Sebagian besar keluargaku dari Mahaseroja menganut sistem perjodohan. Semenjak remaja, bahkan kanak-kanak, kedua orang tua atau pihak keluarga lain sudah mencarikan jodoh untuk seorang anak. Hal itu menjadi semacam pakem dalam keluarga Mahaseroja. Soal ini, menurutku ada enak dan tidak enaknya, seperti semua hal dalam hidup. Meski sejujurnya kuakui, untuk kelas keluarga Mahaseroja hal itu bagus. Hanya satu minusnya: ya, kamu bisa saja dijodohkan dengan orang yang tidak kamu suka. Jelas kalau hal itu sebagian besar dimulai dengan tidak saling mengenal. Tapi apalah artinya sih, toh kalau bertemu di usia pubertas maka yang bermain adalah kimiawi tubuh. But come on, Daniella,
Sisi plusnya itu banyak, atau lebih tepatnya pada satu hal: kontrol individu dan sosial. Dua pihak keluarga menjodohkan anak mereka itu tentunya berdasarkan bibit, bebet, dan bobot calonnya. Contohnya, Etek Mahavira yang dijodohkan dengan Om Idris yang seorang jaksa. Simpelnya, perlu selevel jaksa untuk punya cukup nyali melamar Etek Mahavira yang politikus. Jadi, orang tua bisa menjamin bahwa anak mereka kelak akan berpasangan dengan orang yang sepadan dan bukan beli kucing dalam karung.
Kontrol sosial, ini masih berkaitan. Begini, berpatokan pada prinsip 'menikahi seseorang itu berarti menikahi juga keluarganya', terkadang perjodohan dua orang itu juga berarti perjodohan keluarganya atau perusahaannya masing-masing. Serius, dua anak konglomerat menikah, itu biasanya sih demi tujuan tambahan, yaitu menyatukan dua perusahaan atau dua pihak agar jadi lebih kuat. Yang seperti ini justru lebih logis, and logic is science.
Eum, ya, tipe kedua ini definitely tengah kualami. Honolulu, turun dari jet pribadi milik maskapai Mahalini Air, aku menenteng koperku ditemani Erik. Kami disambut oleh tiga orang staf dari keluarga Liu Bei. Sebuah keluarga yang memiliki perusahaan raksasa NINESTAR. Aku, katakanlah, sedang diminta untuk bertemu atau ya lebih tepatnya berkenalan dengan putra bungsu Tuan Liu Bei. Ia bernama Sabugha Kelana Buana. Hmm, agak aneh ya, ayahnya Tionghoa dengan masih menyandang nama Chinese-nya, tapi anaknya yang satu ini bahkan memiliki nama yang berbeda dari orang tua maupun kakak-kakak tirinya. Tapi seperti yang sudah kujelaskan, ia cukup sepadan untuk dijodohkan denganku. Amat sepadan malah. Jika aku memiliki RAGE Indonesia dan Le Viral.id, maka si Sabugha ini memiliki SHINE; Sabugha Holistic International Naritha Energy. Betul, si bocah ini memiliki startup berlevel decacorn melebihiku, and he loves science too.
"Selamat datang, Nona Daniella. Saya Molina yang akan mengantarkan Anda," ujar staf dari keluarga Liu Bei.
"Terima kasih," balasku.
Dua orang staf lain lalu dengan sigap membawakan koperku.
"Bawaan Anda yang lain nanti akan diantarkan ke mansion, apa Anda mau langsung berangkat sekarang?" ucap si Molina.
"Eum, hmm... kita berangkat sekarang," jawabku.
---
Hmm, ia tampan, dan jelas berkarisma. Wajar jika Papa memintaku untuk bisa dekat dengannya. Ditambah background-nya yang sudah jadi pengusaha sukses bahkan di usia yang masih belia. Well, Papa, serahkan pada anak tercintamu, Daniella akan menaklukkannya.
"Nona Maharani, bagaimana perjalanannya?" sapa seorang ibu-ibu.
"Cukup menyenangkan, Bu. 17 jam yang menarik sejujurnya," jawabku seraya melakukan cipika-cipiki dengannya.
"Kamu cantik sekali, Nak. Perkenalkan, nama Ibu Daeng Rara, dan ini anak Ibu, Sabugha Kelana Buana," ujarnya mengenalkan diri dan juga si Sabugha.
Oh, kini aku paham, Sabugha itu rupanya keturunan campuran. Ibunya berwajah khas wanita timur nusantara. Aku jadi mengerti, rupanya nama itu adalah nama pribuminya. Biar kujelaskan profil Sabugha: ia adalah pria tampan dengan wajah oriental namun tidak sipit, ia bahkan punya double eyelid. Bertubuh kekar, good, I like it, Boy. Hal itu terlihat bahkan ketika sekarang ia mengenakan mandarin suits. Gaya rambutnya sih standar comma hair yang, yaa, memang cocok sama profil wajahnya.
"Sabugha Kelana Buana, panggil saja Sabugha," ucapnya sambil menyalamiku formal. Eeh, kaku banget.
"Kalau kupanggil Lana, gimana? Sepertinya aku lebih suka begitu," ucapku maju duluan.
Ia terdiam, agak menimbang-nimbang sebelum menjawab.
"Boleh," jawabnya singkat.
Okey, evaluasi selesai. Tipe cowok pasif, deep thinker, misterius. Lawan yang cukup sulit, tinggal cari tahu apa variabel yang bisa membuat kami nyambung.
"Daniella Maharani, panggil aja Ella, simpel," ujarku memperkenalkan diri.
Ia mengangguk, cuma gitu? Dia bahkan belum tersenyum. Selanjutnya kami diajak masuk ke mansion keluarganya. Standarnya bagus, mewah, highly luxurious—ini aku yang bilang ya. Dan aku dijamu dengan baik nan berkelas. Ibu Daeng Rara lalu mengajakku minum teh, berbincang-bincang hangat.
"Ibu turut mendoakan buat almarhum ibumu ya, Nak Daniella. Semoga ia diterima di sisi-Nya, insyaallah," ujarnya.
"Terima kasih, Bu. Eum, maaf, Ella yang salah informasi atau... bukannya seharusnya Ibu itu Katolik, ya?" tanyaku karena heran.
Ia tersenyum menatapku.
"Agama hanyalah seperangkat aturan dalam menjalani hidup. Pada hakikatnya setiap kepercayaan bertujuan pada kebaikan... apakah harus Sang Pencipta memberikan dosa hanya karena menggunakan istilah dari agama lain?" ucap Bu Daeng Rara.
Kata-katanya begitu mendalam, penuh filosofi. Begini ya ibunya si Sabugha? Anaknya akan bagaimana?
"Iya, benar... hmm, tehnya enak," balasku.