The One Who Stayed

J U N E
Chapter #9

Chapter 8 ; What should I do?

Chapter 8

What Should I do?

 

Nashia Minara

Seorang pria asing berdiri di hadapanku. Ia setinggi Damar – atau mungkin lebih? Yang jelas, aku harus memaksa kepalaku mendongkak cukup tinggi untuk bisa menatap wajahnya.

Rambut hitamnya tampak tebal dengan potongan sedikit gondrong, jatuh berantakan di sekitar dahi namun entah bagaimana tetap memberikan kesan kesan rapi. Garis wajahnya tegas dengan rahang yang kuat. Sudut bibirnya tampak melengkung pelan, membentuk seulan senyum yang … terasa agak dan sulit kuartikan.

Matanya datar menatapku, namun sorotnya begitu tajam dibingkai dengan bentuk alis yang seperti – angry bird.

Dan bagaimana cara dia menatapku, seperti sedang mengamati sesuatu yang menarik baginya. Itu membuatku tidak nyaman.

Dia mengenakan blazer gading longgar yang jatuh lembut di bahunya yang tegap, dipadukan dengan kaos putih sederhana, celana panjang senada, dan sneakers putih dengan aksen biru. 

Aku mengernyitkan dahi.

Wajahnya … rasanya aku pernah lihat di mana?

Isi kepalaku mendadak buntu.

“Siapa, ya?” tanyaku ragu-ragu.

Aku mencoba untuk tetap sopan dengan tetap menjaga jarak dengannya.

“Kamu nggak ingat saya?” balasnya dengan nasa suara yang sengaja dibuat terdengar kecewa.

Suaranya terdengar berat namun memiliki inotasi yang lembut.

Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menyakinkan bahwa memori di kepalaku tidak menyimpan data tentangnya.

Dia mengembuskan napas pendek lalu mengangkat kedua pundaknya dengan wajah pasrah.

“Ah… iya, wajar sih. Kamu lagi nangis soalnya. Jadi mungkin ... enggak ingat.”

Keningku kiat berkerut.

“Nangis?”

Dia menganggukan.

Sedetik kemudian tanpa kuduga, dia perlahan mencondongkan tubuh tingginya mendekat padaku dengan matanya menyempit, memperhatikan area mataku dengan sangat intim.

Aku terkejut dengan sikapnya, sesaat napasku tertahan. Rasa tidak nyaman langsung menjalar hingga aku refleks mundur. 

“Mata kamu udah engga sembab, padahal tadi nangis banget,” ucapnya dengan sorot matanya menyidik wajahku. 

Karena melangkah mundur begitu saja dan karena hak tinggiku yang berdiri di atas rumput bahas, tubuhku seketika kehilangan keseimbangan.

Namun sebelum tubuhku sempat terjatuh dengan cepat tangannya menangkap lenganku, mencengkeramnya kuat. Lalu ia menarikku hingga tubuhku menabrak dirinya, kepalaku menubruk dadanya. 

“Aw!” rintihku sambil memengangi keningku yang baru saja membentur bidang dada kerasnya.

Sakit sekali.

Aku seperti baru saja menabrak tembok yang keras.

Di atas kepalaku, terdengar helaan napas lega yang berembus pasrah darinya.

Kesadaranku kembali.

Merasakan telapak tangan asingnya yang masih menggenggam lenganku. Aku dengan cepat-cepat menarik diri dan melepaskan cengkeramannya, lalu dengan hati-hati mengambil jarak dua langkah ke belakang. 

Seketika wajahku terasa panas. Aku tertunduk kikuk. Dari sudut mataku, aku menyadari beberapa pasang mata tamu undang di sekitar kami tengah memperhatikan kami.

Lihat selengkapnya