The Princess of The Moon

Rakanta
Chapter #3

Manusia dan Pecinta Alam

Lautan mayat itu tak lagi menjadi apa pun selain desis angin dingin yang membawa bau anyir darah dan aroma daging terbakar yang memuakkan. Di antara puing-puing kemegahan yang kini runtuh menjadi debu, seorang pemuda melangkah pelan di antara pemandangan menyedihkan itu.

Seorang jenderal muda dengan surai cokelat gelap berantakan, berjalan menyusuri jalanan utama Kerajaan Elendria yang kini lebih mirip liang lahat raksasa. Zirah hitam legamnya memantulkan sisa-sisa api yang masih merayap di sudut bangunan, sementara ukiran singa merah di dadanya tampak seolah sedang mengerang melihat kehancuran ini.

Setiap kali bot kulitnya menginjak genangan darah, dia merasakan mual hebat yang merambat dari ulu hati hingga ke kerongkongan. Manik mata semerah ruby miliknya berkilat penuh ketidaksenangan, sebuah amarah yang tertahan dalam diam.

Pedang-pedang perak milik kaum peri yang ramping berserakan, patah di antara tombak-tombak kasar milik prajurit manusia. Darah-darah mereka bercampur hingga membuat warna merahnya yang menggenangi celah-celah batu lantai tampak semakin gelap.

Langkah beratnya membawa sang pemuda melewati taman-taman istana yang sudah ada sejak masa purba. Pohon-pohon kuno yang telah tumbuh ribuan tahun, yang konon memiliki jiwa serta mampu berbisik, kini berdiri hitam dan kerontang seperti tulang-belulang raksasa menuding ke langit penuh mendung tebal.

Bunga-bunga vanya yang harumnya begitu candu, kini hanya menyisakan abu gosong yang menyesakkan paru-paru. Kolam-kolam jernih tempat para peri membasuh diri kini berubah menjadi kolam lumpur hitam yang mengudarakan bau bangkai.

Di sudut taman yang hancur itu, jenderal muda ini berhenti sejenak di depan patung-patung leluhur peri. Patung-patung marmer putih yang dulunya berdiri dengan anggun dan memancarkan wibawa abadi itu kini tampak mengenaskan. Ada patung tanpa kepala, menyisakan leher yang retak kasar. Ada pula yang lengan marmernya hancur berkeping-keping di atas tanah menghitam. Wajah-wajah yang dipahat dengan penuh cinta itu kini tampak seolah sedang menangisi kehancuran rumah mereka sendiri.

Keputusasaan menggantung begitu tebal di udara, seolah-olah cahaya matahari tak akan pernah berani lagi menyentuh tempat yang terkutuk ini. Sang jenderal muda memalingkan wajah, tak sanggup batinnya menatap mata hampa dari patung-patung yang rusak itu.

Dengan hati semakin remuk, ia menaiki tangga tinggi menuju bangunan paling megah di tempat itu yaitu Istana Emas.

Bagian dalam istana tak kalah mengerikan. Lorong-lorong mewah yang biasanya bercahaya lembut kini penuh dengan noda darah dan barang-barang berharga yang dijarah secara brutal. Begitu ia mencapai pintu besar ruang takhta, ia menarik napas panjang sebelum mendorongnya terbuka.

Di sana, di tengah ruangan yang pilar-pilar raksasanya masih gagah seperti sedia kala, berdiri seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya kurus dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan sepasang mata besar, ia tampak mengerikan karena kilat keserakahan yang tak tersembunyi di baliknya.

Sosok itu mengenakan zirah hitam yang sama dengan sang jenderal muda, tapi jubah merah panjang yang tersampir di punggungnya menandakan posisinya lebih tinggi. Dialah Sir Tristan, sosok jenderal senior Kerajaan Faelor.

"Sir," Elias memanggil dengan nada dingin, berusaha keras menahan bara api yang berkobar di dadanya. "Seluruh area sudah dibersihkan, tak ada lagi yang tersisa, saya heran ... mengapa Anda masih berada di sini, di tengah bau kematian ini? Apa lagi yang masih Anda cari?"

Tristan tidak segera menoleh. Ia sedang mencongkel sebutir permata dari lengan kursi singgasana yang kini kosong. "Bersih? Kau selalu melihat sesuatu dari permukaan saja, Elias," suara Tristan terdengar kering dan parau. Ia akhirnya berbalik, menatap Elias dengan senyum tipis yang merendahkan. "Aku mencari Sigil. Cincin sialan itu tidak ada di jari Raja maupun Ratu saat mereka dipenggal. Seseorang pasti telah membawanya lari, dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku menemukan petunjuk ke mana benda itu pergi."

Elias mengepalkan tinju hingga kukunya memutih. "Hanya demi sebuah cincin? Kita telah membantai ribuan nyawa, menghancurkan kerajaan peri paling kuno hanya untuk hal itu? Apa gunanya cincin itu bagi kita?"

Tristan tertawa, suara tawa yang terdengar kering dan parau. "Kau benar-benar naif untuk seorang Jenderal, Elias. Yang terpenting bukan cincinnya, tapi apa yang bisa ia gerakkan. Sigil adalah bukti berkah Vlamata, simbol kekuasaan tertinggi Elendria yang dihormati oleh semua kerajaan peri. Jika kita memiliki Sigil, maka kerajaan-kerajaan peri lainnya pasti akan tunduk tanpa kita perlu menghunuskan satu pun pedang atau tombak. Kita butuh mereka untuk perang melawan pasukan iblis dari selatan."

Elias melangkah maju, suaranya kini bergetar karena amarah. "Bukankah kita bisa melakukan negosiasi?! Kurasa Peri bukan makhluk berpemikiran pendek. Jika kita bicara sebagai sesama penghuni benua ini untuk melawan kegelapan yang sama ...."

"Negosiasi?!" Tristan menyalak, wajah kurusnya memerah karena amarah yang tiba-tiba meledak. Ia berjalan cepat mendekati Elias hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Bau amis darah di zirahnya terasa begitu menyengat. "Siapa yang membawamu sampai memiliki posisi setinggi sekarang, Jenderal Elias?! Jangan pernah berlagak suci di depanku! Para peri itu adalah makhluk egois yang hanya diam di utara sini, menikmati anggur dan keasrian hutan mereka sementara kita berdarah-darah setiap hari karena pasukan iblis! Mereka membiarkan dunia terancam selama rumah mereka masih utuh karena mereka merasa aman di kejauhan!"

Elias terdiam sejenak. Dalam hati, ia memang menyimpan kejengkelan terhadap ras peri yang seolah menutup mata terhadap invasi pasukan iblis. Namun, kejengkelan itu tidak pernah memberinya alasan untuk setuju dengan pembantaian buta ini.

"Meski begitu, ini tetaplah sebuah pembantaian yang tidak terhormat," balas Elias dengan nada rendah namun tajam. "Ras peri dan kurcaci mungkin tak pernah akur, tapi selama ribuan tahun, mereka tidak pernah saling serang hingga memusnahkan satu sama lain. Kita telah mencatatkan noda hitam pertama dalam sejarah benua ini sebagai ras yang pertama kali melakukan pemusnahan massal terhadap ras lain. Saya merasa amat malu memakai zirah singa ini sekarang."

Tristan mendengus menghina. "Kau terlalu lunak. Istana Emas ini penuh dengan senjata pusaka dan barang berharga yang bisa menunjang biaya perang kita melawan iblis. Emas-emas ini akan membiayai ribuan kesatria baru. Anggap saja ini pengorbanan kecil untuk keselamatan dunia."

Lihat selengkapnya