(sekitar pukul 9 pagi)
Bau harum apa ini? Ah, bau masakan. Telur, roti gandum, dengan sosis Portugis dan taburan herb di atasnya, pasti. Dan ada bau acai bowl dengan harum buah-buahannya yang menyegarkan.
Kubuka mataku perlahan-lahan. Ah, aku ketiduran ketika menulis diary-ku. Oh, sudah ada pelayan yang mengantarkan makanan, ya? Apa Erik? Ya, sepertinya begitu. Hmmm, sudah jam 10, ini akan jadi brunch. Scrambled eggs yang harum parsley, dua potong sosis Portugis panggang, roti gandum, semangkuk acai bowl dengan empat macam buah, dan segelas susu. Perutku yang sudah keroncongan berbunyi rupanya. Okeeey, I'm hungry. Jadi, tanpa pikir panjang kunikmati menu sarapanku itu sambil berpikir, apa yang bisa kulakukan dalam sisa tiga hari ini?
---
(Siang harinya)
"Ya, legendanya para Mahaseroja itu keturunan dari Sang Hyang Zama dan Dewi Tarina, Bu," ujarku mengobrol dengan Bu Daeng di tepi pantai.
"Oh, yaaa, aku kenal Tarina ... ia gadis yang lugu," ujarnya tersenyum sambil memandang ke arah laut dengan sebuah teropong kecil.
Aku sedikit tertawa kecil menghormati joke-nya yang sebenarnya kurang bisa kupahami lucunya di mana. Bu Daeng sudah kembali lagi dari keperluannya. Cepat juga bila itu memang mengurusi bisnis.
"Jadi, seberapa hebat kamu dengan tombak?" tanya Bu Daeng yang kini beralih meraih kedua telapak tanganku dan memperhatikannya dengan seksama.
"Hmm, Ella tidak terlalu paham, sih. Tapi ini permainan apa, Bu? Ella baru lihat," tanyaku saat melihat tiga buah tiang di garis pantai. Tiang dengan ujung lingkaran selebar ring basketball.
"Apa, ya ... saya dan Sabugha menciptakan permainan ini buat mengisi waktu luang saja, sih. Kamu mau kasih nama?" tanyanya menatapku.
Aku tersenyum menatap Bu Daeng.
"Lance D'Amoure, hehe," jawabku.
"Haha, boleh ...," balas Bu Daeng.
Kami lalu mengambil tombak yang sudah disiapkan oleh dua orang pelayan.
"Peraturannya bagaimana, Bu?" tanyaku padannya sambil memandang bilah tombak yang ternyata memiliki ujung yang benar-benar lancip.
"Lingkaran paling kecil di tengah bernilai sepuluh, sementara yang di sampingnya bernilai tiga. Kalau kamu gagal memasukkannya tapi tongkatnya menancap di belakang garis lingkaran, kamu dapat satu poin. Kalau tidak menancap atau menancap sebelum lingkaran poin, ya zonk," ujar Bu Daeng menjelaskan tentang game buatannya ini.
"Oh, simple, ya. Oke," sambutku.
"Bagaimana empat hari ini? Lancarkah?" tanya Bu Daeng sambil melemparkan tombak pertama dan langsung masuk poin sepuluh. Baik pose, posisi, maupun ekspresinya saat melempar tombak tidak bergeming sama sekali seakan tombak yang cukup berat itu hanya mainan baginya.
"Hmm, ya, bisa dibilang lancar, mengingat kami sudah bergandengan tangan," jawabku, lalu melemparkan tombakku yang bahkan tidak menjangkau tiang.
Jarak lemparannya memang mencapai lima belas meter.
"Oh ... agak terkejut Ibu," ucapnya.
"Ah, apakah saya salah?" tanyaku.
"Bukan, justru Ibu terkejut karena Sabugha mau. Ia anak yang, ya ... tidak tertarik dengan percintaan," ujar Bu Daeng, jelas-jelas menggunakan kata 'percintaan' dalam kalimatnya.
Wajahku merona, tentu saja. Ibu dari anak yang dijodohkan denganku bicara sesantai itu. Tampaknya baginya yang seorang istri dari pimpinan sebuah grup perusahaan besar semua ini memanglah tidak lebih dari sebuah bagian dari pekerjaannya saja.
"Eum, yaaa ... awalnya tidak mudah karena Sabugha cuek, tapi Ella tidak akan menyerah," jawabku sambil kami bergantian melempar tombaknya.
"Bersabarlah. Ibu harap apa pun hasilnya, kalian bisa memperoleh yang terbaik menurut versi-Nya," jawabnya, lalu melempar tombaknya, masuk sepuluh poin.
"Iya, Bu, Ella akan berusaha maksimal," balasku.
Kami terus bermain 'Lance D'Amoure' selama sekitar satu jam. Sejauh ini, percakapan kami berkisar seputar pendapatku tentang Sabugha, dan Bu Daeng yang bercerita tentang awal pertemuannya dengan Pak Liu yang terdengar sedikit fantasy. Dan sampai game berakhir, poinku hanya 25, sementara Bu Daeng 120.
---
(Dua jam kemudian di pelataran belakang masion)
"Wow, husky, Ella suka, nih ...." Kuelus-elus anjing berjenis Siberian husky tersebut.
Bulunya lebat dan amat jinak nan manja, meski padaku yang orang baru. Cukup mengingatkanku pada anjingku yang dulu, meski beda jenis.
"Namanya siapa, Lana?" tanyaku yang sudah menggaruk-garuk perut Siberian husky tersebut.
Anjing itu tampak nyaman hingga menjulurkan lidahnya. Jelas sekali Sabugha merawat hewan peliharaannya dengan baik.
"Chiomori, dia baru dua tahun, sih," ucap Sabugha.
"Chio, ya ... cowok?" tanyaku.