawa ibu-ibu. Damar jarang mendengar Aruna tertawa selepas itu sejak seminggu terakhir.
"Elok makannya susah nggak, Mbak?" tanya Batari lagi.
"Susah banget, Mbak. Maunya telur dadar terus. Kalau Hasya?"
"Hasya maunya nugget. Sampai aku bosen goreng nugget."
Obrolan mereka melenceng jauh dari Fajar. Tidak ada satu pun kata "Fajar" disebut selama 30 menit.
Mereka bicara soal posyandu, harga susu yang naik, cara ngatasi biang keringat, sampai drama mertua yang komentar soal ASI.
Di ruang tengah, Elok dan Hasya tidur berdampingan di karpet, kelelahan main balok. Elok memeluk kaki Hasya. Hasya memeluk boneka Elok.
Damar yang mengintip, tiba-tiba matanya panas. Ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan: istri yang ia jaga mati-matian, ternyata butuh teman. Bukan musuh. Teman yang sama-sama jadi ibu.
Aruna menatap Batari yang sedang melipat selimut kecil Hasya.
"Mbak Batari, makasih ya, sudah mau datang jauh-jauh."
Batari menatap Aruna, matanya berkaca-kaca.