The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #12

Last day to make him enamoured

Yang bisa kuingat adalah aku berada di antara tidur dan bangun dengan ia yang berkata sesuatu. Bibirnya bergerak mengatakan beberapa kalimat yang tidak bisa aku dengar. Aku terlalu lelah karena tangisku, dan ia mengecupku di kening. Hanya di keningku, lalu menyelimutiku. Bisa kurasakan inilah titik terjauh yang bisa aku raih untuk dekat dengan Sabugha. Dan sepertinya—atau lebih tepatnya, fakta bahwa akhirnya perjodohan ini gagal—sudah tak terbantahkan.

"Ella sepertinya gagal, Papa. Sabugha menghindari Ella terus seharian ini. Maaf," ucapku di telepon.

"It's ok, ma belle, dia yang akan merasa rugi," jawab Papa.

"Hiks, sorry ...," tangisku.

Kami terdiam sesaat sampai aku bisa tenang.

"Mon trésor, are you ok?" tanya Papa.

"Aku lumayan merasa nyaman, sih, sama dia," ucapku. "Aku merasa benar-benar gagal," tambahku mengakhiri kalimatku.

"Hei, Daniella ... mon trésor ... kamu adalah hartaku yang berharga. It's ok, keinginan terbesar Papa adalah melihatmu bahagia. Jadi ... Sabugha tidak berarti apa-apa. Kamulah yang berarti untukku," ujar Papa.

Seperti matahari pertama di summer, ucapan Papa menghangatkan hatiku. Kalimatnya berhasil menyatukan kembali perasaanku yang sempat pecah belah.

"Merci, Papa ... Ella sayang Papa, merci pour ton amour," ujarku.

"Je t'aime, mon trésor, je t'aime," balas Papa sebelum kami mengakhiri panggilan tersebut.

---

(Beberapa menit kemudian)


Kumasak santan, air, gula pasir, ekstrak vanila, garam, dan daun pandan di atas api kecil hingga mendidih. Lalu angkat dan biarkan hingga suhu hangat-hangat kuku. Kemudian sisihkan daun pandan. Setelahnya, tuang santan ke dalam tiga wadah berbeda, tambahkan tepung beras, tepung terigu, ragi, baking powder, serta pewarna makanan merah dan hijau di dua wadah, aduk menggunakan whisk hingga licin. Kututup wadah dengan kain bersih, lalu kuistirahatkan adonan hingga berbuih, lalu kusaring adonan. Tuang adonan ke dalam cetakan kue mangkok yang sudah dipanaskan hingga penuh. Kukus dalam dandang panas hingga kue matang dan merekah sekitar 15 menit, lalu kuangkat. Terakhir, kukeluarkan dari cetakan dan menatanya di piring.

Siang ini, aku menata rambutku ala French braid dan membiarkannya jatuh di bahu kiriku. Kukenakan simple dress dengan corak hibiscus dan dominasi warna toska. Beberapa aksesori menghiasi penampilanku kala kubawa sepiring kue apem buatanku lengkap dengan kincanya menuju kamar Sabugha di mansion ini.

Aku sudah berdiri di depan pintunya, ragu, namun aku tahu aku harus mengetuk. Akhirnya kuberanikan diri mengetuk pintu berbahan kayu ek itu.

"Tok, tok, tok ... permisi," ucapku kala kuketuk pintunya.

"Iya," jawab suara dari dalam.

Oh, ini suara Kak Mei-mei. Lalu pintu dibuka dan benar Kak Mei-mei ada di dalam. Di dalam kamar Sabugha juga ada Kak Tan-tan dan tentunya Sabugha sendiri.

"Daniella, wow, itu apa? Warnanya cantik, sepertinya enak," ucap Kak Mei-mei melihat kue apem yang kubawa.

"Kue apem, Kak Mei. Ini banyak dibuat di Cirebon kalau memasuki bulan Safar, semacam doa ... ini terbuat dari tepung beras dan ragi," jawabku.

"Waaah, aku mau ... kamu bikin buatku juga, kan?" ucap Kak Mei ceria.

"Tentu, Ella sudah bikin banyak, cukup untuk semuanya," balasku.

"Asiiiikkkk ... hei, Didiiiii, Daniella datang bawa kue buatannya. Jangan diam saja!" Kak Mei menoleh pada Sabugha yang sedang memegang sebuah penggaris dari bahan jade.

"Kita yang mengganggu, Mei. Ayooo keluar dulu," Kak Tan-tan beranjak keluar ruangan sambil mendekap Kak Mei untuk membawanya keluar.

"Hei, kueku disimpan di mana, Daniella?" Kak Mei masih ceria.

"Container dapur, Kak," jawabku.

Dan mereka keluar kamar lalu menutup pintu.

Kutatap Sabugha yang masih memainkan penggarisnya, memutar-mutarkannya di tangannya dengan lincah.

"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanyaku meminta izinnya.

Sabugha menoleh padaku.

"Siapa pun boleh duduk di kamarku, kok," jawabnya lalu menghentikan memainkan penggarisnya.

Lihat selengkapnya