The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #1

Chapter 1: Kidung di Tengah Intimidasi


Pagi itu, langit di atas pinggiran kota tampak seperti kanvas yang dicuci dengan air keruh—abu-abu, lembap, dan menekan. Di sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding beton berlumut, berdiri sebuah bangunan ruko dua lantai yang dialihfungsikan menjadi tempat ibadah. Papan namanya kecil, nyaris tak terlihat jika tidak dicari dengan teliti yaitu Gereja Karismatik Kemenangan Iman.

​Di dalam ruangan berukuran sepuluh kali dua belas meter itu, Yos berdiri di barisan depan. Keringat dingin mulai merembes dari balik kemeja flanelnya yang murah. Ia memegang mik dengan tangan yang sedikit bergetar. Sebagai pemimpin pujian, tugasnya adalah membawa jemaat masuk ke dalam apa yang sering disebut pendetanya sebagai "hadirat Tuhan yang membebaskan". Namun, pagi ini, kata "bebas" terasa seperti ejekan yang pahit.

​Di luar, suara kidung yang diiringi dentum bas dari keyboard tua itu bertarung sengit dengan suara-suara lain yang lebih kontras. Suara teriakan. Suara makian. Suara yang menuntut agar musik dihentikan.

​"Mari kita angkat tangan kita..." suara Yos pecah. Ia mencoba memejamkan mata, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa hanya beberapa jengkel di balik tembok bata itu, ratusan orang sedang berkumpul dengan kemarahan yang meluap.

​Yos adalah seorang Vikaris Kristen Protestan yang tumbuh dalam ekosistem Karismatik yang kental. Ia dibesarkan dengan narasi bahwa iman adalah soal perasaan, soal anointing[1] atau urapan, dan soal bagaimana mukjizat bisa terjadi dalam sekejap mata. Namun, di usianya yang kini menginjak kepala tiga, ia mulai merasakan ada yang retak dalam cara berpikirnya. Ia melihat dikotomi yang mengerikan di negerinya dimana di satu sisi, ia adalah bagian dari minoritas yang selalu merasa terancam, dan di sisi lain, ia melihat mayoritas yang sering kali menggunakan agama sebagai tameng untuk perilaku yang sangat jauh dari kata suci.

​"Kenapa, Tuhan?" bisik batinnya di sela-sela bait lagu. "Jika mereka adalah pengikut dari kebenaran yang mutlak, jika mereka mengklaim memiliki jalan menuju surga, kenapa tabiat yang mereka tunjukkan justru sebengis ini?"

​Pertanyaan itu bukan baru muncul hari ini. Pertanyaan itu sudah berkerak di kepala Yos selama bertahun-tahun. Ia muak dengan menahan diri yang harus ia ambil setiap minggu. Ia muak melihat jemaatnya sendiri yang terkadang bersikap terlalu naif—menganggap penindasan ini sebagai "ujian iman" atau persecution[2] yang harus diterima dengan pasrah demi pahala di surga. Bagi Yos, ini bukan soal iman; ini soal ketidakadilan sistemik dan kegagalan karakter manusia.

​Tiba-tiba, suara dentuman keras menghantam pintu besi ruko. Jemaat yang berjumlah sekitar empat puluh orang itu tersentak. Beberapa wanita di barisan belakang mulai terisak pelan. Pendeta mereka, seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang tampak kebesaran, maju ke depan mimbar. Wajahnya pucat, tapi ia mencoba tersenyum—sebuah senyum yang bagi Yos tampak sangat dipaksakan dan manipulatif.

​"Jangan takut, saudara-saudara. Kuasa kegelapan tidak akan menang," seru sang pendeta.

​Yos memandang pendetanya dengan tatapan kosong. Ia mulai merasa bahwa retorika semacam ini adalah bagian dari masalah. Mereka pihak gereja sering kali membangun narasi victimhood[3] atau mentalitas korban untuk menjaga loyalitas jemaat, sementara di luar sana, pihak mayoritas membangun narasi "penjagaan kesucian" untuk melegitimasi kekerasan. Dua-duanya, menurut Yos, adalah pemain dalam panggung sandiwara yang busuk.

Lihat selengkapnya