Belakangan, hari-hari Mena di istananya terasa lebih damai. Kahotep benar-benar menjalankan janjinya. Dia memecat banyak pelayan di Istananya dan menggantinya dengan orang-orang baru. Kahotep berpikir kalau banyak dari pelayan itu sudah lama bekerja dengan kepala rumah tangga yang lama sehingga bisa saja merasa dendam dan menyakiti Mena.
Kahotep tidak terlalu menyukai sang putri, tapi juga tidak membencinya. Dia kini berusaha keras melayani Mena karena dia meyakini kalau karirnya akan lebih baik ke depannya. Kahotep memastikan guci-guci bir di kamar Mena selalu segar dan tidak berbau tajam. Selalu ada kurma dan buah Ara segar di mejanya dan memastikan hanya menyajikan roti empuk yang tidak terkena pasir untuk sang putri.
Kahotep sudah menemukan beberapa tersangka, yang kerap mengganggu kedamaian tempat tinggal sang putri. Mereka menyimpan guci dengan ular-ular berbisa di dalam kamarnya yang bisa mereka lepaskan di sekitar putri. Ular-ular itu tidak terlalu berbisa, mereka tidak punya cukup nyali untuk benar-benar membunuh sang putri. Ada juga yang membawa racun-racun berdosis rendah yang mereka perah dari taring ular atau tanaman gatal yang ditumbuk. Mena pernah terbangun dalam kondisi kulit merah dan gatal akibat mereka dengan lancang menaburkannya di ranjang sang putri.
Yang paling mengejutkan dari semua itu adalah, Kahotep tidak menemukan bukti bahwa para pelayan itu diperintah oleh bangsawan tertentu. Mereka murni membenci Mena untuk alasan yang belum terlalu jelas.
Kahotep menemukan beberapa fakta kalau mereka belum bisa merelakan kepergian Akhenatum II. Pangeran itu memang dikenal baik hati dan bijaksana, kandidat sempurna sebagai Firaun. Kehadiran Mena ditolak oleh mereka karena menganggap Mena adalah perempuan manja serta tidak pantas menjadi Firaun. Ada juga rumor yang disebarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mena menyebabkan kematian Akhenatum II katanya, karena gadis itu menginginkan takhta.
Gadis yang tumbuh besar di kuil Karnak itu tiba-tiba diterjang oleh hawa permusuhan yang kentara, padahal dia tidak tahu apa-apa. Mena memang rutin mengunjungi istana Firaun namun tidak pernah benar-benar menatap lama di sana. Ibunya bersikeras membawa Mena untuk dibesarkan di Karnak sehingga Mena tidak terlalu akrab dengan lingkungan ningrat. Gadis itu bahkan merasa terbebani menjadi calon Firaun. Kesan pertama yang buruk menjadi lebih parah karena Mena bersikap menjauhkan diri, menjadi eksklusif dan lebih suka diam di kamarnya sambil menerawang ke sungai Nil.
Kahotep memecat semua pelayan bermasalah itu tanpa memberikan hukuman berat. Kahotep bilang kalau putri Amen-ra berwelas asih pada mereka dan memaafkan mereka. Kahotep berharap setidaknya itu akan menaikkan sedikit kehormatan dan aura positif dari sang putri.
Kahotep juga memperingatkan mereka kalau terbukti mereka melakukannya lagi, hukuman mati sudah menanti. Itu agar mereka sadar dengan siapa mereka berurusan. Bagaimanapun Mena adalah seorang putri dan kandidat kuat Firaun selanjutnya.
Mena bukan lagi putri yang selama ini dianggap tidak dicintai Firaun dan ditelantarkan di kuil Karnak. Apalagi sekedar wanita yang sejak belia dididik menjadi calon ratu yang sempurna. Tugasnya bukan lagi sekedar bersolek dan melakukan ritual persembahan bagi para dewa. Kini Mena harus belajar banyak hal yang selama ini biasanya hanya bisa disentuh kaum pria.
"Selamat pagi putri Amen-Ra, para pelayan sudah menyiapkan air mandi anda. Saya membawakan kelopak mawar dari Persia yang kudapatkan dari kenalanku yang mengelola lumbung istana dan sudah kutaburkan di air mandimu, itu akan membuat kulit anda harum. Belakangan banyak tamu dari luar wilayah Nil berkunjung ke Mesir, mereka membawa banyak barang bagus," Kahotep membuka selubung yang menutupi celah di kamar sang putri yang mirip jendela. Membiarkan kulit eksotisnya diterpa kehangatan mentari.
Sang putri menguap dan menggeliatkan tubuhnya dengan perasaan damai. Sebelum datangnya Kahotep, dia tidur terlalu malam dan bangun terlalu pagi karena gelisah.
"Apakah mereka melakukan perdagangan di sini?" Mena bertanya.
"Ya, putri Amen-ra, mereka menyukai linen dan obsidian Mesir. Kapal-kapal mereka tertambat di sepanjang Nil dan pasar-pasar mulai ramai dengan benda-benda unik yang jarang ditemui di Mesir," Kahotep berkisah.
"Aku berharap bisa berkunjung, tapi aku hampir terkena masalah ketika terakhir kali aku ke pasar untuk mencari jasad burung falcon tempo hari," Mena menggumam.
Kahotep lalu menyajikan sebuah piala berisi cairan berasap. Mena tidak pernah mencium aroma itu sebelumnya. Baunya harum dan membangkitkan semangatnya bersamaan dengan perasaan nyaman. Kahotep meletakkannya di samping piring roti dan buah-buahannya.
"Apa ini?" Mena menunjuk pada tanaman kering kemerahan yang mulai layu dan mekar karena mengisap kelembaban air panasnya
"Teh mawar putri Amen-ra, dari Persia. Selain harum, katanya ini menyehatkan," Kahotep menjawab.
Mena mengendusnya sedikit lalu menenggaknya perlahan. Dia memejamkan mata. Biasanya orang Mesir menjadikan bir sebagai minuman utama mereka, bahkan lebih sering dikonsumsi ketimbang air. Anak-anak Mesir juga sudah terbiasa minum bir sejak kecil. Bir biasanya tidak awet dan mudah basi karena cuaca Mesir yang panas dan lembab karena itu bir selalu dibuat segar setiap harinya. Mena menemukan sedikit rasa manis dari madu di seduhan mawarnya. Dia mungkin lebih menyukainya daripada bir, karena minuman ini tidak menimbulkan sakit kepala setelahnya
"Anda tidak lagi terlalu berwaspada dengan hidangan istana anda," Kahotep menyela.
"Maksudnya?"