"Lana, bikin tato bersama, yuk! DM&SKB," ucapku sambil mencegatnya yang hendak entah nyelonong kemana.
"Haaaah?!" responsnya terkejut.
"Enggak ... thanks," jawabnya.
Bodoh memang. Apaan coba, minta tato ... tapi ya tidak apa-apa, kan, sekedar mencoba.
"At least aku tulis pakai spidol permanen ya, Daniella & Sabugha. Come on, itu lucu," pintaku lagi.
"No, Daniella. Lagian aku tidak terlalu suka tubuhku dicoret-coret," jawabnya disertai raut wajah yang senada dengan ucapannya.
"Lho, terus tato di dadamu?" tanyaku heran.
"Aku ingin mengabadikan apa yang diajarkan ibuku," jawabnya.
Oh, dear, cinta ibu. Okelah, kalau soal ibu aku hormati. Tapi jangan kira aku akan menyerah, lho. Daniella Maharani anti-menyerah dan akan terus mencari cara hingga aku memperoleh apa yang aku mau.
"Booooo ... tidak seru," timpalku. "Banana boat, yuk! Tinggal sedikit lagi kulitku jadi cokelat," ujarku sambil menunjukan kulit lenganku.
"Oke, boleh ... sekalian jet boat, aku mau menunjukkan sesuatu," ujarnya.
Setidaknya ia bilang mau menunjukkan sesuatu, yang mengindikasikan ia mulai terbuka padaku. Kemungkinan batuan lagi sih kalau berdasarkan hobinya. Tapi ya sudahlah, yang penting ada progress, tiny progress but ok. Kami lalu berganti pakaian renang dan menuju pantai. Tetap tidak lupa meminta Erik membawa spidolku.
---
(Dua jam kemudian)
"Wuuuuhuuuu ... ini seru banget!" ucapku saat diboncengnya di jet boat. Aku menyukai hal seperti ini dan kali ini aku kasih score 9 dari 10 untukmu Lana.
"Berapa lama kamu bisa menahan napas, Daniella?" tanyanya tiba-tiba.
"Rekor terlamaku empat menit tiga detik. Memang kenapa?" tanyaku balik.
"Aku bisa melakukan manuver menyelam ... mau coba? Ini jet boat khusus buatanku, kok," ujarnya.
"Haha, serius? Mau banget, Lana ... bring me to the deep!" jawabku.
Setelah hampir dua jam bermain banana boat ria keliling pantai, dan bahkan menyuruh para bodyguard kami untuk ber-banana boat juga, aku dan Sabugha menaiki jet boat berdua, mengunjungi spot-spot indah di sekitar sini. Bagian pantai yang ini memang sepertinya dimiliki secara pribadi oleh keluarga Liu Bei. Nice banget. Nanti aku mau minta ke Papa untuk membelikankan vila di pinggir pantai seperti ini, ah. Tidak sekarang juga sih, nanti saja kalau momennya pas.
"Siap, tahan napasmu, Daniella!" ujar Sabugha.
"D'accord!" teriakku, lalu kuambil napas sebanyak-banyaknya.
Dan wushhhh, Sabugha melompat kecil lalu mengarahkan hidung jet boat kami ke dalam air. Kemudian kami masuk ke dalam air dan sensasinya seakan-akan kami keluar dari gerbang dimensional. Sensasi melihat dunia bawah air ini sungguh luar biasa. Indah, fantastis, dan bohong kalau aku bilang tidak terpukau. Ini surga, Lana. Yeah, aku dibawa masuk ke surga bawah air. Terumbu karangnya, ikan-ikan, bahkan gelembungnya terlihat indah. Waktu seakan melambat saat kami berada di dalam air. Sekujur kulitku bahkan bisa merasakan aliran air yang dinamis di sekitarku.
Lana, sejujurnya kamu sepertinya tahu cara menyenangkan seorang wanita. Aku akan anggap ini tanda kamu sudah semakin terbuka. Aku suka jet boat-mu, aku suka pengalaman ini. It's memorable.
"Hahahaha ... tadi seru banget!" teriakku kegirangan kala berbaring di pantai.
"Kamu suka? Pemandangannya indah, kan, di bawah air?" ujarnya seraya duduk di sebelahku.