The Princess of The Moon

Rakanta
Chapter #2

Thelessa

Pagi itu seharusnya menjadi pagi indah musim gugur yang tenang seperti hari-hari biasa bagi Kerajaan Elendria. Udara dipenuhi aroma manis yang lamat-lamat, bersumber dari helaian rambut seorang gadis yang baru saja membasuh dirinya di telaga. Ia adalah Thelessa. Parasnya adalah perwujudan dari kemegahan alam itu sendiri, kulitnya seputih susu yang tampak bercahaya di bawah naungan sinar surya, tulang pipinya tinggi dan tegas, memberikan kesan ningrat yang tak terbantahkan. Matanya, yang memiliki manik hijau daun yang tajam namun berwibawa, dibingkai oleh alis tebal yang tertata sempurna. Tiap kali ia menggerakkan kepalanya, surai emas halusnya berkilau, mengeluarkan keharuman bunga vanya, sebuah bnga langka yang hanya mau mekar di tanah suci Elendria.

Bahkan di telinga kanannya yang lancip, ia sempat menyematkan sekelopak bunga vanya merah sebagai pemanis. Di telinganya pula, sepasang anting bermanik keperakan menggantung anggun, yang jika terkena bias cahaya dari sudut berbeda, warnanya akan berubah menjadi kebiruan mistis. Ia mengenakan jubah putih berlengan lebar dengan ikat pinggang hijau sewarna daun yang melingkar di pinggang rampingnya. Ia begitu cantik, begitu anggun, seolah-olah duka tak akan pernah berani menyentuh ujung jubahnya.

Namun, kecantikan itu kini tersapu oleh kengerian.

Wajah Thelessa yang biasanya tenang dan dihiasi senyum tipis, kini pucat pasi dan basah oleh keringat dingin. Ia tidak lagi berjalan dengan suara tuk... tuk... tuk... yang berirama dari alas kakinya di atas lantai batu. Sebaliknya, ia berlari kencang. Ia mengabaikan keanggunan jubah putihnya yang kini berkibar liar, sesekali tersingkap tinggi agar langkah kakinya tak terbelit kain. Di sekelilingnya, Kota Elendria yang biasanya damai telah berubah menjadi neraka.

Asap hitam mulai membumbung dari beberapa bangunan, menodai langit biru yang suci. Warga peri berlarian tanpa arah, memeluk anak-anak mereka dengan wajah penuh tangis. Para prajurit Elendria dengan baju zirah perak mereka berlari kocar-kacir, tapi tetap berusaha membentuk barikade di gerbang-gerbang kota. Beberapa prajurit elit yang berlari menuju garis depan sempat menyenggol bahu Thelessa dengan kasar karena terburu-buru.

“Maaf, Ratu Muda!” seru salah satu dari mereka tanpa sempat menoleh.

Thelessa tak acuh. Ia tak merasakan sakit di bahunya, karena rasa sakit di dadanya jauh lebih menyesakkan. Tujuannya hanya satu yaitu Istana Emas yang berdiri megah di puncak tangga tinggi. Istana itu, dengan kubah emasnya yang raksasa, kini tampak seperti mercusuar di tengah badai yang sebentar lagi akan karam.

Dengan napas yang tersengal dan kaki yang mulai terasa berat, Thelessa akhirnya mencapai pintu besar bersepuh emas di ruang takhta. Ia mendorong pintu itu dengan sisa tenaganya, masuk ke dalam ruangan luas yang pilar-pilar raksasanya menjulang seolah hendak menyentuh langit. Di ujung ruangan, di atas singgasana yang dingin, duduklah Thorian, ayah sekaligus Sang Raja Agung dan di sampingnya berdiri Seraphine, ibunya yang cantik namun memiliki tatapan sekeras permata.

“Ayah! Ibu! Kita harus lekas pergi!” Thelessa berteriak, suaranya bergema di antara pilar-pilar batu. Ia jatuh bersimpuh di depan mereka, napasnya memburu, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang hijau. “Para manusia itu ... mereka biadab! Aku melihat sendiri dari kejauhan, para wanita dipenggal, anak-anak dipecahkan kepalanya .... Mengerikan sekali, Ayah! Mengerikan!”

Thorian tidak bergeming. Wajahnya yang tampan meski sudah dihiasi gari-garis usia itu tetap tenang, setenang permukaan danau sebelum badai besar. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, itu adalah campuran antara kasih sayang dan kekecewaan yang mendalam.

“Ke mana kita harus pergi, Thelessa?” suara Thorian berat dan berwibawa, menggetarkan udara di ruangan itu.

“Keluar dari sini! Ke hutan barat, atau ke mana saja asal kita selamat!” Thelessa berdiri, ia menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin. “Prajurit kita tak akan sanggup menahan jumlah mereka. Jika kita tidak pergi sekarang, kita semua akan mati!”

“Dan membiarkan rakyatku menghadapi pedang manusia itu sendirian?” Thorian memotong dengan nada yang tiba-tiba meninggi. Ia berdiri dari singgasananya, jubah panjangnya yang bertepi bulu menyapu lantai dengan suara desis yang mengancam. “Kau adalah putri dari Thorian dan Seraphine, calon pemimpin kerajaan peri tertua. Mengapa kau menunjukkan sikap selemah ini di saat rakyatmu sedang meregang nyawa?!”

Thelessa tersentak seolah baru saja ditampar. Tubuhnya bergetar hebat. “Tapi Ayah ... Ayah dan Ibu adalah Raja dan Ratu ... jika kalian mati, Elendria benar-benar berakhir!”

“Justru karena aku adalah Raja!” Thorian menggeram, kepalannya menghantam sandaran tangan kursi hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras. “Untuk apa mahkota emas yang kubanggakan ini jika aku harus lari seperti pengecut saat rakyatku dibantai? Bukankah kita diajarkan bahwa setiap napas kita adalah milik Bunda Cahaya? Jika takdirku adalah mati di sini, maka itulah takdir yang tak bisa diubah!”

Lihat selengkapnya