Chapter 7
Me Against My Own Wild Thoughts
Nashia Minara
Para tamu berdiri dengan senyum yang merekah, menyambut kami yang melangkah memasuki pelataran taman.
Setiap langkah kaki kami menyentuh lantai kayu yang telah ditaburi kelopak bunga. Deretan kursi kayu berbalut kain putih gading mengapir jalur utama taman semi-outdoor ini, dihiasi rangkaian bunga putih, daun eucalyptus, dan baby’s breath yang anggun.
Di depan kami, Jo dan Mikel melangkah anggun, diiringi alunan manis gesekan biola dan piano dari panggung kecil di sudut taman.
Cuaca malam ini terasa sempurna. Langit Bandung bertabur bintang kecil, sementara cahaya lampu-lampu mungil menggantung di atas kepala kami – seolah semesta pun ikut merestui pernikahan ini.
Aku berjalan berdampingan dengan Damar. Tanganku mengalung dengan nyaman di lengan kokohnya. Langkah kami serempak, mengikuti irama pengantin tanpa perlu diatur. Tangan kananku menggenggam buket kecil berisi rangakain mawar putih dan daun hijau lembut– pilihan tema dari Jo.
Gaun bridesmaid yang kami kenakan malam ini sebenarnya cukup sederhana. Berwarna burgundy dengan potongan off-shuolder, aksen lipat manis di bagian dada, serta belahan tinggi di kaki kiri hingga ke paha setiap kali melangkah.
Anggun, namun menyimpan sedikit keberanian untuk memakainya.
This dress is just … so Jo.
Untuk melengkapinya, aku menambahkan anting-anting kecil berdesain modern dan sepasang sandal high heels nude bertali tipis. Rambut panjangku kuikat rapi ke belakang dengan poni samping yang kupotong lebih pendek dari biasanya.
Terakhir, Parfum lily kusapukan ringan di leher.
“Lo bener, Nash,” ucap Damar begitu saja.
Aku menoleh padanya.
“Benar soal?”
“This dress is really sexy, wajar sih lo ngerasa nggak nyaman.”
Aku menghela napas pendek, pandanganku kembali lurus.
“Right? I just … don’t feel confident at all. Gaun ini terlalu bagus untukku.”
“Tapi untuk bagian yang itu, gue engga setuju,” ungkap Damar yang suaranya terdengar lebih rendah.
Aku kembali menoleh kepadanya, dan menemukan Damar tengah menatapku dengan senyum kecil.
Lalu dia mendekatkan wajahnya kepada telingku, berhasil membuat aku terhenyak.
“You look gorgeous, Nash. It fits you perfectly …” Damar menarik wajahnya namun sepasangan matanya masih terkunci menatapku. “… and yeah, you are definitely – sexy.”
Suaranya terdengar rendah dengan senyum yang menggoda menatapku.
Napasku sesaat tertahan, kedua mataku menatap langsung pada manik kedua matanya.
Seuntai seenyum jail yang begitu kukenali menghiasi wajahnya yang bersih.
Sial.
Apakah dia menyadari betapa dia se-gorgeous dan se-sexy itu?
Damar malam ini bagai sebuah ancaman bagiku.
Setelan jas marun yang ia kenakan dengan kemeja putih di baliknya – bagian kacing atasnya dibiarkan terbuka, menyombongkan tulang lehernya yang kokoh – rambutnya ditata rapi ke belakang mempertegas rahang wajahnya yang tegas, dan damn it—
Aroma spicy dan wood yang menguar pelan setiap kali ia mendekat. Membuatku ingin … menangkapnya.
Ah ya Tuhan—
Aku dan pikiranku liarku ini sangat-sangat meresahkan.
Tenang, Nash.
Dia cuman, Damar.
Damar Hamish.
So, just breathe.
Get a grip, Nashia.
Don’t make your life any harder.
“Thanks … but save your compliments for later. Jangan bikin gue terbang ke langit ketujuh.”
Damar tertawa renyah dengan binaran kedua matanya menatapku.
“Okay, Nash. I will—"
Tapi, selama berjalan bersamanya, aku berharap penampilanku malam ini cukup sepadan untuk berjalan di sampingnya.
Setidaknya, tidak memalukan untuk berjalan bersamanya.
Langkah kami terhenti.
Di ujung altar, Jo dan Mikel berbalik menghadap ke arah kami. Para tamu undangan mulai bergerak mendekat, sementara barisan bridesmaid dan groomsman melebur rapi membentuk setengah lingkaran.
Mataku menangkap sosok Jovanka.
Ia begitu bersinar anggun seperti seorang putri dari negri dongeng. Gaun putih yang membentuk tubuh rampingnya berkilau cantik oleh pantulan mutiara dan payet mewah. Dan rambutnya ditata low ponytail dengan tiara bunga sederhana. Di sisinya, Mikel berdiri dengan sangat gagah dalam balutan jas putih bersih.
Melihat mereka hatiku mendadak hangat. Namun di saat yang sama, pelupuk mataku terasa basah.
Jo akhirnya benar-benar berada di titik ini, mengikat janji suci dan menjadi istri dari laki-laki yang teramat dicintainya.
Pagi tadi, saat prosesi pemberkataan, aku duduk di barisan kursi belakang.
Mendengar janji suci mereka diucapkan dengan suara bergetar haru, berhasil membuat dadaku sesak oleh haru.
