The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #1

Noni Belanda

04:45 WIB


Lima puluh meter...

​Empat puluh meter...

​Tiga puluh meter...

​Aku berlari dengan langkah lebar, memacu degup jantungku hingga titik puncaknya. Dan ketika jarak finisnya semakin dekat, aku menarik napas panjang lalu melakukan sprint, memeras sisa energiku hingga maksimal.

​Dua puluh meter...

Lima belas meter...

Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh... enam... lima... empat... tiga... dua... satu...

​"Haaaah... haaahh..." Aku melambat mengakhiri sprint-ku.

​Aku melangkah cepat, namun berangsur-angsur melambat mendinginkan tubuhku agar tidak terjadi kram otot. Kuatur napasku agar oksigen yang masuk ke paru-paruku maksimal. Kulihat jam tangan di pergelangan kananku sejajar nadi. Ah, aku berhasil melampaui rekorku sebelumnya, lebih cepat empat detik.

​Berjoging di pagi buta seperti ini adalah rutinitasku. Dua hari sekali aku melakukannya, sehari berjoging, sehari pemulihan otot dengan meditasi. Lupa aku kapan pertama kali aku melakukannya. Tiba-tiba aku tidak bisa memulai hari saja bila tanpa rutinitasku ini.

​Jam tepat menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika aku sampai di pintu samping rumah yang terhubung langsung ke dapur. Kubuka pintu seperti biasa, dan seperti biasa pula sudah ada Ipoh menunggu. Ia sepertinya baru saja mengerjakan ibadah solat shubuh, terlihat dari mukena yang masih ia kenakan.

Oh iya! Ipoh adalah nanny-ku yang berasal dari keluarga besarku, keluarga yang benar-benar besar. Senyumnya adalah penyemangat yang manjur untuk mengawali hariku.

​"Selamat pagi, Nona, hebat, selalu bersemangat seperti biasa," ujarnya sambil menyerahkan sebuah handuk bersih.

​Kuambil handuk tersebut untuk menyeka wajahku yang penuh keringat, dan sebuah apel grade A di keranjang buah, lalu menggosoknya dengan tisu.

​"An apple to keep the doctor away," ujarku pada Ipoh sambil tersenyum.

​Aku pun menggigit apel tersebut dan memakannya.

​"Nona mau sarapan atau mandi dulu?" tanya Ipoh.

"Sarapan dulu, agak lapar, hari ini sama apa, Ipoh?" tanyaku.

"Ada lontong pical atau nasi kuning, Nona mau yang mana?" tanya Ipoh.

"Lontong pical aja, tapi enggak mau pakai mi kuningnya. Banyakin kacangnya, ya," pintaku.

"Baik, Nona Maharani," jawab Ipoh.

​Aku memandangnya sambil melemparkan raut wajah cemberut manja.

​"Udah sering dibilangin panggil 'Ella' aja. 'Nona Maharani'... terlalu formal tuh," ujarku dengan agak sebal karena Ipoh yang kadang masih suka bersikap formal denganku.

"Haha, baik, Nona Ella, gitu?" tanya Ipoh.

"C'est bien, Ipoh," jawabku.

​Oh iya, eum... namaku Daniella Maharani, dan nanny-ku itu bernama Maripona Mahandaru. Aku adalah anak keturunan campuran Minangkabau-Prancis, sementara nanny-ku Maripona, atau yang biasa kupanggil Ipoh, berdarah Minangkabau asli.

​"Yuk, makan bareng, Ipoh!" ajakku sambil mengandengnya dengan manja.

"Satu meja barengkah maksudnya, Nona?" tanyanya.

"Ya dong, masa sekursi bareng," ucapku menanggapinya dengan bercanda.

"Haha, boleh kalo Nona Ella mengizinkan," jawabnya.

"Duuuh, Ipoh, kayak sama siapa aja, Ipoh tuh Ama keduaku," balasku.

​Ia tersenyum, senyum bahagia, ah ia pasti merasa amat berarti.

Lihat selengkapnya