The One Who Stayed

J U N E
Chapter #3

Chapter 2 ; No More Running Away, Time To Face It

Chapter 2 ; No More Running Away, Time To Face It

 

Nashia Minara 

Perjalanan ke kantor vendor kuhabiskan dengan mengetuk-ngetukkan jari di paha, menyalurkan kegugupan yang tak bisa kutahan.

Baru kali ini aku turun ke lapangan sendirian. Mau gimana lagi. Kami hanya bertiga dalam tim Brand & Corporate Communication, tetapi tugas terkadang datang di luar dari deksripsi pekerjaan.

Mentang-mentang kantor wilayah, tim Brand hanya diberi alokasi tiga orang.

Mobil kantor yang kutumpangi berhenti tepat di depan kantor vendor – sebuah rumah modern minimalis tanpa pagar, dua lantai, pintunya terbuka lebar. Beberapa motor, dua mobil terparkir rapi di halaman asri dan cukup luas.

“Pak, sebentar ya?” pintaku dari jok belakang. “Saya touch up dulu.”

Pak Hardi sedikit menoleh. “Baik, Mbak.”

Aku melepas ikatan rambut, membiarkannya terurai, lalu merapikannya dengan jemari. Rambut bergelombangku ini untungnya lembut dan mudah diatur. Lipstik warna natural kuoleskan tipis di bibir, disusul semprotan pelan parfum beraroma lily.

Aku siap. Aku bisa. Aku mampu.

Mantra yang selalu kuulang setiap kali memulai sesuatu.

“Pak, saya turun sekarang. Meeting-nya mungkin … satu jam.”

“Baik, Mbak.”

“Makasi ya, Pak.”

“Sama-sama, Mbak.”

Aku turun dengan tas dan dokumen di tangan.

Beberapa orang keluar dari kantor menyambut kedatanganku. Salah satunya Mas Fajar, sang pemilik vendor, yang lansung menyambutku hangat bersama beberapa stafnya.

Mas Fajar bertubuh tinggi besar dan bergaya santai dengan jins biru serta kemeja flannel. Rambut panjangnya dikucir rapi. Wajahnya terkesan sangar karena brewok tebalnya, tapi ia memiliki senyum yang hangat.

Ruang pertemuan Fajar Creative tidak besar, tapi nyaman. Mas Fajar langsung membuka presentasi desain backdrop dan gimmick[1]  promosi.

“Konsep utamanya Banking In Motion,” jelasnya. “Kami pakai gradasi neon magenta biar lebih hidup.”

Aku mengerutkan dahi.

“Warnanya tidak sesuai dengan brief, Mas.”

Benar juga kata Adrian. Suka ngada-ngada.

Fajar tertawa kikuk.

Suara besar yang menggelegar, membuatku dan stafnya tersentak kaget sebelum akhirnya kami sama-sama menahan tawa. Aneh rasanya melihat seseorang bertubuh sebesar dan berwajah sesangar itu bisa tertawa sekikuk, mengingatkanku pada Hagrid[2].

Aku menunjukkan palet warna di ponsel.

“Gunakan biru tua #002B5C sesuai brand guideline. Lebih elegan, lebih kredibel.”

Ia mengangguk, timnya mencatat.

Slide berikutnya menampilkan gimmick. Tumbler, totebag, dan pop socket [3].

“Desainnya bagus. Warnanya pas. Tapi logo terlalu kecil,” ungkapku menatap layar.

Mas Fajar segera mengganti slide.

“Bagaimana dengan yang ini?”

Mataku menyipit teliti, refleks memajukan tubuh.

“Lebih pas. Tagline harus dicetak juga. Tapi jangan di bawah logo. Letakkan di belakang.”

Lihat selengkapnya