"Nona, kenapa harus repot-repot pakai cara lain untuk mengendalikan Angrea? Biarkan Ipoh nan memberitahu ka Arunika, iko sudah tugas ma," ujar Ipoh sedikit bernada tinggi disertai kepanikan. Ia mondar-mandir di lantai kitchen sementara aku dengan santainya mengambil satu jar jus jeruk dan menuangkannya ke gelas untuk aku minum.
"Indak ba'a... Ella yang mau, iko sudah jadi kesepakatan kito... Ella nak tunjukkan ka sadonyo, bahwasanyo Ella bisa mamiliki Angrea bahkan tanpa memakai kuasa Maharani," jawabku.
"Tapi, Nona... tetap saja Ipoh keberatan. Nanti Nona bisa terluka. Angrea itu dididik dengan keras oleh para jawara Mahalini," ucapnya dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
Oh, Ipoh, kasih sayangmu tulus, engkau begitu mengkhawatirkanku. Kusimpan gelas berisi air jeruk yang sedang kuminum. Kudekati nanny-ku itu, kusentuh kedua pipinya.
"Tenang saja, Ella bukan gadis bodoh yang menentukan sesuatu sembarangan. Ella sudah perhitungkannya, dan Ella yakin Ella pasti menang,” jawabku dengan penuh keyakinan, keyakinan yang penuh perhitungan.
"Lagi pula, selama tiga bulan ini Ella sudah memperkuat bela diri Ella. Ella sudah bisa membanting Erik sembilan kali selama tiga bulan ini," tambahku dengan senyum simpul.
"Hiks... Ipoh takuik Nona ka luko lah... Urang Mahalini tu memang kuat-kuat, tarutama turunannyo Arunika," ujar Ipoh, tidak menghiraukan ucapanku dan masih tetap mengkhawatirkanku.
"Tapi... kito ni Maharani cerdas-cerdas, Ella enggak berencana bertarung dengan otot saja... Ella yakin keberanian Ella akan bisa meluluhkan hati si Angrea ini," jawabku mantap menenangkan hatinya.
Ia lalu memelukku begitu erat, begitu penuh rasa sayang. Rasanya seakan-akan aku hendak bertarung melawan monster saja.
"Kau sama persis Ama kau, begitu berani, begitu baik hati... Ipoh dan Arunika akan mengawasi Angrea ini selama kalian sparring," ucap Ipoh dalam pelukannya.
"Makasih, Ipoh," jawabku.
Oh, Ipoh, Ella sayang banget sama Ipoh. Ipoh bagai ibu Ella sendiri. Terima kasih sudah selalu mengkhawatirkan Ella, maaf Ella banyak tingkah dan selalu merepotkan Ipoh. Dan sepertinya itu akan berlangsung seumur hidup Ipoh.
---
Seminggu kemudian di Wisma Maharani, sparring antara Daniella vs Angrea pun dilaksanakan. Hal ini tentunya dilakukan di bawah pengawasan Bu Arunika, Maripona, Bang Djuriat, dan Erik. Sparring juga disaksikan oleh Mbok Rum, Pak Handoko, dan Pak Joko yang bersiap dengan kotak P3K-nya.
"Macam-macam saja kau, Angrea! Nona Maharani, sudahlah, nanti biar Djur yang menasihati adik Djur ini!" ucap Djuriat agak marah pada Angrea.
"Ini sudah persetujuan kok, Bang. Khawatir apa Abang...? Dikatoan inyo tu Maharani, mestinyo inyo indak kalah, kan?" jawab Angrea. Memang seperti itulah kakak beradik keluarga Bu Arunika.
"Nona, berpikirlah dua kali, tolong dibatalkan saja, Bundo takut kalian terluka. Bundo rasa tak perlulah seperti ini, Angrea iko cuma sedikit badung. Biarlah Bundo yang ajari tata krama dan kewajibannyo pada Nona selaku Maharani. Lagi pula Bundo dah bajanji sama Ama kau... bahwa Bundo akan...." ujar Bu Arunika begitu panjang lebar, bahkan membuat Djuriat menggelengkan kepala sambil menghela napas.
"Indak apo, Bundo. Terima kasih perhatiannya, tapi ini biar jadi pembuktian antara Ella dan Angrea," jawab Daniella agak memotong kalimat yang sedang diucapkan Bu Arunika.
"Oke, Angrea. Sesuai perjanjian, kalau Ella menang, kau wajib mengikat sumpah sakral Maharani khusus pada Ella," ucap Daniella seraya menatap Angrea dengab tegas.
Keduanya sudah mengenakan pakaian pangsi khas keluarga Mahaseroja lengkap dengan sabuknya. Angrea bersabuk warna emas, sementara Daniella bersabuk warna ungu berkilau.
"Iyo, Rea manusia tepat janji, tanang jo," jawab Angrea menyambut tantangan yang diucapkan secara resmi oleh Daniella.
"Peraturannya simpel. Siapa keluar garis dia kalah, yang menyerah dia kalah, yang pingsan dia jua kalah. Kalau terlalu berbahaya, pertandingan akan dihentikan oleh orang tua kita. Ella tidak akan pakai kuasa Maharani sampai selesai," ucap Daniella.
"Iyo, paham la awak... ayo, maju saja," jawab Angrea tersenyum lebar meremehkan, sambil mengepalkan tinju di depan wajah.
"Oke," ujar Daniella.
Pertandingan antara keduanya pun akhirnya benar-benar dimulai. Tak ada aturan selain yang sudah disebutkan; tak ada larangan pada pertarungan ini. Prinsip tarung jalanan adalah prinsip yang dipakai di dalam sparring ini, memastikan semuanya adil bagi kedua belah pihak.
Keduanya memasang kuda-kuda masing-masing. Angrea dengan kuda-kuda rendah khas Inyak Balang yang tegas, dan Daniella dengan kuda-kuda khas Limbubu yang luwes.
"Yak, mulai!" ucap Erik yang ditunjuk menjadi wasit.
Angrea langsung menerjang duluan. Serangan beruntunnya nyaris mengenai Daniella, tetapi berhasil dihindari ke samping dengan sebuah tangkisan pada tendangan yang dilancarkan Angrea ke arah kepala. Maripona meringis, hampir melangkah maju namun ditahan. Di bidang tarung berbentuk lingkaran yang cuma berdiameter empat meter ini, tiap gerakan memang perlu perhitungan. Terus mundur hanya akan merugikan diri sendiri. Angrea masih menyerang dengan sebuah cakaran tegas ke arah wajah Daniella. Dengan sigap, Daniella menurunkan kuda-kudanya, lalu melakukan gerakan halus membengkokkan pergelangan tangannya untuk menangkis pukulan yang Angrea arahkan. Dalam sepersekian detik dari posisi menangkis tadi, ia melancarkan serangan pukulan telapak ke arah rusuk. Angrea melompat mundur menghindari serangan yang diarahkan padanya.