Hal mistis sudah menjadi bagian dari hidup kita. Entah itu mitos, takhayul, hingga cerita karuhun selalu menghiasi ruang hidup masyarakat negeri ini. Seakan menjadi identitas saja! Demam tiba-tiba saja bisa membuat kita panik karena takut ketempelan setan.
Semasa kecil di kampuang, hal-hal berbau mistis memang banyak diceritakan. Hantu lauik, antu lapiak, siluman buaya putih, atau macam siaua yang diceritakan turun-temurun.
Percaya atau tidak? Sebenarnya kami para Mahandaru jauh lebih modern. Kami bukan tipe yang menelan mentah-mentah sesuatu seperti itu. Kami lebih suka menganggap bahwa hal itu hanyalah usaha untuk membuat anak-anak menjauhi tempat-tempat berbahaya seperti lautan yang ombaknya besar atau menjaga manusia dari sifat sombong.
Namun, kami juga tak bisa membantah bahwa sesuatu seperti itu mungkin saja ada. Atau kalaupun tidak sama persis, yang jelas ada kekuatan halus yang memberi pengaruh pada kehidupan ini, ya, bagaimana, ya?! Keluarga saudara tua kami, para Mahalini, jelas-jelas memiliki ikatan sakral dengan karuhun Inyak Balang.
Lalu apakah aku, seorang Maripona, percaya pada keberadaan lelembut itu? Tidak terlalu... sampai suatu ketika...
(Dua tahun yang lalu)
"Nona! Ayo masuk! Sudah hampir malam ini," ujarku pada Nona Daniella yang masih berada di halaman rumah dekat barisan pohon-pohon buah yang ditanam oleh Nona Adellina.
"Tunggu, Ipoh, Ella sedang menyiram pohonnya," jawabnya sembari tersenyum lebar.
Ia memang gemar melakukan kegiatan menyiram tanaman. Selain karena pohon-pohon buah tersebut adalah warisan Nona Adellina, Nona Daniella tampaknya merasa bahwa hal itu menarik.
"Ayo, jangan lama-lama! Keburu Magrib. Kita salat dulu, yuk!" ajakku padanya.
Sesuai wasiat Nona Adellina, aku wajib memberikan pendidikan agama pada Nona Daniella. Ia lahir sebagai seorang muslimah dan disyahadatkan oleh sang dokter sesaat selepas lahir karena Tuan Reginald yang beragama Kristen tidak mungkin melakukannya.
Namun, sayangnya hal yang sama tidak bisa dilakukan pada adiknya. Nona Adellina meninggal saat melahirkan anak kedua sehingga tidak sempat meminta untuk mengazankan anak tersebut. Pak Reginald yang memutuskan untuk mengurus anak keduanya sendiri tentu saja mengkristenkan anak tersebut.
"Nanti, Ipoh! Nanti Ella ke situ," balasnya yang terdengar jenaka.
Sekujur bajunya juga basah. Aduuuh, nanti masuk angin Nona nih!
"Ayo, Nona, ini sudah malam, nanti masuk angin kalau basah-basahan," seruku masih berusaha mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Hahaha... pohonnya senang Ella siram!" ucap Nona Daniella tak menghiraukan ucapanku.
Haha, tidak tega sebenarnya kalau harus menghentikan Nona yang sedang senang begini, namun daripada nanti Nona sakit. Karena berada di dataran tinggi, udara di sini terasa dingin, terutama saat sore ke malam.
"Non Maripona!"
Terdengar suara dari Mbok Ruminah memanggil dari arah belakang.
"Non, ada pos dari kampung buat Nona," ujarnya.
"Kiriman surat? Wah, siapa yang mengirimiku, ya? Bundo dan Abak-kah?"
Aku pun berbalik badan menghampiri Mbok Ruminah yang tergopoh-gopoh berjalan menuju arahku.
"Dari siapa?" tanyaku padanya kala kulihat surat tersebut.
"Ini nama pengirimnya Halimah Mahandaru," balas Mbok Ruminah.
"Halimah? Sini, Mbok," agak buru-buru aku ingin mengambil surat tersebut.
"Iya, Non."