Chapter 4
And Everything About Her Just Makes Me Loss All Control
Damar Hamish
Tepat setengah jam, kami sudah berdiri berdampingan di beranda kantor divisiku. Keheningan malam dengan angin dingin terasa berbeda dari sebelumnya. Kehadiran perempuan di sebelahku ini mendadak mengubah atmosfer yang semula penahtmenjadi lapang.
Aku menengok, menatap Nashia yang berdiri di sampingku. Rambutnya terikat asal-asalan, menyisikan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah kecilnya. Matanya lurus menatap langit malam yang kelam. Aroma lily yang lembut menguar dari tubuhnya – menenangkan sekaligus menyegarkan.
Tunggu.
Kedua matanya sembab.
Jantungku mencelos pelan.
Kenapa dia?
“Hari ini ada exit meeting audit-nya Pak Setyo, ya? Gimana?” tanyanya tiba-tiba, memecah kesunyian sambil menoleh ke atahku.
Aku mengangguk pelan.
“Lancar. Seperti kasus-kasus sebelumnnya—dirumahkan lebih awal tanpa hak sama sekali.”
“Itu berat, sih. Apalagi setelah bekerja puluhan tahun,” ujarnya lirih. “Terus, gimana menurut lo sendiri? Sepadan?”
“Em.” Aku menatap langit malam, membenamkan kedua tangan ke dalam saku celana.
“Kalau boleh jujur, engga. Tetap bagaimana pun juga, hukum itu ya idealnya dipidanakan. Tapi Bank National selalu punya cara sendiri untuk menyelesaikan dan menghukum mereka, untuk bagian itu jelas bukan ranah gue.”
Aku tertunduk.
Jauh dalam diriku, aku merasa hukuman yang diberikan tidak adil. Tapi aku memilih menerimanya karena aku tidak punya kuasa untuk itu.
Tiba-tiba, terasa tepukan lembut di bahuku.
Aku menoleh. Nashia sedang menepuk-nepuk bahuku perlahan dengan senyum kecilnya. Gerakannya tenang, seperti dia sedang menyalurkan kekuatan yang sebenarnya justru – mungkin – dia juga butuhkan.
Dia tersenyum sangat lembut menatapku.
“It is okay, Damar. Lo sudah bekerja dengan baik. Good for you,” ucapnya, sebelum akhirnya menurunkan tangan dari bahuku.
Hal yang kecil dari dirinya, tetapi entah kenapa terasa menghangatkan dada.
Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Thank you?!”
Kami kembali dilingkupi keheningan. Angin malam berembus lagi, menerbangkan anak rambutnya.
Sampai akhirnya –
“Gue ketemu Rizal. Sama istri dan … anaknya.”
Kalimat itu meluncur pelan, nyaris berbisik. Namun, akhirnya membuatku mengerti semuanya. Alasan kenapa matanya sembab, dan alasan kenapa pundaknya malam ini terlihat begitu layu.
“So, how did it feel seeing his again?” tanyaku meliriknya. Dan demi mengalihkan ketegangan yang mendadak pekat, aku mencoba menyenggolnya pelan.
“Apa lo sadar ternyata lo masih … sayang?!” godaku sengaja.
Nashia langsung mendelik, menatapku jengkel.
“Stop capping, Amish!”
“Oh hahaha … Okay, Minara.”
Nashia ikut tertawa menatapku resah sambil menggeleng kepalanya pelan – sebuah tawa pendek yang terdengar sangat hambar di telingaku.
Lalu dalam hitungan detik dia kembali terdiam, sesaat dia menunduk. Sepasanga matanya terpaku pada ujung flat shoes yang dia mainkan di atas langit beranda.
“Terus …??” pancingku lembut menatapnya utuh.
“Hm,” dia mengangkat kedua bahunya. “Gue cuman merasa … tertinggal,” ucapnya lirih, masih enggan menatapku.
Aku memutar seluruh tubuhku, menghadap penuh ke arahnya.
“Teringgal?”
Nashia mengangguk pelan.
Lalu dia menatapku dengan sorot mata yang bingung, resah, ada ada kekhawatiran.