Ada rasa bahagia, lega, dan entah kenapa dari mana datangnya … sebersit rasa takut ikut menyelinap di hatiku.
Aku takut akan jarak yang mungkin muncul di antara kami setelah hari ini.
Ya, sudah menjadi rahasia umum bahwa perempuan yang sudah menikah biasanya memiliki ruang gerak yang jauh lebih terbatas. Mereka tidak bisa sebebas dulu untuk sekedar bermain bersama teman-temannya.
Apakah setelah ini aku dan Jo masih bisa hangout bareng? Masih bisa liburan sama-sama?
Setetes air mata haru lolos dari sudut mataku. Cepat-cepat kuhapus dengan ujung jari. Aku tidak boleh menangis malam ini. Karena di atas semua itu, yang terpenting adalah Jo bahagia.
Damar perlahan melepaskan lenganku membuatku menoleh padanya. Dia melemparkan senyum kecilnya yang lembut – ternyata dia sadar akan perubahan emosi. Lalu dia menggeser tubuhnya untuk merangkul pundakku lembut. Sentuhannya terasa begitu ringan – nyaris samar – tapi cukup membuat napasku terhent di tenggorokan.
“Are you okay?” tanyanya pelan, merundukkan kepala di dekat telingaku.
Aku mengangguk pelan.
“Terharu aja,” bisikku jujur.
“Hm…” Damar menyunggikan senyum kecil yang cukup menenangkanku, lalu mengelus pundakku beberapa kali dengan ibu jarinya. “Me too.”
Kali ini aku menoleh padanya, menangkan kesedihan dalam kedua matanya yang tengah menatap Jo.
“Apa yang membuat lo sedih juga?”
Apakah dia patah hati?
Damar tersenyum kecil lalu ia menolehku, menatapku dengan binar lembut.
“It hurts. Karena hubungan kami engga akan sama lagi. She belongs to someone else now, Nash,” ungkapnya. “But honestly … I really am happy for her.”
Hubungan yang engga akan sama lagi?
Dia sudah milik seseorang?
Semua ucapannya … apa karena Damar sebenarnya memiliki rasa sama Jo?
Ya, tentu.
Laki-laki mana yang tidak akan tertarik sama Jo.
Ah, apa yang kupikirkan?
Acarapun resmi dibuka oleh MC, dan alunan musik kembali mengalun riang. Para tamu kembali pecah, membaur.
“Kita ke Jo, yuk,” ajakku setelah sesi formal mereda.
“Ayo.”
Saat kami mulai melangkah membelah kerumunan, telapak tangan Damar berpindah menyentuh pinggang belakangku – sebuah gestur ringan seperti penuntun jalan – dan itu membuatku menoleh padanya, Damar memberikan senyum kecilnya padaku, aku membalas dengan senyum kelegaan.
Melalui setiap sentuhan kecil yang diberikannya, aku merasa begitu aman.
Rasanya seperti ada seseorang yang dengan sigap menjaga dan menemaniku, menolak membiarkanku merasa asing atau gugup seorang diri di tengah riuhnya keramaian pesta.
Sesampainya di depan Jo, aku dan perempuan cantik ini langsung berpelukan erat. Sangat erat dan hangat. Isak tangis haru dan tawa bahagia bercampur aduk di antara kami.
“Gue ikut bahagia, Jo,” ungkapku berbisik lembut padanya.
“Thanks, Nashia.”
Jo melepaskan pelukannya, lalu melirik jenaka ke arah Damar yang berdiri di belakangku. Sementara aku melangkah mendekati Mikel, menjabat tangannya untuk mengucapkan selamat padanya, sekaligus menyelipkan pesan agar dia selalu menjaga dan menyayangi Jo dengan baik.
Di sisi lain, Damar langsung memeluk Jo dengan sangat erat. Tubuh mereka bahkan sampai bergoyang-goyang riang khas anak kecil.
“Oh Jo … I’m genuinely so happy for you.”
Senyum Jo merekah mendengar ucapan Damar untuknya, Jo memperat pelukannya pada Damar, mengusapnya dengan lembut.
“Thanks for everything, Handsome.”
“Dengan senang hati, Jo,” balas Damar. “Kuat-kuat deh lo ya buat malam pertamanya!”
Goda Damar tanpa dosa saat melepas pelukannya.
“Kuat gue dong, bro!” seru Jo penuh percaya diri.
Damar tertawa renyah mendengar jawabannya.
Senyum Jo mengembang dengan sempurna, menatap Damar dengan binaran kasih sayang yang sangat terlihat di sorot matanya.
Setelah itu, Damar menghampiri Mikel untuk mereka berpelukan ala laki-laki, lalu kami berempat menyempatkan diri untuk berfoto bersama di bawah jepretan kamera fotografer.
“Mari kita makan,” seru Damar selepas kami dari Jovanka dan Mikel yang sudah mulai berkeliling menghampiri para tamu.
“Iya, tapi pliss jalannya pelan-pelan,” pintaku. “Hak tinggi, nih.”
Aku melangkah dengan sangat hati-hati, sedikit mengangkat ujung gaun burgundy-ku agar tidak menggesek tanah berumput rapi yang agak basah oleh embun malam.
Mendengar permintaanku, Damar mendadak menghentingkan langkahnya. Ia membalikkan tubuh sepenuhnya, lalu menatapku lekat.
“Sini.”
Dia mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka tepat di hadapanku.