Ipoh merekomendasikanku sebuah klinik maternity di daerah Kota Cirebon. Tujuanku adalah memeriksakan kondisi kesehatanku di mana aku selalu mengalami menstruasi yang amat sangat sakit. Hal yang kualami semenjak usia sembilan tahun. Sejujurnya, aku agak malu datang ke klinik ini yang isinya ibu-ibu hamil semua. Come on, mereka pasti mikir yang aneh-aneh, terlihat dari cara beberapa orang melirikku.
"Mereka mikir aneh-aneh enggak sih, Ipoh?" bisikku sambil menempel erat pada Ipoh.
"Maksud Nona?" tanya Ipoh setengah kaget.
"Gini... 'itu kok masih kecil periksa ke klinik maternity', 'orang bule, enggak aneh masih kecil udah sex bebas', pada gitu enggak sih mikirnya?" ucapku masih berbisik pada Ipoh.
"Ya Karim, kok Nona mikir gitu? Insyaallah tidak, Nona, berpikir lah positif," jawab Ipoh menenangkanku.
"Ya Ella nebak aja gitu... dari tadi dilirik terus," ujarku merebahkan badanku di tembok.
Kami duduk di kursi tunggu yang menempel ke tembok berhadapan dengan para pasien lain. Hal yang sebenarnya justru membuat pengunjung klinik jadi semakin bisa menatapku dengan jelas.
"Mungkin mereka cuma berpikir, 'Anak perempuan yang di sebelah Ipoh ini cantik sekali,' gitu, Nona," jawab Ipoh tersenyum.
"Huuuw, Ipoh pinter aja," balasku.
"Lagian, paling yang disangka periksa Ipoh, lalu mereka penasaran, 'Masa sih itu ibunya, kan beda,' begitu, Nona," tambahnya mencoba menghiburku.
"Ih, Ipoh ibunya Ella juga," balasku bermanja ria pada Ipoh.
Selanjutnya, kami menunggu cukup lama karena mungkin aku dan Ipoh mendaftar terakhir. Sambil menunggu, aku juga menyempatkan melihat klinik ini. Ternyata klinik ini adalah panti bersalin juga yang menerima pasien bersalin di tempat. Bahkan ada sebuah kafe kopi di sini. Sambil memesan dua cangkir long black buatku dan Erik, juga secangkir es kopi susu untuk Ipoh.
Dari obrol-obrol dengan pengelola kafenya saat menunggu peracikan kopi, aku jadi tahu ternyata klinik ini adalah milik dr. Herma pribadi. Klinik ini juga menerima persalinan di tempat selain rawat jalan, namun belum menggunakan asuransi pemerintah. Nama klinik dan nama kafenya unik, Klinik Feminim dan BornCaffee. Setelah kopinya jadi, aku pun mengantarkan kopinya ke Erik yang sedang menunggu di mobil dan lalu bergegas kembali ke dalam.
"Pasien Nona Daniella Maharani," panggil seorang perawat setelah sekitar dua jam menunggu.
Aku dan Ipoh pun beranjak menuju meja skrining.
"Yang mana pasiennya?" tanya perawat.
"Saya pasiennya, Bu," jawabku.
"Oohhhh, bisa bahasa Indonesia, ya... eum, ditimbang dan ditensi dulu, ya. Umur dan tingginya berapa?" tanya perawat, biasalah, faktor wajah.
"13 tahun, 149 senti," ucapku.
"Tinggi, ya, silakan masuk, dokternya sudah menunggu di dalam," ujar perawatnya setelah menuliskan hasil skrining di buku pasien.
Aku dan Ipoh lalu masuk ke ruangan periksa. Kami disambut seorang suster dan juga dokter yang, eum, bertubuh gembul.
"Selamat malam, wah Bu Pona, silakan duduk. Silakan, pasiennya yang mana?" tanya si dokter.
"Ini, Dok," jawab Ipoh.
Lho, dokternya udah tahu Ipoh?
"Oh, ini ya Nona Daniella yang Bu Pona ceritakan. Mau periksa apa nih?" tanya si dokter.
"Ini, Dok, Daniella merasa keluhan menstruasi," ujar Ipoh mewakili.
"Oh, memang terasanya bagaimana?" tanya dokter melirik padaku.
"Sakit banget, Dok, kayak dicakar-cakar di bagian rahim. Itu terjadi di hari pertama menstruasi dan berangsur-angsur berkurang setelah hari keempat atau kelima sampai selesai," jawabku.
"Terasanya setiap haid? Sejak kapan?" tanya dokter.
"Setiap haid, semenjak haid pertama di umur sembilan tahunan," jawabku mengganti kata menstruasi jadi haid juga.
"Oh, kamu pertama haidnya lebih awal dari umum, ya. Sudah pernah diperiksakan ke dokter penyakit dalam?" tanyanya.
"Belum, Dok, ini pertama kali," jawabku.
"Oh, kenapa? Ini sebaiknya diperiksakan dulu ke penyakit dalam karena belum tentu juga permasalahan di bagian reproduksi. Dan untuk lebih tepatnya mungkin harus dilakukan MRI untuk melihat problemnya di mana," ujar si dokter.
"Oh, jadi ini belum bisa diperiksa, Dok?" tanyaku.
"Kalau di sini alatnya tidak ada. Di sini adanya USG yang peruntukannya untuk melihat janin di dalam rahim. Kamu bukan hamil, kan? Haha," si dokter bercanda.
"Haha, iya enggak, Dok, masih sekolah saya," jawabku yang pasrah mengikuti alur.
"Jadi gimana? Mau saya kasih rekomendasi dokter umum yang bagus?" ujar si dokter.