“Dua tahun – waktu yang ternyata lebih dari cukup buat dia untuk bergerak maju dan lalu membangun sebuah keluarga.” Dia terhenti sesaat, mengambil jeda menggigit bibir bawahnya.
“Sedangkan gue … dua tahun ini masih jalan di tempat yang sama. Dengan pekerjaan, dan masih sendiri,” lanjutnya diakhiri dengan senyum miris, seolah mengasihani dirinya sendiri.
Dia mengembuskan napas panjang, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap pembatas beranda, menatap jauh ke arah gemerlap lampu kota Bandung.
“Nash…” panggilku.
Ia menoleh, menatapku dengan sorot mata yang risau.
Saat ini, di mataku, dia terlihat begitu ringkih. Namun keras kepalanya membuatnya tetap berdiri tegak.
“Salahnya di mana?” tanyaku balik menatapnya.
“Maksudnya?”
Aku diam sesaat menatapnya, ada kebingunga dalam diriku kenapa dia mempermasalahkan hal ini.
“Selama dua tahun ini, lo bertahan,” ucapku lurus menatap sepasang manik matanya. “Rasa sakit lo – semua kebingungan, kekecewaan yang lo hadapi sendirian dan lo hebat bisa sampai di titik ini tanpa menarik orang lain di dalamnya.”
Aku salah satu saksi mata yang melihatnya bagaimana ia menjalani hari-harinya setelah putus dari Rizal. Dia tidak banyak mengeluh lebih sering menyalahkan dirinya sendiri, lalu setelah itu dia akan susah di cari saat jam makan siang, dan aku menemukannya di tangga darurat, menangis di sana – sendirian.
Ini pertama kalinya, aku melihat seseorang begitu patah hati.
Dan saat itu aku sadar, sakit hati yang Nashia rasakan sama besarnya dengan harapn dan rasa cinta yang dia titipkan pada si Cucunguk satu itu.
“Bahkan waktu lo lagi patah hati, baru beberapa hari setelah lo putus dari si Cucunguk itu, lo masih ada buat gue yang lagi hancur. Dan itu luar biasa, Nash.”
Nashia terdiam menatapku.
Kedua matanya mulai mengenang, tetapi dia mengatupkan rahangnya kuat-kuat, menolak untuk runtuh di depanku.
“Lo udah maju, Nash,” ucapku sambil menyunggingkan senyum paling tulus yang kupunya. “Hanya saja, cara dan jalan yang lo tempuh berbeda dari kebanyakan orang. Dan itu engga apa-apa banget. Engga ada yang salah.”
Sepasang matanya terhenti menatapku, dia diam sejenak dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan makna. Namun perlahan, wajahnya melembut tenang dan seuntai senyum kecil terhias di bibir kecilnya.
“Setelah ketemu dia tadi, gue akhirnya sadar kenapa rasa sakit yang gue rasain bertahan cukup lama. Kenapa selama dua tahun ini gue bisa semarah dan sekecewa itu sama dia.”
“Jadi menurut lo kenapa?”
Nashia mengalihkan pandangannya dariku kembali menatap langit malam.
“Putus atau patah hati itu salah satu risiko yang harus siap kita terima saat kita memilih memulai hubungan dengan seseorang. Gue tahu itu.”
“Betul,” aku mengangguk.
“Tapi yang enggak bisa gue terima adalah caranya.” Ia menjeda kalimatnya, meremas jemarinya sendiri. “Gue diputusin – ditinggalkan begitu saja lewat sebuah pesan pendek. Tanpa penjelasan, tanpa aba-aba. Rasanya—hubungan dan rasa sayang yang kami bangun seolah nggak ada artinya. Kayak dibuang gitu aja ke tempat sampah. Yang tersisa di kepala gue Cuma seribu pertanyaan yang nggak pernah ada jawabannya.”
Ditinggalkan begitu saja – dengan seribu pertanyaan tanpa ada jawaban.
Dadaku terasa berat saat mendengarkan kalimat itu.
Membuatku sesaat tertunduk.