Chapter 12
A Million Sides Of You
Damar Hamish
Malam di sekitar Gasibu tidak pernah benar-benar sepi. Kendaran terus melintas, sementara lampu-lampu jalan menerangi deretan gerobak makanan yang dipenuhi orang-orang yang tengah menikmati makan malam mereka – sederhana tapi terasa hangat.
Baso tahu, batagor, nasi goreng, cuanki …
Napas terembus lega, udara malam yang dingin namun entah kenapa suasana seperti ini selalu menghangatkan.
Aku berdiri menunggu pesanan kami selesai – cuanki – dengan membenamkan kedua tanganku ke dalam saku jaket bomber hitam yang kupakai.
Kepalaku menoleh pada Nashia yang tengah duduk di kursi plastik dengan kedua tangannya berada di atas meja.
Pandangannya mengitari sekelilingnya dengan wajah yang tenang dan senyum kecil yang lembut.
Jas maruun sudah tidak lagi membungkus tubuhnya digantikan dengan hoodie cream – yang juga punyaku – yang sudah pasti kebesaran di tubuhnya.
Dan kedua kakinya tidak lagi beralaskan sepatu hak tinggi, digantikan dengan sandal santai – punyaku juga.
Sedangkan aku memakai sandal santai – mobilku sudah seperti lemari kedua bagiku – lembur tidak mengenal waktu dan aku selalu membawa cadangan pakaianku dan segala halnya di dalamnya.
Sejak tadi saat perjalanan pulang dari venue, Nashia lebih banyak diam.
Diam yang tidak kumengerti.
Diam yang sepertinya pikirannya begitu ramai.
Tapi sekarang …
Dia tersenyum lagi.
Raut wajahnya kembali tenang.
Dan entah kenapa itu membuat dadaku jauh lebih ringan.
Ingatanku terlempar kembali saat kami berada di lantai dansa, saat dia menarik dirinya dari rengkuhanku lalu pergi begitu saja dari lantai dansa.
Saat itu sambil terus mencarinya, pikiranku dipenuhi segala kemungkinan kenapa Nashia pergi.
Apa aku melakukan kesalahan hingga membuatnya tidak nyaman?
Atau –
Dia menemukan sesuatu dalam diriku yang bahkan aku sendiri masih mempertanyakannya.
Beberapa saat setelah aku menemukannya tengah mengorbol dengan Jo, aku mengajaknya untuk pulang. Dan saat perjalanan pulang, saat kami melewati gasibu, jajaran gerobak makanan membuat kami tergiur dan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti untuk makan di sana.
“A ieu cuanki na[1],” ucap Mang Cuanki memberitahuku.
“O ya A, siap.”
“Nu make[2] saos indomie soto, yang nu teu make[3] saos, sambel na hungkul[4], kaldu ayam.”
“Okay, A. Muhun[5] atuh.”
“Bisa teu a mawa na[6]? Panas soal na.”
“Ah – aman, a.”
Mang Cuanki senyam senyum menatapku.
“Deuh si aa meuni act op serpis pisan ka si teteh na,” goda Mang Cuanki sambil melirik Nashia yang ternyata tengah menengok ke arah kami lalu ia berdiri dari duduknya.
“Cinta pisan nyak, A?”
Aku sempat terdiam kikuk.
“Hah?”
Mang Cuaki tertawa kecil.
“Katingali pisan atuh.”
Masa?
Aku tidak tahu bagaimana harus merespon.
“Damar, biar sama gue aja,” Nashia begitu saja ada di sampingku. “Panas soalnya.”
“Oh iya, Nash—”
Sesaat aku melirik kembali pada Mang Cuanki yang tengah melirik kami secara bergantian dengan senyum senyam menggodaku.
Aku tertawa kecil sambil menggeleng kepala kecil.
“Kenapa?” tanya Nashia heran menatapku lalu menengok pada Mang Cuanki yang tengah melemparkan senyum kecil pada Nashia.
“Ngga apa-apa,” jawabku.
Nashia tersenyum kecil, mengabaikannya.
Sebelum Nashia mengangkat mangkuknya, ia menutupi kedua telapak tangannya dengan lengan sweater yang longgar untuk menjadi alas telapak tangannya dan lalu ia mengambil salah satu mangkuk dari papan gerobak cuanki.
“Lo mau minum apa, Mar? Sekalian gue pesanin.”
“Mineral aja.”
“Ok,” ucap Nashia. “Nuhun ya Mang?!”
“Sawangsulna, Teteh geulis.”
Nashia tersenyum kecil dan lalu ia meninggalkan kami dengan mangkuknya kembali ke meja.
“Geus mah bageur, geulis dei, A. Pantes atuh si aa cinta.”
Aku tertawa kaku.
“Yuk ah, Mang.”
“Selamat menikmati, A.”
“Nuhun—"
Dengan senyum yang masih anteng di wajahku, aku melangkah menghampiri meja – yang aku sendiri tidak tahu kenapa aku tersenyum seperti orang gila kayak gini – padahal tidak ada hal lucu yang kutemukan.
Langkahku terhenti sebelum sesampainya di meja.
Meja itu kosong.
Hanya ada mangkuk cuanki yang masih mengepul.
Nashi tidak ada.
…
Lagi.
“Di mana dia?” kedua mataku mengitari sekitar yang cukur ramai dengan orang-orang yang tengah nongkrong menikmati makan malam mereka.
