Regi punya dua orang adik: Paman Emilio dan Paman Jean. Dari keduanya, aku punya beberapa sepupu. Francoise dan Ourson dari Paman Emilio, sedangkan dari Paman Jean aku punya Abelano, Donatien, Madeleine, dan Jacqueline.
Let's talk about Francoise dan Ourson, karena kami seumuran. Francoise satu tahun empat bulan lebih tua dariku, dan Ourson sebelas bulan lebih tua dariku. Keduanya berkarakter... hmmm, apa ya... khas.
Ngomongin Ourson dulu, si ganteng bertubuh tinggi kekar. Seperti yang lumrahnya dilihat oleh warga lokal, kami yang berdarah Eropa cenderung memiliki postur yang apa ya istilahnya kata Mbok Ruminah? Oh iya, "umur leutik, awak badag". Jadi menbayangkan seperti apa rupa Ourson itu semudah bayangkan remaja dengan ukuran tubuh orang dewasa yang berotot.
Ourson dibentuk oleh Paman Emilio untuk mewarisi Emilio's Group, sebuah kontraktor security swasta yang bergerak di bidang pengamanan dan pengawalan milik keluarga Le Blanc'. Ya, gampangnya bisnis bodyguard dan eksekutor, lah. Well, sebenarnya Emilio's Group itu sebuah kontraktor militer, sih. Tapi mari kita buat lebih halus: katakanlah perusahaan pengawalan bersertifikat. Emilio's Group juga membuka semacam lembaga pendidikan semimiliter yang bertujuan mencetak tenaga siap pakai dengan nama "Faucon Gris".
Kembali ke sepupuku. Ourson itu tampan, dengan penampilan yang selalu terlihat ala militer. Rambut buzz atau cepak, belum pernah aku lihat ia memanjangkan rambutnya. Minusnya, dia anti-cewek—maksudnya, kaum menolak nikah. Masih usia belasan saja dia sudah berpikir begitu. Apa tidak sia-sia ketampanannya? Oh iya, cara mengucapkan namanya adalah 'Oor-sawn'. Kata Mbok Ruminah lagi, namanya terdengar seperti merek sirup zaman si Mbok anak-anak.
Lain Ourson, lain juga Francoise—cara mengucapkan namanya adalah 'Frahn-swahz'. Ia memiliki warna kulit campuran Eropa dan Afrika. Hal ini mengikuti garis keturunan almarhum ibunya yang merupakan wanita Eropa berdarah campuran. Francoise cenderung lebih ceria dan lebih berinisiatif. Francoise secara official menyatakan diri sebagai pengawal pribadiku dan benar-benar mencetak kontrak resminya yang berlaku seumur hidup, lengkap dengan stempel Emilio's Group.
Berbeda dengan Ourson yang tampan, Francoise dari segi wajah terbilang biasa saja. Karena itulah ia sangat mengagumiku, yang katanya 'ange comme ça' (seperti malaikat). Francoise selalu bersikap layaknya big sister padaku, dan aku pun menganggapnya begitu. Ia berhati baik, atau hanya pada keluarga kami saja? I don't care. Yang pentinng bagi mereka, anak-anak Regi adalah harta yang wajib mereka jaga.
Kenapa mereka kuceritakan? Karena saat ini, di bulan puasa ini, mereka datang berkunjung bersamaan ketika Regi pulang.
"Ma belle, ce vase, je l'ai acheté directement à l'artiste Geoffrey lui-même, genre quand je suis passée à sa galerie," ucapnya dengan bangga menceritakan asal-usul vas bunga antik yang ia berikan sebagai oleh-oleh yang ia beli di galeri seni Geoffrey.
"Mais si, j'aime trop ! C'est super joli... Le mélange des couleurs est tellement... euh... brillant," jawabku yang mengatakan bahwa aku suka barang pemberiannya sembari melihat vas bunga yang sekarang kugenggam.
"Pourquoi tu viens pas avec nous en France, chez les Le Blanc ? Ça me ferait trop plaisir de partager ma chambre avec toi," ujarnya bertanya mengapa aku tidak ikut tinggal di Prancis. Francoise juga bilang bahwa ia akan senang sekali bila satu kamar denganku.
"Y a deux raisons. Déjà, mon lycée est ici en ce moment, du coup j'ai un peu la flemme de devoir déménager," kujawab dengan dua alasan, yang pertama karena sekolahku di sini dan malas rasanya kalau harus pindah dan beradaptasi dengan kehidupan baru.
"Et la deuxième, c'est quoi?" tanyanya soal alasan keduaku.
