Yang membedakan spesies dari perannya sebagai jantan dan betina adalah organ reproduksi mereka. Untuk menyederhanakannya, katakanlah plus dan minus. Tapi pemikiran sempit seperti itu hanya terbatas pada hewan. Pada manusia menjadi lebih kompleks. Ada aspek psikologis dan lainnya juga turut menjadi pembeda. Dan sebagai seorang gadis remaja yang sudah cukup matang, aku mengalami satu hal khas yang dialami juga oleh semua wanita normal, menstruasi. Hanya saja, padaku hal ini amat mengganggu. Kenapa? Karena terasa sakit sekali, amat sangat sakit. Rasanya seperti apa? Di tiga hari pertama, aku akan mengalami sensasi seperti terbakar. Serius! Seperti terbakar, seakan ada sebuah batu panas di area belakang perut bagian bawahku. Dan itu amat mengganggu. Saking mengganggunya, kalau sedang kambuh aku bisa mengalami lumpuh total dalam beraktivitas. Kondisi paling parah yang pernah menimpaku adalah aku pingsan di kamarku sendiri kala itu. Memasuki hari keempat, sensasi panas gejala itu berubah jadi seperti dicakar-cakar sampai hari kelima. Dan memasuki hari keenam sampai selesai, semuanya memudar dan hilang sama sekali. Diperiksakan tidak? Tentu saja. Lima dokter spesialis penyakit dalam dan dua dokter kandungan semuanya mengatakan tidak ada masalah di bagian organ dalam maupun reproduksiku. Aku bahkan menjalani prosedur USG di klinik kandungan padahal masih remaja, but everything is normal. Tidak ditemukan kondisi aneh semacam penyakit langka atau semacamnya. Aku juga tanya ke Maripona dan Mbok Rum perihal hal ini. Kata mereka, mereka juga merasakan sakit, tapi ya biasa saja. Katakanlah bila dalam rentang 1-10 aku mengalami 10, mereka mengalami 4. Aku secara mental sudah berdamai dengan hal ini, namun tubuhku kan tidak begitu.
"Nona, Nonaaaa!!" suara Ipoh.
Ah, aku pingsan rupanya. Aku bisa merasakan Ipoh menggendongku, mungkin menuju kamar. Maaf, Ipoh, merepotkanmu. Aku sepertinya pingsan setelah dari private chamber di Salle Das Machine. Ruangan khusus dengan keamanan khusus yang Regi buat dan kusempurnakan. Ruangan antiledakan tersebut dibuat untuk menyimpan benda khusus saja, seperti contohnya sebuah batu meteor beranomali magnetik unik berwarna biru yang aku temukan waktu kecil di dekat rumahku.
"Ke mana ini, Ipoh?" tanyaku yang mulai sadar.
"Ke kamar," jawabnya.
"Coba Ipoh liatin, kayaknya beda deh," ucapku pada Maripona.
Aku menunjukkan tanda lahir lambang Maharaniku padanya. Ipoh melihatnya dengan cermat seraya menyentuhnya sedikit.
"Iya, Nona, tanda lahir Anda sedikit memerah, apa sekarang terasa sakit?" tanya Ipoh.
"Banget... sakit kayak dicakar-cakar di bagian rahim. Uughh, Ipoh juga gini enggak sih?" tanyaku.
"Sepertinya enggak, Nona. Ipoh masih bisa bekerja meski sedang mens," jawabnya.
"Iya, makanya Ella heran ini kenapa," kukatakan sambil menahan rasa sakit di bagian rahimku.
"Ipoh coba tanya Arunika, ya, barangkali keluarga Mahalini punya ramuan penyembuh yang manjur," usulnya.