Dia suka banget ngilang.
“Amish!!”
Aku langsung menoleh.
Bahkan sebelum otakku sempat mengenali siapa yang memanggilku.
Nashia berjalan menghampiriku sambil mengangkat dua botol air mineral di kedua tangannya, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang besar.
Aku hanya berdiri.
Menatapnya.
Hoodie krem yang kebesaran membuat tubuhnya tampak lebih kecil dengan bagian bawah dress maruunnya seperti rok panjang yang menyisir tanah – dia mengabaikan itu.
Beberapa helai rambutnya berantakan keluar dari ikatannya.
Dan dia tersenyum—
Senyum itu mengarah kepadaku…
Hangat dan lembut.
Suara kendaraan.
Obrolan orang-orang di sekitarku, perlahan menghilang.
Yang tersisa hanya dirinya.
Dan aku sadar …
Akhir-akhir ini mataku selalu mencarinya.
Dan setiap kali menemukannya –
Ada sesuatu dalam dadaku yang akhirnya bisa bernapa lega.
Kapan semua ini dimulai?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu—
Aku merasa tenang setiap kali menemukan perempuan ini berjalan kembali ke arahku.
Nashia…
*
“Wah terbaik banget sih ini!” serunya girang menatapku, sesaat setelah ia menghabiskan satu mangkuk cuanki sampai bersih.
“The best,” sahutku tersenyum menatapnya.
Nashia mengangguk kepala lalu mengambil botol mineral dan langsung menenguknya.
Mangkuk pun sudah habis hanya sisa kuah, aku mengambil botol mineral dan menegukknya.
Dan sesaat kami terdiam.
Kedua tangannya memeluk botol mineral dan ia menjatuhkan dagunya di atas tutup botol mineral. Kedua matanya yang masih berpoles make up menatap lurus ke depanku, pada lalulalang kendaraan di belakangku, dengan tatapan nalar yang jauh.
Aku berdehem sesaat untuk memberikan udara pada tenggorakanku, menahan senyumku saat menatapnya sedekat ini.
Aku pikir ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupku.
“Jadi … apa yang bikin lo nangis saat pemberkataan, Nash?” tanyaku.
Nashia melirik matanya untuk melihatku.
“Terharu,” jawabnya pelan dengan dagu masih menempel di atas tutup botol.
Aku mengangguk.
“Pas mereka mengucapkan janji suci, gue bisa ngerasain kesungguhan, harapan, sama cinta yang besar dari mereka berdua. Dan buat gue … itu indah,” jelasnya dengan senyum lembut menghias wajahnya.
“I get that feeling,” sahutku.
Nashia mengangkat dagunya dari tutup botol, melepaskan kedua tangannya dari badan botol dan menyimpannya di atas meja.
“Oh iya?” sontaknya. “Iya, sih. Pasti lo lebih terharu. You and Jo literally grew up together. Sama-sama sejak kecil.”
Aku tersenyum kecil, sekarang giliranku yang memegang botol dan memainkannya.
“Ya, kita tumbuh sama-sama, cuman pas SMA kita pisah, karena Jo pindah ke Kalimantan. And we ended up at the same university, beda fakultas.”
Aku tersenyum mengenang masa di mana kami begitu muda, bebas dan ringan.
Saat Jo pindah SMA, aku cukup sedih karena dia salah satu teman terdekatku. Walaupun selama itu, setelah kepindahannya, aku dan Jo tidak pernah putus komunikasi.
Banyak yang kulewati bersama Jo, pertemanan kami yang hangat dan menyebalkan.
Aku menghela napas pendek.
“Time files, Nash. And before you know it, here we are.”
Nashia mengangguk pelan dengan menatapku teduh.
“Lo pasti sayang banget ya sama Jo?”
Sesaat aku diam menatapnya, menelusuri wajahnya dan mencari arti apa yang tengah ia tanyakan ini.
“Yeah, I love her,” jawabku yakin dengan senyum kecil menatap Nashia.
Sesaat kedua mata Nashia tertunduk, senyumnya tertahan.
“She’s like family to me, Nash,” lanjutku tersenyum mengembang menatapnya.
Kedua matanya terangkat kembali untuk menatapku, dan lalu senyumnya mengembang tipis menganggukan kepalanya.
“Hey, Nash…”
“Ya?”
“You can say your wedding vows just like Jo did on her wedding,” ucapku membuka tutup botol.
“Oh iya?”
Aku mengangguk
“Mana bisa? Di kita kan nggak ada yang kayak gitu,” keluhnya dengan nada suara yang sedikit merajuk.
“Dibikin ada aja – perjanjian nikah setelah ijab.”
“Emang pasangan gue nantinya mau?”
“Kalau pasangan itu gue sih … gue bakal mau mau aja,” jawabku dengan ringan.
Aku baru saja hendak meneguk air dalam botol mineral ini sampai mendengar ucapan Nashia.
“Apa gue nikah sama lo aja?”
Uhuk!
Aku langsung tersedak hebat di tempatku duduk.
Air mineral yang baru masuk ke tenggorokanku mendadak menyembur kembali.
“Waduh!” Nashia langsug panik, tangannya mengambil tisu yang tersedia di atas meja.
Aku berdehem berkali-kali untuk meringankan tenggorakanku.