Chapter 5
Sometimes, I feel Like An Outsider Amidst The Warmth Around Me
Nashia Minara
Sabtu pagi dengan langit yang cerah.
Kami semua – anak-anak Divisi Marcom – sudah berkumpul di halaman pakir bank National yang sudah disulap menjadi venue semi-outdoor. Sebuah panggung ukuran sedang berdiri elegan di tengahnya, lengkap dengan peralatan full band, dilapisi kain putih dan navy untuk logo Bank National – persis seperti yang kami minta pada Mas Fajar.
Di atas panggung, Pak Gading, bapak divisi kami yang terkenal tegas namun menyenangkan, tengah memberikan arahan di atas panggung.
Kami semua berdiri berkerumunan, mendengarkan sapaan dan penjelasannya tentang acara hari ini. Beliau tidak lupa mengucapkan terima kasih karena Sabtu kami diganggu. Bagi kami, tidak masalah, asal hitungan uang lembur tetap berjalan lancar.
Mataku menyusuri seluruh venue, menatap deretan pohon lebat yang mengitari halaman parkir di samping kantor. Di sisi kiri panggung, backdrop besar membentang dengan tagline utama : “Satu Langkah Digital Untuk Masa Depan Finansial.”
Aku tersenyum lega. Ada rasa puas yang membuncah saat melihat hasil kerja kami selama beberapa bulan ini yang akhirnya terbentuk nyata.
Lembur sampai dini hari, revisi yang tiada habisnya, bahkan ada hari di mana kami tidak pulang sama Sekali dan memilih menginap di kubikal kantor. Begitulha ritme hidup kami setiap kali mengadakan event besar.
Dan sebagai panitia, kami semua mengenakan seragam baju navy bertuliskan e-Saving Crew.
Setelah Pak Gading selesai. Adrian naik ke atas panggung sebagai ketua penanggung jawab. Dia berpidato singkat lalu kami segera dibubarkan untuk kembali ke tugas masing-masing sebelum gerbang venue dibuka.
Aku dan Jo kebagian mengecek gimmick dan suvenir, jadi kami langsung berdiri di area paling depan – meja registrasi. Venue perlahan mulai ramai dengan rekan-rekan sekantor berlalu lalang, ada yang melangkah cepat dengan wajah panik, ada yang berjalan santai.
“Nash, look at me?” tanya Jo tiba-tiba.
Aku langsung menoleh pada Jo.
Ia memanyunkan bibir yang berpoles lipstik merah menyala, lalu tersenyum sambil menaikkan alis.
“Cantik. Merah gitu bikin elo keliatan—sexy,” ujarku sambil merapikan helai rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
Warna apa pun memang selalu cocok di kulit putihnya yang bersih.
“Aaaa, thank you, Hon?!” rajuknya manja sambil merangkul lenganku erat menyenderkan sesaat kepalanya di bahuku.
Aku tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk lengannya.
Setelah itu, kami kembali fokus mengecek gimmick yang tertata rapi di meja. Aku menghitung jumlah fisik barangnya, sementara Jo mencocokkan dengan laporan kertas di atas clipboard. Di atas panggung, beberapa rekan sedang mengecek sound system. Suara denum bas dan petikan gitar sesekali terdengar memekkan telinga.
Melihat Jo yang sibuk mencentang kertas, pikiranku mendadak melayang pada ceritanya beberapa hari yang lalu, tentang persiapan pernikahannya yang tinggal hitungan minggu.
Yup, Jovanka Alexasandra akan menikah.
Yeay!
Namun, Jo tengah menghadapi masalah yang cukup rumit. Masalahnya adalah perbedaan keinginan orang tuanya yang ingin dekor mewah dan megah, sementara Jo dan Mikel – calon suaminya – menginginkan yang simple tapi elegan.
“Jo, jadi gimana soal rundingan acara pernikahan lo?” tanyaku di sela-sela kesibukan kami.
Jo menghela napas napas panjang. Wajahnya seketika berubah pusing.
“Vendor dekor minta keputusan besok pagi, Nash,” jawabnya dengan kening mengkerut. “Family stuff always drains me and plus one-nya, gue sama Mikel sama-sama lagi banyak kerjaan. So, we haven’t really figured out a solution yet.”
Aku mendengarkan.
“Lo tahu kan, Nash, gimana Mamih sama Papih gue?!” lirik Jo. “I have told you everything how distant I am and my parents.”
Aku menganggukan kepala.
Jo pernah cerita bagiaman hubungan dia dan orangtuanya yang lebih memilih bekerja dibandingkan menghabiskan waktu bersama Jo – sejak Jo masih kecil. Sedangkan Kakak-kakaknya sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing – yang kedua kakaknya sekarang tinggal di luar negri.
“Me and my parents are pretty much strangers at this point,” Jo mendengus kecil. “Papih masih mending sih, kadang suka nanya kabar gue dan gimana kerjaan gue. Mamih? Beuh … jangan harap.”
Jo diam sesaat menatap kosong ke papah jalan dengan raut wajah sedih.
“Dan sekarang, mereka mau ikut camput, ikut andil dalam pernikahan gue. It’s honestly ridiculous.”
Jo mengetukkan pulpennya ke papan jalan dengan wajah resahnya.
“Mamih Papih tuh enggak paham. Acaranya outdoor, gimana caranya bisa keliatam mewah dan megah?” keluhnya.
