The One Who Stayed

J U N E
Chapter #2

Chapter 1 ; Just Me and My beautifully Chaotic World

Chapter 1

Just Me and My beautifully Chaotic World

        

Nashia Minara

Hello, morning semuanya….”

Jo melangkah masuk lebih dulu ke ruangan Divisi Marketing Communication dengan aura bersinar yang membuat orang-orang langsung melirik padanya – tanpa harus berusaha keras.

Aku berjalan di sampingnya, mengalungkan ID Card kepegawaianku ke leher sembari tersenyum kecil menikmati keceriaan Jo yang menyapa teman-teman sejawat dengan sapaan hangat.

Jovanka.

Dia adalah teman terbaik yang kutemukan di Bank National sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sini.

Seorang perempuan yang mengenal dirinya dengan sangat baik. Ia tahu persis bagaimana cara membuat dirinya terlihat menarik, dan tidak pernah sekali pun tampak ragu akan hal itu.

Jovanka atau yang bisa kupanggil Jo.

Seorang perempuan keturunan China Sunda dengan kulit putih bersih yang kontras dengan rambut panjang lurusnya yang kecokletan. Tubuh tinggi semampai, dibalut gaya busana yang selalu fashionable.

Hari ini ia memilih tampilan elegan feminine – kemeja krem muda terpotong longgar, kain scraf yang melingkar manis di leher, dipadukan dengan celana cokelat formal. Rambutnya dibiarkan terurai rapi.

Jo seseorang dengan daya pikat yang ceria dan menyenangkan, rasanya seperti pengimbang alami bagiku yang – well – lebih senang menjadi pengamat dalam diam. 

Beberapa rekan kerja sudah datang dan menempati meja masing-masing.

Sinar matahari pagi yang jatuh melalui jendela kaca yang besar memantul di permukaan meja kerja yang bersih. Pendingin ruangan mendesis pelan, menetralkan udara yang mulai dipenuhi aroma kopi hitam dan wangi parfum.

Divisi Marketing Communication, atau yang biasa kami sebut Marcom, selalu terlihat berbeda dari divisi lain di Bank National yang kaku, serius, dan “anak bank banget”. Marcom terasa lebih santai, lebih playful, dan penuh warna.

Kami diperbolehkan memakai jeans, kemeja flannel, bahkan sepatu kets – hanya kaos oblong yang dilarang. Mungkin karena pekerjaan kami terkait dengan ide, kreativitas, media dan cara menjual produk tanpa terlihat menjual.

Hari ini aku sendiri memilih mengenakan kardigan biru navy dengan potongan V-neck, dipadukan kemeja putih berlengan yang kugulung sampai siku. Ditambah celana kain berpotongan halus, ikat pinggang kulit tipis, dan flat shoes warna krem.

Rambut panjangku bergelombangku hanya kuikat asal kebelakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajah agar tidak terkesan terlalu kaku.

Hampir semua orang di ruangan ini berpakaian modis dan rapi dengan gaya kasual mereka masing-masing.

Dan mungkin karena itu pula yang membuat divisi ini selalu kebanjiran peminat, sekalipun pada kenyataannya, lembur dan bekerja bagai kuda tetap menjadi menu harian kami – sama seperti divisi lainnya di bank ini.

Aku dan Jo melewati ruang kaca milik Pak Gading, pimpinan divisi marcom.

Meski sudah memasuki usia kepala lima, tubuh Pak Gading masih tegap. Rambut cepaknya yang mulai memutih tampak kontras dengan pembawaannya yang “Anak muda” banget.

Saat kami lewat, Pak Gading yang sedang berdiri menghadap papan tulis yang dipenuhi post-it warna-warni – yang sekilas kulihat rencana event untuk enam bulan ke depan yang idenya berasal dari kami semua.

Menyadari aku dan Jo sedang melirik ke arahnya, Pak Gading menoleh lalu melambaikan tangan dengan senyum hangat bersahajanya. Kami serempak membalas lambaiannya dengan senyum yang sama – persis seperti anak kecil yang berpapasan dengan teman bermainnya.

“Tumben barengan?” tanya Adrian heran begitu kami sampai di kubikel kerja kami yang saling bersebalahan.

Adrian menghampiri dari arah pantry sambil menimang tumbler hitam.

 “Biasanya kesiangan lo, Jo,” godanya.

Adrian adalah tipe laki-laki bertubuh tinggi tegap, maskulin, selalu rapi dan wangi. Anak gym banget pokoknya.

Rambutnya tersisir klimis oleh pomade, dan aroma parfumnya bahkan sudah tercium dalam radius dua meter.

Can you imagine that?

Ok, whatever.

Maskulin level metropolis. Hal yang wajar, mengingat Adrian adalah pegawai pindahan dari kantor pusat Jakarta, kota metropolitan.

“Lagi rajin aja gue,” sahut Jo asal sambil mengibaskan rambutnya, lalu duduk di kursinya dengan senyum tipis.

Adrian tidak menanggapi. Ia merapikan ID card yang tergantung di kerah kemejanya sebelum menatapku.

“Nash, siang ini lo sendiri ya ketemu sama vendor,” ucapnya ringan.

“Hah? Kok gue sendiri? Bukannya sama lo, Ndri?” protesku spontan.

Bahuku langsung merosor lesu. 

Sorry, Nash,” Adrian menghela napas singkat. “Rapat evaluasi anggaran bulan ini dimajukan jadi pagi ini.”

Aku menoleh cepat ke sebelahku.

“Jo? Atau yang lain ngga ada yang bisa nemenin?”

“Gue hari ini harus keliling cabang,” sahut Jo cepat dengan nada menyesal. “Lanjutin kunjungan kemarin. Harus ngecek display produk yang baru launcing sekalian ketemu sama merchant.”

Lihat selengkapnya