The One Who Stayed

J U N E
Chapter #4

Chapter 3 ; Sometime, You Just Have To Accept How The World Plays Out

Chapter 3 ;

Sometime, You Just Have To Accept How The World Plays Out

 

Damar Hamish

Kedua kaki melangkah tenang memasuki ruang Divisi Audit Internal, disambut pendingin ruangan yang langsung menempel di kulit. Karpet navy membentang luas, meredam bunyi sol sepatu. Ruangan ini memang dirancang untuk tenang : Ruang konsentrasi bagi kepala-kepala yang bekerja tanpa gangguan.

Aku berjalan melewati beberapa rekan kerja yang sudah tenggalam di balik layar masing-masing. Beberapa ada yang baru datang menyapa singkat, lalu kembali ke dunia mereka sendiri.

Divisi Audit Internal terbagi menjadi lima tim. Setiap tim terdiri dari tiga orang, duduk di modul bersekat rendah dengan jarak lega antartim – cukup dekat untuk koordinasi, cukup jauh untuk tidak saling mengusik.

Pandangan mataku sempat menoleh ke ruangan berdinding kaca.

Pak Dirga, pimpinan divisi tengah berdiri di balik mejanya, membaca laporan dengan raut serius. Dari sanalah semua rencana audit disusun dan penugasan ke cabang-cabang di seluruh Jawa Barat ditentukan. Audit berkala tiga bulan ini sengaja digelar tanpa jadwal pasti, supaya cabang selalu waspada.

“Pagi, Zem,” sapaku saat tiba di area tim.

Zemi, perempuan berwajah blasteran Padang-Belanda yang cantik, tengah mengetik dengan kening berkerut.

Pingin gue setrika tuh kening.

“Ah, Mas Damar datang juga!” katanya lega, seolah sejak tadi ia menungguku.

Aku tersenyum.

“Kenapa? Mau dibellin sarapan apa pagi ini?” godaku sambil membuka ransel, mengeluarkan laptop dan berkas.

Zemi berdiri. Tubuhnya tinggi berisinya hampir setara denganku yang memiliki tinggi 185 senti, padahal Zemi memakai flat shoes.

“Bukan itu, Mas. Ada masalah,” katanya gelisah.

“Masalah apa?” tanyaku santai, meski rautnya cukup membuatku siaga.

Zemi menarik napas pendek.

“Mas Satria WA saya tadi pagi. Dia izin sakit. Asam lambungnya kambuh.”

Aku refleks menoleh ke meja Satria yang kosong dan rapi.

Kukira dia hanya telat.

“Mas Satria sudah WA Mas Damar?”

Aku langsung mengambil ponsel di saku tas ransel-ku.

Benar saja, ada satu pesan masuk dari Satria. Izin sakit. UGD.

“Duh Satriaaa…” gerutuku sambil menggaruk kening. “Semua berkas bukti audit kemarin ada di dia, kan?”

Zemi mengangguk.

“Ya, Mas. Semua berkas bukti audit kemarin ada dia, rencananya pagi ini mau kita copy untuk exit meeting. Tapi—”

Aku menghela napas, tubuhku mulai panik lalu melonggarkan dasi hitam di leher. Otakku langsung berputar cepat menghitung waktu, risiko, dan prioritas.

“Terus file aslinya?”

“Ada di laptopnya Mas Satria. Karena kan kemarin laptop mas Damar baru selesai di service.”

Ah, shit!

“Mas …” Zemi ragu, “Mas Satria bilang … dia mau berkas pakai kurir dari rumah sakit.”

“Apa?!” Aku menoleh tajam. “Dia pikir berkas bukti itu bungkus gorengan apa?!”

Zemi hanya diam, ikut bingung.

Aku melirik arloji di tanganku memperhitungkan waktu.

Panas.

Jas hitam yang kukenakan mendadak membuat suhu tubuhku terasa naik.

“Kita punya berapa waktu sebelum rapat?” tanyaku sambil bertolak pinggang.

“Dua jam.”

“Okay.” Aku menggaruk pelipis. Harus cepat. “Ruang rapat udah siap?”

“Sudah. OB bantu, konsumsi on the way. Tinggal berkas bukti aduit yang ada di Mas Satria.”

“Okay, bagus,” aku meraih ponsel. “Saya samperin ke rumah sakit. Kamu cek ulang ruang rapat, hubungi direksi dan sekretaris komite audit. Pastikan kesiapan dan keberadaan mereka.”

“Oke, Mas.”

“Satu lagi, mulai hari ini semua data audit, laporan, berkas bukti, semuanya, langsung kirim juga ke email tim kita,” pintaku. “Supaya kedepannya ngga ada kejadian kayak gini lagi.”

“Okay, Mas.”

Aku menepuk pundaknya sekilas, lalu melangkah cepat menuju lift sambil menelepon Satria.

Tersambung.

“Halo, Mas …” Suaranya terdengar sangat lemah di seberang sana.

“Eh, Boboho! Elo engga masuk?!” semportku langsung.

“Asam lambung, Mas … saya lagi di UGD. Kambuh pas mau banget pergi kerja,” rintihnya.

Aku berusaha menahan diri agar tidak meledak di koridor kantor.

“Kemarin makan mi ayam dua mangkuk elo masih sehat wal’fiat. Hari ini udah tumbang aja. Elo tahu gak hari ini hari apa?”

“Kamis, Mas.”

“BUKAN ITU!” Aku berhenti di depan lift, menekan tombol berkali-kali padahal sekali juga cukup.

“Mas, biasa aja suaranya. Perut saya yang sakit, bukan telinga.”

Pintu lift terbuka. Aku masuk bersama beberapa staf, menyapa singkat dengan senyum tipis formal.

“Hari ini EXIT MEETING AUDIT!” tekanku langsung melalui pengeras suara ponsel, membuat beberapa orang di dalam lift refleks melirikku.

“Oiya, inget, Mas,” jawab Satria santai tanpa beban. “Makanya ini laptop saya bawa-bawa begitu juga dengan berkas bukti ke rumah sakit. Niatnya mau dikirim pakai kurir.”

Lihat selengkapnya