Chapter 10
“…And because only the one you love can truly hurt you.”
Nashia Minara
Apa ya… aku benar-benar menyukainya?
Aku merapatkan kedua telapak tanganku meremas jas maruun miliknya yang sekarang sudah kupakai – jasnya kebesaran di tubuhku membuat tubuhku seperti tenggalam di dalamnya.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan segala hal yang terasa asing yang mendadak menggedor-gedor dinding dadaku.
Sesak.
Terlalu penuh hingga rasanya menyakitkan.
Tepat di tengah riuhnya obrolan para tamu dan kebisingan musik pesta. Damar memutar kepalanya, menoleh tepat ke arahku berdiri.
Mata kami bertemu.
Sesaat, dunia di sekeliling kami seolah diredam menjadi sunyi. Kami hanya saling menatap – terpisahkan oleh jarak belasan meter yang membentang, terhalang oleh lalu-lalng orang asing di antara kami.
Di bawah gelapanya langit malam yang hanya diterangi oleh pendaran lampu gantung, jantungku berdetak dengan ritme yang teramat kencang.
Resah, sekaligus menyesakkan.
Aku memalingkan wajah.
Menunduk.
Mencoba menghitung embusan napas sendiri demi menenangkan diri.
Satu.
Dua.
Jemari tanganku mengepal.
Baru saja aku hendak mengambil langkah untuk menghampirinya. Damar justru sudah bergerak mengambil langkah lebih dulu dari Seberang sana.
“Tunggu di situ.”
Langkahku terhenti begitu saja. Perintah itu tak bisa kuabaikan.
Kakinya yang panjang melangkah dengan pasti ke arahku membelah kerumunan. Gelas sampanye masih di tangannya.
Sepanjang dia melangkah, sepasang matanya sama sekali tidak beralih dari wajahku.
Pada detik itu, rasanya seluruh semesta berhenti bergerak hanya untuk memberikan jalan baginya.
Aku kembali mengatur napas, mencoba mengendalikan debaran gila di dalam dadaku. Semakin dekat langkah kaki Damar mengikis jarak di antara kami, semakin cepat pula detak jantungku berpacu.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kewarasanku malam ini?
“Lo pasti nyariin gue, ya?” tanyanya, saat langkahnya berhenti tepat di hadapanku.
Dia menyunggingkan seulas senyum jailnya yang khas, namun entah kenapa sorot matanya malam ini tampak jauh lebih hangat dari biasanya berhasil membuat detup jantungku memelan.
Aku berdehem, mencoba melonggarkan tenggorokan yang tercekat.
“I always find myself looking for you, Damar,” ucapku begitu saja menatapnya.
Damar tertegun mendengar apa yang kukatakan padanya.
“Maksud gue—Gue nungguin lo, sendiri, dan ya sejak tadi gue nyariin lo,” aku meluruskan ucapanku dengan gugup. “So, where have you been?”
Dia diam sejenak, tidak langsung menjawab.
Lalu dia tersenyum kecil, senyum kecil yang manis.
“Sorry. Tadi ketemu temen dan keasyikan ngobrol.”
Aku mengangguk pelan.
“Next time, try not to keep me waiting for too long, okay?”
Bahkan di telingaku sendiri, uraian kalimat ini terdengar seperti pengharapan kepadanya.
Kenapa bisa-bisanya aku mengatakan ini?
“I will,” jawabnya singkat menatapku dengan sorot mata yang teduh dan suaranya terdengar berat dan dalam.
Ah, sial.
Aku dan pikiranku yang gila ini.
Kenapa malam ini semua hal dalam dirinya membuatku gugup?
Aku melirik sampanye di tangannya. Tanganku langsung meraih gelas itu, jemariku bersentuhan dengan jemarinya.
Sentuhan kecil.
Sengatan Listrik.
“Kayaknya enak,” ujarku, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan gejolak perasaan yang kian menggebu-gebu di dalam dada.
Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung membawa gelas ke bibirku dan menghabiskan sisa sampanye dalam satu tegukan.
Tenggorakanku terasa hangat seketika.
“Enak.”
“Wow!” Damar melebarkan matanya sedikit, tampak terkejut melihatku. “Sekali teguk langsung habis…”
“I really need this…” senyumkku kikuk.
Aku segera melangkah selangkah ke samping untuk meletakkan gelas kosong ini di atas meja saji terdekat.
Damar memperhatikan setiap gerak-gerikku, lalu mengangguk pelan sambil bergumam.
“You are okay, Nash?”
Aku mengatur napasku.
I’m not okay. Damar.
Dan semua ini karena lo.
Apa yang ingin kukatakan ini tertahan di tenggorakanku.
Aku menarik napas panjang, membiarkan alkohol tipis ini menenangkan saraf-sarafku yang menegang.
Dalam hitungan detik, aku merasa cukup tenang.
“I’m okay. Cuman … ya terlalu banyak orang bikin gue sedikit … gugup,” bohongku.
Damar mengangguk.
“You with me, Nash.”
Crap!
Aku sadar betul kalimat yang ia ucapkan tidak bermakna apa pun.
Tapi … ini terdengar manis di telingaku.
Dan aku tidak tahu bagaimana menanggapinya.
“Eh, kita liat pengantin dansa, yuk?” ajakku, berusaha mengabaikan ucapanku padaku, dan dengan cepat membalikkan tubuhku untuk memutus kontak mata kami sebelum dia membalas ajakanku.
“Ok—” sahut Damar di belakangku.
Di dalam balutan jas milik Damar yang masih setia menyelimuti tubuhku, arom parfume maskulin beraroma wood and spicey ini dengan sangat jelas di penciumanku. Wanginya benar-benar mengunci indra penciumku, membuatku merasa dia sedang didekap olehnya dari belakang.