Chapter 11
“Dad, can you stay here with me?”
Nashia Minara
Kedua kaki kecilku berdiri terpaku di atas hamparan rumput halaman. Mataku yang bulat menatap lurus ke arah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap, dia sedang melangkah lebar menghampiriku.
Wajah tegasnya tampak tidak asing. Rambut gondrongnya terikat rapi ke belakang, membingkai sepasang mata sayu yang memnancarkan binar yang hangat. Senyum lebarnya perlahan berkembang, terarah untukku.
Jantung kecilku berdetup kencang dengan mataku tak lepas menatap sosok yang selama ini kurindukan.
Bahkan, lidahku terasa kelu.
“Halo, Cantik,” sapanya ramah. Suaranya berat sedikit serak, beriringan dengan tubuh tingginya kini ikut terjongkok di hadapanku – untuk menyamakan tingginya denganku.
Bola mataku bergerak pelan, menyusuri setiap jengkal garis wajah yang selama ini hanya kulihat dalam sebuah foto bersama ibu.
Dan kali ini … sosok itu nyata. Berdiri tepat di depanku.
Sebelum aku memahami semunya, kedua tangan kokohnya sudah bergerak menangkap tubuh kecilku, menariku dengan lembut ke dalam pelukan dadanya.
Rasanya sedikit canggung karena ini pertama kalinya aku dipeluk olehnya. Namu nada kehangatan yang mengalir dari pelukannya. Ada aroma asing yang belum pernah kuhirup sebelumnya – bau tembakau.
Aku terdiam membeku.
Lalu, tanpa bisa kutahan lagi, air mataku luruh begitu saja membasahi pundaknya.
“Hei, kok anak yang cantik ini nangis?” tanyanya lembut.
Telapak tangannya yang lebar mengusap lembut punggungku, membuat dadaku yang semula sesak kini terasa penuh oleh luapan emosi – yang waktu itu aku tidak memahami bentuk emosi apa yang kurasakan.
Aku tidak menjawab. Aku benar-benat tidak tahu apa yang harus aku katakana.
Yang kurasakan dan kuingat saat itu adalah—
Akhirnya … untuk pertama kali di dalam hidupku, aku bisa merasakan bagaimana rasanya berada di dalam dekapan seorang ayah. Punggungnya terasa begitu lebar, sampai-sampai kedua tangan kecilku sama sekali tidak bertemu di belakang badannya.
Aku menempelkan pipiku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya.
Berdetak dengan lembut, terdengar begitu jelas.
Papah.
Ini Papahku.
Sosok yang selama ini kurindukan, kuimpikan dalam hari-hari yang kulewati. Dan hari ini, dia akhirnya benar-benar hadir bersamaku.
Setelah itu, kami pergi bersama.
Ayah, Tante Tuti—dan aku.
Sedangkan Ibu, bekerja.
Ya ibu memang sibuk dengan pekerjaannya.
Tante Tuti menyetir mobil Eyang Kakung. Aku duduk di pangkuan Ayah di jok depan.
Tanganku sibuk menunjuk apa saja di luar jendela, bercerita tanpa henti tentang hal-hal kecil yang kupikir penting.
Ayah mendengarkan. Sesekali tertawa. Sesekali mengusap rambutku.
“Minara senang sekolah, Nak?” tanyannya.
“Seneng, Pah. Tapi Minala engga suka belajal,” jawabku polos.
“Kenapa?”
“Antuk.”
Tante Tuti tertawa kecil.
“Kalau disuruh cerita, dia senang sekali. Kata gurunya, Minara punya bakat jadi penulis.”
“Oh ya?” Ayah menoleh padaku, matanya berbinra. “Bakat seni dari ayah, dong.”
Aku menatapnya kagum.
“Bakat seni itu apa ayah?”
“Hm … apa ya?!” Ia tersenyum. “Seperti ayah suka menggambar, bikin rumah. Dan seperti Minara yang suka bercerita.”
“Wah kelen!” seruku. “Ayah bikin lumah buat minala, ya?!”
Ayah hanya tersenyum.
Aku tidak tahu arti senyumnya saat itu.
Saat matahari mulai tenggelam, mobil kembali ke rumah Mbah Kakung.
Iyang sudah menungguku di halaman rumah.
Aku tertidur di perjalanan dalam pangkuan Ayah dan terbangun ketika Ayah menggendongku turun dari mobil.
“Minara, Ayah pulang dulu, ya,” katanya sambil berjongkok di hadapanku.
Aku mengucek mataku.
“Pulang ke mana, Ayah? Ini lumah ayah.”
Ayah tersenyum lembut. Tangannya mengusap rambutku.
“Ini rumah Minara dan ibumu. Rumah ayah jauh sekali.”