The Princess of The Moon

Rakanta
Chapter #1

Prolog

Dahulu, sebelum dunia menjadi sesempit dan sepahit sekarang, ada sebuah hikayat yang senantiasa hidup di balik jilatan api perapian. Ketika malam mulai menjatuhkan tirainya dan hawa dingin menyelinap dari celah jendela, para orang tua akan merapatkan selimut anak-anak mereka, lalu mulai menggumamkan kisah itu dengan suara yang berat oleh kerinduan. Para nenek pun, dengan tangan yang gemetar dan keriput, akan membelai rambut cucu-cucunya sembari membisikkan sebuah nama yang terdengar seperti nyanyian, Elendria.

Kisah itu sebenarnya bersumber dari seorang pujangga besar di masa lampau. Namanya telah lama lumat oleh waktu, namun kebaikannya masih terasa dalam tiap bait yang tersisa. Konon, sang pujangga adalah pria paling santun yang pernah memijak bumi, tapi matanya selalu menyimpan mendung kesedihan. Setiap kali ia mulai merangkai kata tentang masa lalu, hatinya akan teriris perih, seolah-olah luka lama itu kembali menganga dan berdarah.

Karena satu dan dua hal dari kebenaran yang terlalu tajam, sang pujangga akhirnya memilih untuk sedikit membengkokkan arah cerita. Dengan kebaikan hatinya yang tulus, ia mengubah beberapa bagian dari cerita tersebut. Ia menyulap jerit kesakitan menjadi nyanyian burung, menghapus genangan darah dengan kelopak bunga yang berguguran, dan memberikan akhir yang lebih manis bagi mereka yang sebenarnya telah hancur. Ia ingin dunia mengingat keindahan, bukan kebiadaban. Ia tak ingin hati anak-anak kecil itu ikut menangis dan menderita sebelum waktunya tiba.

Maka, kisah yang tersebar adalah kisah yang telah diperhalus oleh kasih sayang, sebuah dongeng yang berjarak dari perih aslinya.

Seiring berlalunya tahun dan abad, orang-orang yang mengingat kisah aslinya mati satu demi satu, menyisakan cerita sang pujangga yang terus bergema di bawah kolong langit dalam keabadian.

***

Malam itu, di sebuah kediaman besar yang berdiri kokoh di tengah amukan badai salju, suasana terasa begitu kontras. Di luar, butiran putih jatuh menghujam bumi dengan kasar, menutup jalanan dengan hamparan dingin yang mematikan. Namun, di dalam salah satu kamar yang luas, panas dari perapian dan aroma kayu cendana berusaha mengusir kedinginan.

Di tengah ruangan, seorang balita bernama Rein sedang menangis sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam dan membuat cahaya lilin tampak bergetar. Wajah kecilnya memerah, air mata membasahi pipi tembamnya yang halus bagai sutra.

Lihat selengkapnya