Chapter 13
Goodbye to My Peaceful Days
Udara pagi masih menyisakan dingin yang menggigit tipis di Lapangan Basket Saparua Bandung.
Napasku mengembun setiap kali kuembuskan pelan.
Beberapa anak terlihat berlari mengelilingi lapangan basket ini untuk pemanasan. Dan sebelum mereka mulai bermain, aku mengambil alih di salah satu sisi lapangan.
Bola basket kuputar di ujung telunjuk sebelumnya akhirnya kulepaskan ke lantai.
Melakukan dribel ringan dengan tubuh menghadap tiang basket yang menjulang tinggi.
Dan sejak aku terbangun pagi hingga detik ini, pikiranku masih dipenuhi oleh Nashia.
Tentang malam yang kami lewati setelah pesta pernikaha Jo.
Tentang langkah kami menelusuri lapangan Gasibu.
Tentang wajah dan senyumnya semalam tadi.
Tentang cerita-ceritanya.
Dan—
Tentang bibirnya yang masih menyisakan warna lipstik yang memudar.
Dan tentang diriku—yang akhirnya kehilangan kendali.
Aku menghela napas pendek, lalu melemparkan benda bundar ini ke atas ring.
Masuk.
Bola jatuh menghantam lapangan dengan cepat aku mengambil bola.
Dan melakukan dribel ringan kembali.
Setelah sekian lama, setelah bertahan-tahun lamanya aku kembali memegang bola basket. Jantungku berdebar dengan begitu cepat.
Ada rasa gugup yang sulit kujelaskan.
Jari-jariku masih mengingat tekstur kasar permukaannya. Kedua telapak kakiku masih mengingat langkah-langkah kecil yang kuambil sebelum melompat.
Dan dadaku … masih mengingat bagaimana rasanya merasa benar-benar hidup.
Beberapa tahun yang lalu aku memutuskan untuk berhenti. Bukan karena berhenti menyukainya.
Hanya saja … ada hal-hal yang harus lebih dulu kupilih untuk menjadi prioritas hidupku.
Dan nyatanya, hidup tidak memberiku ruang untuk mengejar hal yang paling kusukai.
“Apa yang lo paling suka dalam hidup lo?”
Pertanyaan Nashia terlintas begitu saja dalam benakku, membuat hantaman bola ke lapangan memelan.
“Tiba-tiba aja gue kepikiran … tentang apa yang sebenarnya gue suka, the one thing that makes me feel alive.”
Kedua mataku menatap penuh pada ring basket.
What is the one thing that makes me feel alive?
Sejak SMP hingga semester akhir kuliah, lapangan basket selalu menjadi tempat pelarianku, tempat di mana aku melampiaskan banyak emosi, tempat di mana aku merasa bebas.
Apakah ini masih menjadi hal yang kusukai?
Apakah aku bisa mendapatkan perasaan itu kembali?
Aku memantulkan bola sekali lagi.
Duk.
Suaranya masih sama.
Entah kenapa … itu saja sudah cukup membuatku tersenyum kecil.
“Maru!”
Seseorang memanggilku dengan lantang, membuat kedua tanganku menangkap bola yang tengah kudribel.
Aku menoleh kepadanya.
Aksa dengan peluh berjalan menghampiriku, rambutnya yang sedikit gondrong kini terikat asal, wajah lonjong bermandikan keringat membasahi kaos gombrannya.
“Dapat berapa keliling lo?” tanyaku menghadapnya penuh sambil memeluk bola basket.
“Gos-hu[1],” jawabnya dengan napas terengah dengan kedua tangannya di samping di sisi pinggangnya.
Aku melakukan drible kembali tersenyum mengejek padanya.
“Jadi engga jadi nih one-on-one-nya?!”
“Iya, mada ikeru[2]!” yakin Aksa berjalan mendekatiku lalu mengambil bola basket dengan cepat dari tangannku. “Lagian, gue yang ngajak. Dan gue kangen liat lo kalah.”
Aku tertawa singgung.
“Omae no ho ga makeppanashi datta daro[3],” senyumku mengejek padanya.
Aksa tersenyum singgung sambil mendribel bola basket.
“Then back it up!” tantangganya langsung melemparkan bola basket padaku dengan keras.
Aku melempar bola ke arah Aksa.
Ia menangkapnya dengan satu tangan, lalu melemparkannya kembali kepadaku sebagai tanda permainan dimulai.
“Check.”
Aku menangkap bola, lalu langsung mengambil posisi menyerang.
Tubuhku masih mengingat caranya dengan baik.
Lalu aku mengambil posisiku sambil mendribel bola.
Aksa berdiri membelangkangi tiang basket, menghadapku dengan sikap defense, dan aku berhadapan dengannya sudah mengambil ancang-acang sambil mendribel bola.
Aku melempar bola dengan lompatan tinggi
Bola melambung ke udara, begitu jauh, Aksa melompat jauh lebih tinggi hingga ia cepat meraihnya.
Ia langsung bergerak dengan kedua kaki panjangnya yang cepat.
Dribble rendah. Ringan. Seperti telapak tangannya memiliki magnet untuk menarik bola basket dengan sendirinya.
Kanan. Kiri.
Hesitation crossover.
Ia mencoba menarikku keluar dari posisi bertahan dengan aku tetap menjaga jarak dengannya.
Kedua mataku terpaku pada pinggang dan bahunya, tubuhnya selalu lebih jujur daripada tangannya.
Aksa selalu menjual gerakan tubuhnya dengan baik.
Ia menyeringai saat melihatku tak bergeming.
“Lo masih susah ternyata untuk dibohongin.”
Aku tersenyum singgung.
Namun ia tiba-tiba mengambil langkah panjang, lalu lompat begitu saja melemparkan bola dari, bola melayang menuju ring dengan lengkungan yang mulus.