The Pink Velvet: Life Altering

Wachyudi
Chapter #16

I'am The Madame of This House!!!

Bocah itu akan datang. Ya, Marvellina yang kata Papa akan bersekolah di sini. Dan hari ini kedatangan mereka dari Prancis. Kata Papa, ia dan Marvellina tengah dalam perjalanan dan sudah sampai di Tol Cipali... berarti mereka akan muncul dari gerbang Tol Ciperna kira-kira setengah jam lagi. Baiklah, Marvellina, aku akan tunjukkan siapa kepala rumah tangga di Wisma Maharani ini.

---

(Di mobil jemputan yang membawa Reginald dan Marvellina)

"Es-tu nerveux?" tanya Papa padaku. Apa aku nervous atau tidak? Tentu saja, Papa. Siapa yang tidak nervous bila tahu akan bertemu dengan orang yang membencimu seumur hidupnya?

"Oui, Papa," jawabku.

"À cause de Daniella?" Papa memperjelas maksud pertanyaannya.

Aku mengangguk sambil memasang wajah cemas. Dahiku bahkan meneteskan keringat saking cemasnya.

"Hmm, kenapa?" tanya Papa lagi menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa bulan sebelum kesini aku memang dilatih oleh seorang guru bayaran untuk bisa berbicara bahasa Indonesia.

"Papa tahu, kan, kalau Daniella tidak menyukaiku? Dia membenciku," jawabku.

Papa tersenyum, lalu menghela napas memandangku.

"Bagaimanapun dia adalah kakakmu, anak yang berbagi darah yang sama denganmu, Ina. Dan Indonesia adalah tempat kelahiranmu," ujar Papa.

"Tapi Daniella membenciku. Dia pernah menggunting rambutku. Mungkin dia akan menusuk jantungku saat aku tertidur," ucapku. Ya, mengarang sih, tapi Daniella itu jahat. Dan soal rambutku yang pernah diguntingnya hal itu nyata.

"Hahaha, tidak mungkin, Ina... Daniella sebenarnya anak yang baik, dia hanya... ya... salah paham," ujar Papa berusaha menenangkanku.

"Aku tidak membunuh Maman, aku juga cinta Maman... tapi Daniella marah padaku soal Maman," kuungkapkan isi hatiku. Aku tahu Daniella membenciku karena hal ini.

Papa lalu merangkulku, memberikan pelukan hangat yang selalu kusuka.

"Mari kita temui kakakmu ini. Papa yakin dia akan bisa menerimamu... itu juga alasan kenapa kau harus pindah ke sini. Agar hubunganmu dengan Daniella bisa membaik sebelum kau berumur dua puluh satu tahun," ujar Papa.

"Memang kenapa, Papa, kalau aku sudah berumur dua puluh satu tahun?" tanyaku, belum tahu soal ini.

"Seseorang harus menentukan kewarganegaraan sebelum ia berumur dua puluh satu tahun. Dan Papa harap sebelum itu kau bisa berbaikan dengan Daniella... dan lalu kau bisa menentukan akan tinggal di Le Blanc' atau menjadi bagian keluarga Mahaseroja," jawab Papa.

Ah, aku paham. Rupanya Papa tidak mau kedua anaknya berseteru sebelum aku menentukan kewarganegaraanku. Meski masih belia, aku paham bahwa bagaimanapun kami berdua adalah penerus RAGE, dan dualisme dalam sebuah perusahaan besar itu haram hukumnya. Daniella sendiri adalah 'harta berharga' bagi Papa dan RAGE. Dan tentunya akan buruk kalau kami berdua tidak akur, khususnya ketika aku kelak akan memimpin RAGE. Baiklah, Papa, Ina sayang Papa. Ina akan berusaha berbaikan dengan Daniella. Tapi, apa Daniella mau berbaikan denganku?

---

(Beberapa kilometer kemudian)

"Selamat datang, Tuan Reginald," ujar Maripona, kepala pelayan rumah Maharani ini.

"Lama tidak bertemu, Nona Marvellina. Anda sekarang semakin cantik," ujar Maripona seraya menyentuh bahuku, lalu mengelus pipiku.

"Oui... merci, Maripona," jawabku tersenyum padanya. Maripona memang baik. Ia juga tampaknya cukup shaleh, terlihat dari ia yang mengenakan turban di kepalanya.

"Terima kasih. Daniella mana?" tanya Papa pada Maripona.

Wanita itu tersenyum geli sambil menutupi senyumannya.

"Hmmm... dia sudah menunggu Anda dan Nona Marvellina di ruang keluarga," jawabnya.

Papa mengernyitkan dahi, memasang wajah penuh tanda tanya.

Lihat selengkapnya