The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #5

What I Expect To Be Happen

Kuambil dua sendok oatmeal instan dan memasukkannya ke dalam mug favoritku yang bermotif bunga Christan. Sambil menunggu susu yang sedang kuhangatkan, terkadang aku menambahkan madu murni ke dalam minuman hangat seperti ini untuk menambah cita rasa. Hanya saja sayangnya saat ini stok madu khusus pesananku dari kampuang belum tiba. Hanya madu itu yang kualitas maupun rasanya cocok dengan seleraku.

Sebenarnya secangkir cokelat hangat dengan bubuk kayu manis adalah minuman favoritku, tetapi sesekali aku mau yang agak "berat". Dan lagi, ini masih pagi hari di hari libur dan terasa agak malas. Karena tiba-tiba terlintas rasa kangen dibenakku akan sosok Papa, maka kubuka iPhone-ku dan masuk ke panggilan darurat, lalu men-dial nomor Papa, kemudian meletakkan iPhone-ku di stand HP. Kutunggu panggilanku itu dijawab olehnya.

"Tuuuut!" Nada tunggu.

Aku menuangkan susu yang sudah hangat ke cangkirku dan oatmeal-nya terlihat mulai mengembang. Masih terdengar nada tunggu saat aku sudah menyelesaikan tetes terakhir susunya. Sedari tadi pandanganku beralih-alih dari cangkirku ke gawaiku itu.

"Regi lagi sibuk, ya?" gumamku pada diriku sendiri mengusir rasa sepi yang sebenarnya sudah biasa kualami.

Aku berjalan membawa secangkir minumanku dan beranjak dari dapur ke ruang rekreasi. Jalanku sengaja agak kulambatkan, hanya agar memastikan cangkir maupun isi di dalamnya tidak tumpah. Dan sayangnya masih juga hanya terdengar nada tunggu saat aku sudah meletakkan cangkirnya di meja samping sofa. Kubenamkan diriku di sofa berwarna hijau toska yang kudapat dari kolega di RAGE Indonesia. Selera mereka pada furnitur bagus juga. Sofa ini adalah salah satu barang favoritku di rumah ini. Selain karena desainnya yang elegan, kulit yang dipakai juga terasa berkualitas tinggi. Jelas siapapun yang memilihnya tahu cara menghargai diri sendiri lewat barang-barang pribadi.

"Tuuut," nada tunggu dan panggilan tidak diangkat.

Hhmmpphh, Papa tidak angkat teleponku. Kuketik sebuah pesan ke nomor Papa.

-Busy?-

Dan tetap tidak ada jawaban, ah sudahlah, mungkin ia sedang rapat atau semacamnya. Aku juga tidak bisa menelepon nomor bisnisnya. Selain karena itu tidak secure, paling yang jawab adalah Lucie, asistennya. Dia mungkin akan bingung kalau ada nomor asing menelepon lalu bilang mau bicara dengan Papa.

Maripona juga sedang keluar diantar Erik, katanya ada urusan. Rumah ini terasa sepi sekali ya, ironisnya justru karena topografinya yang luas. Perasaan seakan-akan manusia di dunia ini hanya tinggal aku, terkadang muncul begitu saja. Kunyalakan televisiku, sekadar mencari hiburan. Sinetron, berita basi, iklan, iklan, iklan, talkshow. Hey, apa itu?

"Helooooo Indonesia, I'm Sakura, I'm Edith, I'm Mirriam, I'm Maria, we are BI!!! Blacklist Internasional..." ujar keempat gadis di layar kaca itu begitu kompak dan ceria.

Keempatnya tampak anggun, tiga orang berwajah kaukasoid dan satu orang Asia, mungkin Jepang. Sejujurnya dari keempatnya, gadis yang bernama Maria memiliki kecantikan yang luar biasa, meski tiga lainnya juga jelas di atas rata-rata. Mereka semacam mempromosikan tur konsernya yang dua minggu lagi akan menyambangi Jakarta. Mereka juga menyebutkan soal promosi album baru mereka. Karena penasaran, aku pun mencoba mencari tahu tentang para BI ini via internet. Searching-searching, scrolling-scrolling, dan reading-reading. Jadi begini, mereka itu girlband atau grup idola, mereka sudah punya tiga album yang hit di Eropa dan kini merambah pasaran Asia. Kapten atau leader-nya adalah si Maria tadi. Lagu-lagu mereka enak sebenarnya; Dance Me Butterfly, About Me, Drink Like a Star, Unusual Phenomenon, dan Girl is Real Deal!! adalah lagu-lagu yang enak didengar dari BI. Fan mereka juga sudah mencapai puluhan juta dengan pencapaian tertinggi itu dari Eropa.

Tanpa sadar aku sudah tenggelam mencermati hal-hal tentang BI ini. Karier, pencapaian, dan segala aktivitas mereka terlihat penuh warna, penuh hal-hal indah dan menyenangkan. Bahkan keseharian mereka yang terbilang sederhana, bisa dijadikan sebagai tayangan yang menghibur. Sekadar berjalan-jalan, kegiatan di studio rekaman, hingga hal remeh seperti mencoba memasak steak panggang saja terlihat begitu menyenangkan. Berwarna sekali hidup para BI ini, pikirku. Aku mau seperti itu, aku mau jadi seorang bintang. Aku mau punya hidup yang penuh warna dan tawa. Sepertinya aku akan mencobanya kalau aku bisa membentuk sebuah girlband. Ah, tapi dengan siapa? Aku tidak punya kawan dekat yang bisa kuajak membuat girlband, masa dengan Ipoh dan Mbok Rum, haha. Kusimpan mimpiku itu, membiarkannya jadi sebuah file yang nanti akan aku akses ulang bila kuinginkan. Yang jelas saat ini fans BI bertambah satu orang. Yep, that's me, Daniella Maharani Le Blanc'.

Lihat selengkapnya