"Ouais, enfin... tu vois quoi... J'ai pas trop envie de voir ma petite sœur," kuberikan alasan keduaku bahwa aku tidak mau berjumpa dengan adikku.
"Oh mon Dieu, allez... Ce serait trop bien qu'on soit toutes les trois dans la même chambre, on pourrait faire des potins sur les mecs ," ujarnya merayuku dan bilang bahwa akan seru bila bertiga mengobrol bersama, bergosip tengang cowok-cowok.
Kugoyangkan kepalaku menanggapinya. Aku harus bertemu adikku? Akan kubuat dia seperti di neraka.
"T'as eu combien de mecs?" tanyanya yang beralih topik jadi menanyakan aku sudah punya berapa cowok.
"Quoi... combien ? Aucun... !" balasku yang tentu saja kaget dengan pertanyaannya. "Berapa", satu saja aku tidak punya.
"Haha... attends, t'es sérieuse? T'as jamais eu de mec? Mais j'étais sûre que t'en ramenais plein ici, non ? Genre vraiment ?! Pourtant tu vis toute seule," ujar Francoise agak antusias. Ia tidak percaya dengan jawabanku dan bahkan sanksi karena aku tinggal sendirian.
"Pas du tout, mon faucon. Maripona va grave m'engueuler, et Papa sera jamais d'accord de toute façon. Et toi alors, t'en as déjà eu?" Balasku yang bilang bahwa tentu saja aku tidak bisa begitu, Maripona akan memarahiku dan bukannya Papa juga tidak akan suka?
"La vache, Maripona c'est même pas ta mère, haha! Et ton oncle, il a vraiment le temps de penser à ça? Franchement moi j'ai déjà pécho quatre mecs. On a traîné ensemble, fait des rencards, dîné, galoché, et couché ensemble..." ucapnya santai saja. Ia bilang bahwa aku harusnya tidak terlalu memikirkan pendapat Maripona yang bukan ibu kandungku. Ia juga meragukan Papa akan peduli soal itu. Francoise bahkan membeberkan bahwa ia sudah empat kali pacaran hingga batas yang intim.
"Hmm, du coup t'as... euh... fait ça? Genre, avec les quatre?" tanyaku mengklarifikasi ulang apa benar ia sudah pernah melakukan hal intim dengan keempat pacarnya.
"Bah ouais, grave... En même temps, ça sert à quoi d'avoir un mec si c'est pas pour faire ça?" Ia tersenyum lebar menanggapi pertanyaanku dengan santai. Ia bilang buat apa juga punya cowok kalau tidak pernah melakukannya.
Wajahku agak memerah. Padahal yang bercerita Francoise, tapi aku yang belum pernah jatuh cinta ini jadi penasaran.
"Ah ouais, c'est vrai... Du coup, t'es... vierge?" Secara gamblang ia bertanya apa aku masih perawan.
Aku mengangguk sambil memasang wajah polos. Mungkin wajah bodoh yang polos.
"Hahahahaha... la vache, en étant aussi canon, t'as jamais fait l'amour... Tu te fais pas chier?" ucapnya seru sendiri. Francoise mentertawakan statusku yang masih ting ting.
"Hé oh, ça va, on est pas en Europe ici... Pourquoi tu me charries, là," ujarku sebal sambil menepuk-nepuk paha Francoise.
"Hahaha, désolée... C'est juste trop marrant, c'est tout... Haha," ia meminta maaf telah mengejekku tapi masih tertawa.
Di tengah obrolan seru kami itu, Ourson membuka pintu lalu masuk. Wajahnya seperti biasa: serius, mirip seorang komandan yang sedang mengecek kamar para kadetnya.
"Wesh, je vous cherchais partout! Du coup, on fait ça ou pas?" tanyanya soal apa rencana jalan-jalan kami jadi dilaksanakan atau tidak.
"Et si tu testais avec lui?" gumam Francoise padaku. Ia bilang bagaimana kalau pengalaman itu dilakukan bersama Ourson saja.
"Hmm, en vrai pourquoi pas... Ourson est trop beau gosse... Mais j'hésite," aku menyetujuinya karena kupikir Ourson ganteng, tapi aku ragu.
"Sur le fait qu'il soit gay ou pas?" tanya Francoise yang menangkap maksud keraguanku soal Ourson itu gay atau bukan.
"Hé, frérot ! Ça te dit de coucher avec Daniella? Elle est encore vierge," ujar Francoise lantang, menawarkanku pada Ourson. Pakek buka informasi soal aku yang masih perawan.
Kutepuk pundaknya sebal. Percaya diri banget bilang seperti itu!