The One Who Stayed

J U N E
Chapter #7

Chapter 6 ; When I'm Tired, The Loneliness Just Crawls

Chapter 6

When I’m Tired, The loneliness Just Crawls

 

 

Nashia Minara

Aku melangkah menyusuri Jalan Braga yang perlahan mulai ramai. Pejalan kaki berlalu-lalang di atas trotoar batu, sementara deretan kendaraan memenuhi jalanan. Lampu-lampu kafe dan pertokoan menyala terang. Suara tawa, obrolan, klakson, dan musik jalabab bercampur menjadi satu–menggulungku ke dalam pusaran keramaian, namun justru menenggelamkanku dalam kesunyian.

Langit senja tampak tenang di atas kota Bandung, memamerkan gradasi warna jingga keunguan yang indah. Sayangnya, ketenangan berbanding terbalik dengan isi dadaku.

Wajah-wajah di sekitarku tampak bahagia. Mereka tertawa, berjalan berdampingan, saling merengkuh.

Aku berjalan seorang diri di antara mereka dengan perasaan yang—kosong.

Langkahku terhenti tepat di depan toko es krim.

Aku membutuhkan yang manis, seperti es krim.

Jadi aku membeli es krim cone, mint jeruk dengan taburan choco chips.

Dan setelah es krim berada dalam genggamanku, aku melanjutkan langkah menuju studio sambil menikmati es krim cone ini. Kali ini langkahku melambat, dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.

Sesampainya di studio, dengan es krim yang sudah habis kulahap, aku melepaskan sepatu dan meletakkan paper bag di atas meja kayu.

Tubuhku menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan lampu yang menyala temaram.

Aku membalikkan tubuh dengan gelisah.

Ada kehampaan yang terasa kuat dalam hatiku.

Kehampaan yang terasa seperti lubang besar yang menganga, dan entah bagaimana cara menutupinya

Pandanganku jatuh pada dinding kamar.

Pada foto-foto yang terpasang.

Aku bersama teman-teman marcom.

Aku bersama Jo saat menjadi calon pegawai.

Aku bersama Jo dan Damar saat kami bertiga liburan ke Bali.

Aku bersama Ibu saat wisuda.

Lalu…

Fotoku bersama iyang.

Saat aku masih berumur tiga tahun, tengah digendong olehnya dengan gaun putih kecilku.

Iyang.

Sosok yang mengisi lubang dalam masa kecilku ketika Papah pergi, dan saat ibu terlalu sibuk bekerja.

Walaupun pada akhirnya…

Iyang pun meninggalkanku saat aku masih membutuhkannya.

Hatiku sesak mengingatnya.

Hingga saat ini, aku masih merindukan Iyang.

Kehangatannya.

Kelembutannya.

Lalu…

Lihat selengkapnya