Malam semakin larut.
Lampu-lampu kota Raventon menyala satu per satu, menggantikan cahaya senja yang telah benar-benar hilang. Jalanan masih hidup, suara kendaraan, klakson sesekali, dan percakapan orang-orang yang lalu lalang.
Andra berhenti di pinggir jalan.
Ponselnya bergetar.
Pesanan masuk.
Ia menatap layar beberapa detik, lalu menarik napas pelan sebelum menerima orderan itu. Seolah ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya… dari apa yang baru saja terjadi.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di depan sebuah restoran cepat saji. Tanpa banyak bicara, ia mengambil pesanan, memasukkannya ke dalam tas, lalu kembali menyalakan motornya.
Angin malam menerpa wajahnya saat ia melaju. Namun pikirannya tidak benar-benar kosong.
Bayangan Nayra.
Tawa itu.
Dan wajah Darren.
Semua bercampur, berulang, tanpa jeda. Wajahnya selalu tampak gelisah seperti sedang mencari cara
Ia berhenti di depan sebuah gedung yang terlihat lebih mewah dari sekitarnya.
Lampu-lampunya terang.
Satpam berdiri tegap di depan pintu.
Andra menurunkan standar motornya, mengambil tas makanan, lalu berjalan masuk sesuai instruksi pengantaran.
Namun langkahnya terhenti sesaat.
Suara.
Terdengar cukup keras dari dalam ruangan di ujung koridor.
Nada tinggi. Penuh amarah.
“Ini sudah keterlaluan!”
Andra sedikit menoleh.
Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Dari celahnya, suara itu keluar dengan jelas.
“Berapa banyak kasus yang gagal kalian tangani, huh?” suara pria itu menggema. “Jangan harap kalian bisa makan gaji buta, dengan kinerja seperti ini."
Andra berdiri diam.
Entah kenapa, ia tidak langsung pergi.
“Pak, kami masih—” suara lain mencoba menjelaskan, terdengar lebih tenang.
“Tiga bulan,” potong pria itu tajam. “Saya beri kalian waktu tiga bulan.”
Hening sejenak.
Lalu...
“Kalau dalam waktu itu kalian masih gagal menyelesaikan satu kasus saja… Jangan pernah berani lagi, tunjukkan batang hidung kalian di hadapanku.”
Tidak ada nada kompromi.
Tidak ada ruang tawar.
Andra sedikit mendekat, tanpa sadar.
Dari celah pintu, ia bisa melihat dua sosok berdiri di dalam ruangan.
Yang satu berdiri tegak, wajahnya datar, matanya tajam, Adrian.
Yang satu lagi tampak sedikit gelisah, sesekali menggaruk kepala, berusaha menahan ekspresi, Kevin.
“Pak, kami bukan tidak bisa menanganinya, tapi kasus kemarin ini kami punya alasan berbeda.” Kevin mencoba bicara, suaranya terdengar ragu.
“Semua kasus itu berbeda!” bentak pria itu. “Kalau kalian gak mampu, banyak orang lain yang bisa gantikan posisi kalian!”