Aku tidak bermaksud nguping, sih, tapi kedua entitas yang berisik ini berbicara dengan cukup lantang dan cukup dekat untuk bisa kudengarkan.
"...hobi banget, ya? Sudah tahu belum, ada siswi pindahan dari Sumatra? Cantik banget katanya," ujar Jimmy, siswa yang duduk dua baris dari kiriku.
"Yang benar? Beneran enggak? Nanti kayak Little Marsha lagi," ujar Hartono yang terdengar ragu.
"Seriusan, Ton! Cuma anaknya galak... dari kelas excellent E, atlet karate," jawab Jimmy lagi.
"Namanya siapa?" tanya Hartono.
"Siapa, tuh... agak susah... ada Anger-angernya... Angera... eh, Angrea Mahalini," kembali si Jimmy berbicara.
Tunggu... Mahalini? Mahalini dari keluarga Mahaseroja? Berarti ia harusnya kerabatku. Tapi aku tidak tahu, siapa, ya? Apa tanya Gege saja? Penasaran, sih.
"Hei, kalian, bisa tolong kecilkan suaranya? Aku agak terganggu," ujarku pada mereka berdua.
Saat ini di kelas hanya ada aku, Jimmy, Hartono, serta dua orang siswi yang kalau tidak salah bernama Wina dan Amber. Kami adalah yang pertama datang. Tetap aku yang urutan pertamanya, sih, mereka menyusul kemudian.
"Eh, iya... sorry, Daniella. Yaelah, marah..." ujar Jimmy diiringi senyum konyolnya.
"Kalian bebas bergosip, tapi tolong jangan mengganggu yang lain," ujarku.
"Cantik-cantik ketus, gimana mau punya teman," gumam Hartono sedikit berbisik sambil beranjak menjauh.
"Heeeh, jangan begitu," balas Jimmy yang juga berbisik.
Terserah, sih, mereka mau mengataiku apa. Yang jelas aku mau kenyamananku. Dan berisiknya gosip kalian jelas membuatku tidak nyaman.
Tapi aku beneran penasaran soal Angrea Mahalini ini. Aku belum pernah mendengar namanya. Ya, bisa dibilang Amaku memang meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke sini, jadi wajar jika aku tidak terlalu kenal saudara jauh. Papa juga lebih banyak di Prancis bersama Marvellina dan hanya pulang ketika Natal atau jika ada kesempatan.
Angrea Mahalini... aku sepertinya harus menemuimu sepulang sekolah.
---
(Saat jam pulang sekolah)
"Hai, eum permisi... ada Angrea-nya? Angrea Mahalini," tanyaku pada tiga orang siswi yang sedang mengobrol di depan kelas.
Sekolah memang sudah selesai, meski masih ada beberapa siswa yang tersisa.
"Wah, Daniella Maharani, ya? Tumben ke sini... Oh, Angrea yang pindahan? Kayaknya sudah menenteng tas deh tadi," jawab siswi bertubuh paling besar yang entah bagaimana mengenal namaku. Mungkin karena aku supreme.
"Lho, dia kan ke klub karate, Nad. Atlet kan wajib rutin latihan," ujar siswi dengan rambut buns.
"Oh iya. Angrea kayaknya ada di dojo klub karate. Daniella, boleh minta nomornya enggak? Nyariin anak pindahan buat apa?" tanya si tambun.
"Oh, ini nomor kerjaanku, kok. Oke, klub karate, ya. Thanks, ya!" ucapku seraya memberikan secarik kartu nama yang tertera nomor official kerjaku.
Aku memang punya dua nomor: satu nomor pribadi, dan satu lagi untuk urusan pekerjaan. Yang kukasih ke orang yang baru kukenal tentu nomor kerja.
Aku pun bergegas menuju ruangan klub karate, atau yang biasa mereka sebut dojo. Tempat ini berupa bangunan seluas 10 x 10 meter yang dikelilingi jendela geser, serta sebuah ruang loker yang berfungsi sebagai ruang ganti baju. Dalam beberapa menit, aku pun sampai di depan dojo karate Gyo Ju Ru TJ High School.
"Permisi, sorry mengganggu. Ada Angrea-nya? Angrea Mahalini," ucapku pada dua orang siswa yang tengah bersiap berlatih.
Salah satunya berbalik badan, agak terkejut mendengarku memanggil nama itu sampai mulutnya membentuk lingkaran.
"Oh, Angrea ada," siswa dengan gaya rambut spiky celingukan, sepertinya mencari Angrea. "Eh, Angrea!! Ada yang nyariin!"
Beberapa saat kemudian, Angrea muncul sambil menatap tajam padaku.
Angrea Mahalini. Seperti yang dari tadi dibicarakan, ia amat kuat. Bayangkan saja, saat ini aku sedang melihatnya mematahkan dua batang kikir baja rangkap dengan benturan kepala—atau lebih tepatnya bagian keningnya. Woow... memang kata Ama, para Mahalini kuat-kuat, sih. Kedua anak laki-laki tadi juga sama terkejutnya denganku.
Gadis ini berambut lurus agak bergelombang, lebat sebahu dengan model ponytail. Ia berperawakan tinggi, hampir menyamaiku. Kulitnya kuning langsat dengan wajah yang proporsional dan leher yang jenjang. Hidungnya mancung dengan bentuk rounded di ujungnya. Alisnya cukup tebal dengan bentuk sempurna, serius. Garis rahangnya semi-tegas, namun tidak sampai sepertiku. Dan bawaannya tomboi, meski sejujurnya kuakui ia amat sangat cantik.