The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #9

Day one and two to make him enamoured

"Kenalkan ini kakak tirinya Sabugha, Jiang Liu Mei dan Tan Liu Sho," ucap Bu Daeng mengenalkan dua orang pemuda-pemudi yang tampak berusia dua puluhan berwajah oriental.

"Daniella Maharani, salam kenal, Kak," ujarku mengenalkan diri.

"Panggil aja Kak Mei-mei. Kamu cantik sekali... ini yang Papih bilang ya, Mih?" ucap Kak Mei pada Bu Daeng.

"Betul... maaf, Ibu baru mengenalkan mereka, kemarin mereka kelelahan jadi beristirahat seharian," ujar Bu Daeng lagi sembari menoleh padaku.

"Saya kakak tiri keduanya Sabugha. Panggil aja Mas Tan-tan. Jangan sungkan, ya, anggap aja keluarga sendiri," ujar yang pria berkacamata bulat sambil tersenyum ramah.

Ternyata kedua kakak tirinya Sabugha ramah dan baik. Mereka juga tampak akrab dengan Bu Daeng yang notabene adalah ibu tirinya. Memang, sentimen hubungan ibu tiri dan anak tiri yang digambarkan penuh prahara itu cuma drama sinetron saja, not all like that.

"Hey, yang sabar, ya... adik kecil kami itu... eum, dingin... hehe," Kak Mei-mei merangkulku akrab.

"Haha... eum, hmm... Ella ngerti, but I'm tough girl," jawabku.

Bu Daeng tersenyum ramah melihat kami. Ia tampak puas dengan awal perjumpaan kami.

"Nak Daniella, Ibu mohon maaf tidak bisa menemani lebih lama, ada urusan... ada Mei-mei dan Tan-tan yang menemani kamu dan Sabugha. Kalian nikmati, ya, liburan ini," ucap Bu Daeng yang sepertinya ada keperluan penting dan harus undur diri.

"Iya, Bu, it's oke, Ella biasa sendirian. Lagi pula Ella suka kok liburan di pantai," balasku.

"Mei, Tan, tolong bantu Nak Daniella sekaligus beri waktu bagi ia dan Sabugha untuk saling mengenal," ucap Bu Daeng.

"Oke, Mih," jawab Kak Mei-mei.

"Baik, Mih," jawab Kak Tan-tan.

Bu Daeng lalu pamit diiringi dua bodyguard-nya. Langkahnya begitu rapi dan terarah selayaknya wanita bermartabat.

"Hey, aku suka kamu, cantik... Kak Mei akan bantu kamu dekati Sabugha. Kak Mei jamin dalam tiga hari dia akan luluh... don't worry," Kak Mei begitu supel dan akrab.

"Hehe, thanks, Kak Mei," balasku.

"And... hmm, aku bawa kondom kok, kalau-kalau kamu butuh... ini yang ekstra tipis," bisiknya.

Wajahku mendadak merona, eum yaaa kami lagi dijodohkan sih... tapi masa secepat itu? Kak Tan-tan lalu menjewer telinga Kak Mei.

---

(Esok pagi)

"Hmm, kamu rajin membentuk otot, ya... good," ujarku kala menghampirinya yang sedang semacam berlatih kuda-kuda bela diri.

Ia agak terkaget sambil menoleh padaku. Sabugha lalu menaikkan kuda-kudanya yang tampak amat rendah. Kuat juga dia, sudah berapa lama di posisi itu?

"Kuda-kudamu hebat sekali, very low, berapa menit?" tanyaku yang agak penasaran. Sedikit-sedikit aku juga bisa silat sebagai modal pertahanan diri.

"Fyuuuuuh... dari tadi malam," jawabnya.

Haaaaah? Funny, serius? Kayaknya dia cuma lagi sok jago aja di depanku. Ya, okelah, aku anggap itu usaha untuk tampil memukau di hadapanku.

"Vraiment? I can't believe it," ucapku sebagai reaksi dari kalimatnya.

"À toi de voir, kamu sudah sarapan?" tanyanya. Hmm, bahasa Prancisnya bagus.

Bodyguard-nya lalu memberikan kemeja untuk ia pakai. Oh iya, karena selama tadi ia melakukan kuda-kuda hanya mengenakan celana pangsi, aku jadi bisa melihat bentuk tubuhnya yang kekar nan sixpack. Dan ternyata, ia punya sebuah tato di dadanya. Sebuah lambang yang tidak kukenal dengan tulisan "Savala Entharda" yang terhias indah.

"Sudah. Eum... apa artinya tadi? Tatomu?" tanyaku benar-benar tertarik dengan arti tulisan tersebut.

Ia melirik sekilas pada tatonya dan menyentuhnya.

"Ini? Savala Entharda? Ini bermakna 'bersatunya hamba dengan ketentuan Sang Pencipta', begitulah," jawabnya.

"Wooow, so deep, just like manunggaling kawula gusti, bukan? Apa kamu tahu itu? By the way itu bahasa apa?" tanyaku lagi.

"Maksudnya serupa dengan redaksi berbeda, bahasa Lemuru," jawabnya lagi masih dengan singkat tanpa basa-basi.

Aku mengangguk-angguk mendengar perkataannya. Istilah yang asing buatku, aku hanya tahu itu mungkin merujuk pada Lemuria saja. Kami berdua terus berjalan diiringi kedua bodyguard menuju entah ke mana.

"Kita mau ke mana?" tanyaku.

Lihat selengkapnya