The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #3

Diculik Wewe Gombel 2

Suara berbagai benda seperti kentongan kecil, panci, dan wajan terdengar seantero hutan di dekat Wisma Maharani. Suara itu berasal dari para warga yang sengaja membunyikan benda-benda tersebut. Para warga yang semuanya pria itu berjumlah sekitar 20 orang dan tampak menyebar secara merata. Di antara pria-pria tersebut, terdapat pula Pak Handoko dan Mas Joko yang ikut mencari. Mereka semua tampak memanggil-manggil nama Daniella seraya terus membuat suara gaduh dengan memukul-mukul perabot yang mereka bawa tersebut dengan kayu atau semacamnya.

"Nona Daniellaaaa!! Nona Daniella!!!"

"Non Daniellaaaaa, Non Daniella!!!"

Pak Kyai Muhayat memimpin pencarian tersebut dan terlihat aktif memberikan instruksi kepada para warga. Sebagai tokoh setempat, ia tentu saja merasa bertanggung jawab untuk urusan semacam ini. Pasalnya, seluruh penghuni Wisma Maharani dan warga yang terlibat meyakini bahwa Daniella mengalami sesuatu yang disebut diculik wewe gombel, yaitu sebuah fenomena supranatural yang dipercayai warga berupa kejadian diculiknya anak-anak kecil oleh makhluk halus berupa sesosok wanita dengan wajah dan tampilan yang mengerikan disertai ciri fisik yang khas, yaitu ukuran payudara yang amat besar. Makhluk ini diyakini sebagai biang kerok dari kasus hilangnya beberapa anak kecil yang dipercayai terjadi pada waktu pergantian siang ke malam.

Warga lokal percaya bahwa anak-anak yang diculik makhluk halus ini, jika tidak mati dan berhasil ditemukan, maka nasibnya akan buruk, yaitu kehilangan suaranya. Cara untuk menemukannya adalah dengan mengerahkan banyak orang untuk terus-menerus membuat suara gaduh dari bunyi perabotan yang dipukul-pukul. Konon, makhluk halus wewe gombel tidak menyukai suara gaduh ini dan akan melepaskan anak yang diculik demi menghentikan kegaduhan tersebut.

"Belum ada tanda-tandanya, Pak Kyai. Apa kita cari sampai pinggir jurangnya?" tanya seorang warga.

"Cari sekitar sini dulu. Daerah dekat jurang masih berbahaya, jangan sampai ada kecelakaan. Harusnya Nona Daniella mudah ditemukan," jawab Pak Kyai Muhayat.

"Kalau sampai matahari terbit belum ketemu, apa berarti jasadnya sudah dibawa wewe gombel, Kyai?" tanya seorang warga lain.

Desir angin malam nan dingin berembus setelahnya, membuat warga yang sedang berdiskusi itu menoleh ke sekitar, mencurigai setiap jengkal keberadaan di tempat itu.

"Iman kalian yang kuat, ingat La haula wa la quwwata illa billah, teruskan pencarian kalian sampai ketemu!" ujar Pak Kyai Muhayat menguatkan hati para warga.

"Baik, Kyai. Allahu akbar!!" Seorang warga bertakbir meski tidak tepat dengan konteksnya.

"Allahu akbar!!!"

Namun, seruan lantang warga tersebut disambut oleh warga lainnya. Seruan tersebut berhasil membakar semangat para pria yang berjibaku menyusuri gelapnya hutan demi mencari sosok Daniella yang menghilang begitu saja.

---

(Di dalam ruang keluarga Wisma Maharani)

"Hiks hiks hiks... huhuhuuu, Ya Rabbi, ke mana Nona Daniella?"

Maripona menangis tersedu-sedu, air matanya tak henti menetes seakan yang sedang hilang adalah darah dagingnya sendiri. Di sampingnya, Mbok Rum berusaha menenangkannya sambil mengelus-elus pundaknya.

"Yang tabah, Non. Nona Maripona berdoa terus... Insyaallah Pak Kyai bisa nemuin Nona Daniella," ujar Mbok Rum.

"Tapi sudah lama sekali, Mbok! Daniella hilang begitu saja. Tidak jelas, bagaimana coba caranya? Padahal sudah tiga jam lebih!" balas Maripona.

"Istigfar Nona Ponanya, yuk bareng-bareng kita tahajud sekarang. Kita minta pertolongan Allah Swt.," ajak Mbok Rum lagi dengan tidak bosan-bosannya mengelus-elus punggung Maripona.

Maripona mengangguk menyetujui ajakan Mbok Rum. Ia juga berpikir bahwa tak ada gunanya juga bila ia terus menangis. Ia lebih memilih untuk memfokuskan seluruh energinya untuk berdoa pada Yang Mahakuasa.

---

(Kembali ke daerah hutan di sekitar Wisma Maharani)

"Nona Daniellaaa!!!"

"Nona Daniellaaaa!!!"

Gemuruh panggilan dan ketukan perabot-perabot saling bersahut-sahutan. Para pria terus melakukan penyisiran di daerah sekitar hutan. Sebagian besar wajah mereka menyiratkan keputusasaan setelah berjam-jam mencari tanpa hasil.

Lihat selengkapnya