(Marvellina berdiri di depan pintu kelas, mengendong tas punggungnya. Ia tampak menunggu sesuatu)
Hari pertama aku masuk sekolah di Indonesia. Sekolah ini memang sekolah bertaraf internasional. Jika dilihat dari fasilitasnya sekolah ini cukup bagus. Ya jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di pinggiran Prancis jelas sekolah ini lebih unggul. Aku tidak menyangka Indonesia cukup modern padahal negaranya tidak terlalu terkenal.
Ada alasan kenapa Papa menyekolahkanku maupun Daniella di sekolah seperti ini. Circle jelas, gampangnya kami tidak bisa bergaul dengan sembarangan "kaum". Dan khusus TJ, sudah kredibel di mata Papa yang berkiblat ke Barat, di mana sekolah jenis ini juga mempersiapkan lebih dini siswa-siswinya untuk ke jenjang universitas, khususnya kalau sering pindah negara. Ada dua sekolah setipe, tetapi Papa tidak merekomendasikannya karena menurut Papa keduanya terlalu inklusif pada paradigma masing-masing. Dan lingkungan yang baik bagi seorang ilmuwan adalah yang open-minded. Tapi mungkin tidak akan mulus juga, come on, beda bangsa dan beda budaya antara aku dan sebagian besar murid di sini. Aku tidak akan kaget jadinya akan seperti apa.
"Anak-anak mohon perhatiannya! Hari ini kita kedatangan murid baru yang masuk sebagai murid TJ di awal semester. Silakan, kamu masuk," ujar guru wali kelas Excellent A ini lalu memanggilku yang berdiri di luar kelas menunggu.
Aku pun menghirup napas lalu melangkah masuk. Ayolah, ini mungkin hanya sulit di awal, lalu ke sananya aku tidak akan dihiraukan. Tidak akan lebih buruk dari waktu elementary, 'kan?
Aku sudah berdiri di hadapan 29 siswa dan siswi kelas Excellent A. Sekadar info, Excellent A adalah kelas terbaik yang diisi 30 siswa dengan peringkat tertinggi. Yang artinya ada 30 otak paling genius dalam satu angkatan di kelas ini, termasuk aku. Dan Papa sudah "mengondisikan" agar aku bisa langsung masuk Excellent A. Tentunya syarat dasarnya tetap berpegang teguh pada kualitas individu. Dan aku yakinkan bahwa aku adalah anak yang terdefinisi genius.
"Eum, I'm Marvellina Le Blanc', I'm from Union Elementary School Paris. Well, actually my complete name is Marvellina Maharani Le Blanc'... that's all," ucapku. Kuharap cukup, meski sepertinya amat singkat.
"Ada yang mau bertanya?" ujar Bu Guru berkacamata dengan rambut high ponytail di sampingku.
Dan sebagian besar murid mengacungkan tangannya... Dengan amat antusias.
"Oke, Taki," ujar Bu Guru menunjuk seorang siswa.
"Kamu bisa bahasa Indonesia enggak? Bahasa Inggrismu medok Perancis ya? Haha," tanyanya yang sepertinya bisa menilai aksenku.
"Bisa, mungkin akan terdengar kaku, tapi aku sudah belajar," jawabku langsung praktik menggunakan bahasa Indonesia yang sudah cukup kukuasai.
Unjuk tangan lalu mulai lagi. Dan kali ini mereka terlihat jauh lebih antusias. Anak-anak di Indonesia sepertinya senang kalau melihat orang asing bisa bahasa mereka.
"Desi, silakan," Bu Guru menunjuk siswi berambut curtain bangs.
"Kamu half-breed? Campuran apa?" tanyanya.
"French dan eum... Minangkabau, Sumatra Barat," jawabku.
"Weeew, bisa bikin baguette kikil nasi padang dong... haha," ia sepertinya sedang bercanda karena kemudian terdengar tawa dari seluruh kelas.
Aku juga ikut tersenyum menanggapi, meski aku tidak tahu kikil itu apa, tapi sepertinya nama jenis makanan khas Minangkabau. Setelah tawa renyah, kembali para siswa unjuk tangan.
"Ya, Sauqi," ujar Bu Guru menunjuk seorang siswa yang duduk di depan. Hm, ada juga cowok tampan di kelas ini. Bohong Francoise bilang kalau dia belum pernah bertemu cowok yang good looking di sini.
"Tadi kamu sebut nama kamu Marvellina Maharani Le Blanc'? Dua pertanyaan boleh, ya? Panggilannya apa? Terus kamu tuh saudaranya Kak Daniella Maharani, tah?" tanyanya. Cukup tepat tebakannya.
Daniella cukup terkenal rupanya, bahkan anak di angkatanku saja ada yang mengenalnya.
"Wah, Sauqi nih... ngincer nih kayaknya," celetuk seorang siswi yang duduk agak ke belakang.
"Lha, orang tanya... usil banget," ujar si Sauqi ini.
Aku menunggu percakapan mereka selesai, ya, sambil agak memandangi anak cowok yang barusan bertanya.
"You can call me... sorry, kalian bisa panggil aku Ina. Beberapa temanku dulu memanggilku Marvelli, cuma itu seperti nama laki-laki. Dan Iya, betul... aku adik kandungnya," jawabku.
Dan dalam sekejap sekelas bergemuruh kecil. Wow, sesuatu yang besar, ya, menjadi adik dari Daniella Maharani?
"Berarti kamu juga super genius?" Terdengar celetukan suara siswi entah yang mana.
"Perhaps," jawabku sambil menaikkan bahu.
"Oh, pantes Namira tergeser," ujar seorang siswi.
Aku paham sih soal nama siswi yang disebut tadi. Kemungkinan ia tergeser ke kelas di bawahku karena aku masuk kelas ini. Di sini khusus kelas Excellent A, benar-benar hanya diisi 30 siswa saja. Namun yang tidak aku paham, kenapa aku dikorelasikan dengan Daniella hanya karena aku adiknya.