”Si Mikel lagi, dia kan posisinya bos di kantornya, jadi harusnya bisa dong keluar bentar cek venue, catering. Lah gue? Cuman karyawan biasa. Mana bisa gue izin seenaknya. Langsung di- cut off gue sama bank kita tercinta ini.”
Aku mengangguk cukup memahami kepusingannya. Rintangan memang selalu ada, bahkan dalam niat baik.
“Have you tried talking to Mikel, Jo?”
“Not yet. Rencananya sih sepulang dari sini gue mau ngobrol sama Mikel,” ujar Jo menatapku dengan kepusingan di wajahnya. “Semakin dipendem semakin pecah kepala gue.”
Aku tertawa kecil menemukan wajah Jo yang begitu ekspresif.
“Great idea.”
“Malah ngobrol!”
Suara Adrian tiba-tiba terdengar.
“Kenapa? Mau nimbrung?” ketus Jo langsung memasang wajah jengkel.
“No Thanks. Wasting time,” sahut Adrian santai, lalu beralih menatapku. “Nash, gimana gimmick, konsumsi, media?” tanyanya padaku.
“Gimmick aman, konsumsi sudah masuk dan siap di tenda belakang. Media sudah diarahkan ke area pers,” jawabku.
“Good.” Adrian tersenyum, lalu melirik Jo. “Isyana datang tepat waktu, kan?”
“Aman. Mereka keluar jam sepuluh dari hotel.”
Adrian langsung terkejut dengan matanya membelak.
“Jam sepuluh? Mereka perform kan jam sebelas. Mereka engga check sound dulu apa?”
“Easy there, Chief,” senyum Jo singgung menatap Adrian. “Mereka udah check sound tadi malam.”
“Lho, kok gue engga tahu?”
Jo langsung memasang wajah malas.
“Jo udah bilang, Ndri, semalam sebelum lo balik,” aku menyaut. “Elo cuma bilang oke, karena istri lo nelepon terus.”
Adrian seketika terdiam, lalu berdehem salah tingkah sambil mengusap tengkuknya.
“Oo... mungkin gue lupa.”
“Lupa sih lupa. Tapi kok keukeuh[1] banget,” gumam Jo.
Adrian memilih mengabaikan celetukan Jo lalu ia berbalik meninggalkan kami begitu saja.
“Control freak, he’s so annoying,” gumam Jo kesal menatap punggung Adrian yang menjauh.
“He is.”
Terasa getaran di saku celana jins yang kukenakan. Aku langsung mengambil ponsel dan melihat siapa yang menelepon.
Damar Hamish.
Aku segera menggeser tombol hijau.
“Nashia di sini,” sapaku.
Terdengar tawa kecil darinya.
“Ya sayang sekali, di kirain Dian Sastro yang ngangkat.”
Sekarang giliran aku yang tertawa.
Jo melirikku dengan ekspresi yang aneh.
“Di mana, Nash? Gue udah di depan kantor.”
“Hah? Ngapain?” heranku.
“Hm mau ketemu sama lo.”
Aku tertawa hambar atas lelucoannya.
“Mau liat sampai mana hasil kerja lembur kalian,” ejeknya.
“Shit.”
Damar kembali tertawa.
“Gue baru selesai lari jadi mampir.”
“O…” aku bergumam pelan. “Gue sama Jo di meja registrasi.”
“Oke. I’m on my way. Wait for me, yup?”
“Of course. I’m not going anywhere. See you in a bit.”
“Love to hear that.”
Aku tersenyum kecil mendengar balasnnya dan lalu Damar menutup teleponnya.
“What’s with that huge smile just because Damar called you?” tanya Jo melirikku rugi dengan suaranya terdengar menggoda.
“What smile?! No. I’m not. Jangan berlebihan deh, Jo.”
“Whatever,” gumam Jo dengan eyeroll-nya.
“Damar lagi di sini, katanya dia mau nyamperin kita.”
“Tumben banget. Biasanya dia paling malas kalau di suruh datang ke acara keramaian kantor kayak gini.”
Aku mengangkat kedua bahuku. Aku pun heran dibuatnya.
Lalu, seolah teringat sesuatu. Jo langsung mendekatkan wajahnya padaku. Dia bercerita kalau beberapa hari yang lalu Damar sempat ingin dikenalkan dengan teman Mikel yang berprofesi sebagai seorang model. Dan dengan tegas Damar menolaknya.
Ribet, katanya.
Aku hanya terdiam mendengarnya. Alasan yang persis sama dengan yang Damar katakana padaku di beranda kantor malam itu.
Pikiran kami berdua mendadak sibuk menebak-nebak tentang alasan sebenarnya di balik sikap Damar selalu menolak dikenalkan dengan perempuan.
“Apa Damar belum move on ya dari Intan?!” tebak Jo.
Aku langsung menoleh dengan kaget.
“Intan? Emang Damar pernah pacarana serius?”
Jo langsung menatapku.
“It’s been so long, actually,” jawab Jo. “Mereka pacaran dari SMA sampai semester akhir. Dan setelah itu, Damar memang engga pernah pacarana serius sama siapa pun.”
Aku terkejut mendengarnya.
Aku belum pernah mendengar tentang ini.
“Sayang banget, udah lama pacarana tapi putus gitu aja.”
Jo menganggukan kepala.