The One Who Stayed

J U N E
Chapter #10

Chapter 9 ; When My Head and My Heart Are Already at War

Chapter 9

When My Head and My heart are Already At War

 

Damar Hamish

We are just friends, Nik. Same like him and JoI mean, Jova.”

Kalimat yang diucapkan Nashia di depan Anika tadi terus mengalir berulang-ulang, terngiang tanpa henti di dalam benakku.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapannya, karena memang itu adalah kenyataannya – tentang hubungan kami selama ini.

Sebuah pertemanan biasa, yang di mata Nashia tidak ada bedanya dengan hubungan persahabatan yang kumiliki dengan Jo sejak kecil.

Tapi—

Kenapa ucapannya menggangguku?

Kenapa aku kecewa mendengarnya?

Kenapa aku tidak suka atas penegasan status kami?

Sepasang mataku bergerak menangkap punggung Nashia. Tubuhnya membelangkangiku, entah apa yang tengah ia perhatikan. Namun, dari gerakan bahunya yang sedikit bergetar halus, aku tahu dia sedang kedinginan.

Kedua tangannya terangkat, memeluk tubuhnya sendiri demi menghalau embusan angin malam yang menusuk.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menanggalkan jas maruunn yang melekat di tubuhku.

“Elo pake ini,” ujarku pelan sambil menyampirkan jas ke atas pundaknya yang terbuka.

Nashia tampak terkejut.

Dia langsung membalikan tubuhnya menghadap ke padaku.

Di bawah temaram lampu pesta, aku bisa menangkap dengan jelas rona kegugupan yang menjalar di wajahnya yang mendadak merah. Pemandangan itu tanpa sadar membuat seulas senyum tipis di bibirku.

Entah kenapa aku menyukai wajah dan senyumnya yang gugup.

“Nanti lo sakit,” kataku, memberi alasan paling masuk akal karena merelakan jas maruunku yang hangat itu untuknnya.

Nashia mengangguk pelan.

Thanks, Damar.”

Aku mengangguk pelan, menahan senyum kecil lalu Nashia kembali membalikan tubuhnya.

Aku diam, merenungi tindakanku barusan padanya.

Kenapa aku begitu peduli pada perempuan ini?

Kenapa aku selalu mencemaskan banyak hal kecil tentangnya?

Bahkan belakangan ini, entah sejak kapan, mudah sekali bagiku membaca perubahan ekspresinya.

Aku mengembuskan napas pendek, memilih berdiri tegak dengan membenamkan kedua tanganku ke dalam saku celana, berusaha setenang mungkin meski isi kepalaku tidak menentu.

Sesekali, aku menatap punggungnya.

Tubuh kecilnya tenggelam dalam jas milikku.

Nashia sekecil itu. 

Pikiranku mendadak melayang jauh pada momen pertama kali aku merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. Kedua lengan tanganku bahkan mampu melingkari dan membungkus seluruh tubuh kecilnya dengan sangat mudah.

Dan anehnya—

Aku mengingat momen itu dengan detail dan jelas.

Rasanya baru kemarin itu terjadi.

Rasa hangat yang menjalar. Ketenangan yang mengalir. Serta sebuah rasa aman yang entah bagaimaan mendadak merayap di hatiku.

Sejak hari itu, aku menyadari satu hal—

Aku mulai menikmati setiap detik berada di dekatnya.

Aku menyukai waktu yang kuhabiskan bersamanya.

Awalnya, aku memberikan waktu dan kehadiranku untuknya sebagai ungkapan terima kasih karena menemaninya di masa beratku.

Tapi—

Entah sejak kapan kebiasaan yang kulakukan untuknnya menjadi sesuatu yang aku inginkan dan saat waktuku habis untuknya, aku merasa senang dan rasa nyaman yang sulit kujelaskan.

Damn it!

Apa sebenarnya yang sedang terjadi pada diriku?

Dadaku terasa penuh.

Aku butuh ruang, butuh udara untuk menjernikan semuanya.

“Nash…” bisikku, memegang kedua pundakknya. 

Punggung Nashia seketika menengang.

“Ya, Mar ?” jawabnya pelan.

“Gue mau ngerokok dulu …”

*

Aku berhasil menemukan sudut taman yang letaknya cukup sepi dan terisolasi dari pusat keramaian para tamu undangan.

Area ini tidak terlalu gelap.

Ada sebuah lampu taman yang cukup terang di atas tiang besi hingga menciptakan bayang siluet yang panjang di atas hamparan rumput hijau.

Aku merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok beserta pematiknya. Setelah menyalakan, aku langsung mengisap batang nikotin ini dalam-dalam.

Setiap kali aku mengembuskan asap putih ke udara malam, aku merasa seperti sedang melepaskan sedikit demi sedikit tekanan berat yang menghimpit di rongga dadaku.

Suara riuh rendah dari arah pesta pernikahan di belakang sana terdengar samar. Rasanya seperti ada dunia lain yang malam ini tidak perlu ikut kumasuki atau kupedulikan keberadaannya.

Hey, my favorite lonely pants.”

Suara perempuan yang sangat kukenal memecah keheningan.

Lihat selengkapnya