The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #2

Chapter 2: Teologi Kemakmuran yang Kosong

Aroma pewangi ruangan otomatis yang berbau melati sintetis menusuk indra penciuman Yos sesaat setelah ia melangkah masuk ke dalam aula utama gereja. Pendingin ruangan bekerja ekstra keras, menciptakan suhu yang sangat kontras dengan hawa pengap dan sisa-sisa bau gas air mata yang masih terbayang di ingatannya dari peristiwa minggu lalu. Di depan sana, di atas panggung yang diterangi lampu sorot keunguan, berdiri Pendeta Samuel. Pria itu tampak segar, wajahnya licin tanpa cela, mengenakan jas sutra yang berkilauan setiap kali ia bergerak mengikuti irama musik latar yang lembut.

​Yos duduk di barisan tengah, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ia melihat sekeliling. Di sebelah kanannya, seorang ibu paruh baya sedang memejamkan mata dengan khusyuk, tangannya terangkat ke udara. Di sebelah kirinya, seorang pemuda sebayanya tampak mencatat dengan antusias di atas tablet mahal. Mereka semua tampak siap untuk "menerima", sementara Yos merasa seperti sebuah botol kosong yang tutupnya tersumbat rapat.

​"Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan," suara Pendeta Samuel menggelegar melalui sistem suara bernilai ratusan juta rupiah. "Hari ini adalah hari kemenangan! Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi ekor, melainkan menjadi kepala. Jika Anda setia dalam perkara kecil, maka Tuhan akan mencurahkan berkat-berkat surgawi yang berkelimpahan!"

​Yos mengepalkan tangannya. Kalimat itu terasa seperti ampas di lidahnya. Baru enam hari yang lalu, ruko tempat mereka beribadah nyaris rata dengan tanah. Jemaat di barisan belakang—mereka yang tinggal di gang-gang sempit dan bekerja sebagai buruh harian—masih gemetar ketakutan jika ada motor yang menderu keras di depan rumah mereka. Namun, di mimbar ini, narasi yang dibangun tetaplah sama yaitu kemakmuran, kemenangan, dan kelimpahan.

​Ini adalah inti dari prosperity theology[9] atau teologi kemakmuran yang telah lama menjadi parasit dalam pemikiran Yos. Sebuah paham yang mengajarkan bahwa iman bisa ditukar dengan materi, bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari seberapa tebal dompet seseorang. Bagi Pendeta Samuel, penderitaan adalah tanda kurangnya iman, dan kemiskinan adalah kutuk yang harus dipatahkan dengan "benih iman" berupa persembahan.

​"Tuhan ingin Anda mengendarai mobil terbaik, tinggal di rumah tercantik, dan memiliki posisi paling terpandang!" seru sang pendeta lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, memicu riuh rendah amin dari jemaat.

​Yos merasakan mual yang hebat. Ia teringat Pak Lukas, seorang jemaat tua yang rumahnya ikut dirusak massa karena diduga menjadi tempat aktivitas gereja ilegal. Pak Lukas kini menumpang di rumah saudaranya, kehilangan modal dagangannya yang hanya seberapa, dan hari ini ia duduk di barisan belakang dengan kemeja yang sudah koyak di bagian kerah. Apakah Pak Lukas kurang iman? Apakah Tuhan sedang menghukumnya? Ataukah teologi yang sedang dikhotbahkan ini hanyalah sebuah spiritual scam[10] yang dirancang untuk menjaga kenyamanan sang pendeta sendiri?

​Bagi Yos, khotbah ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap realitas. Ia menyebutnya sebagai "iman dalam inkubator". Mereka membangun dinding-dinding kaca yang tinggi, memasang karpet tebal, dan menyanyikan lagu-lagu tentang surga, sementara di luar sana, dunia sedang terbakar oleh ketidakadilan. Tidak ada ruang bagi duka. Tidak ada ruang bagi protes sosial. Yang ada hanyalah instruksi untuk tetap "positif" dan terus menabur uang ke dalam kantong persembahan yang diedarkan dengan sangat efisien.

​"Kita harus memiliki breakthrough[11] dalam keuangan kita minggu ini!" Pendeta Samuel mengutip satu ayat dari kitab Perjanjian Lama, mencabutnya dari konteks sejarahnya, dan menempelkannya sebagai label untuk janji kekayaan instan.

​Yos mulai memperhatikan teknik manipulasi itu. Sang pendeta sangat lihai menggunakan psikologi massa. Ia akan merendahkan suaranya hingga berbisik untuk menciptakan suasana mistis, lalu tiba-tiba berteriak untuk memicu adrenalin. Ini bukan lagi ibadah; ini adalah pertunjukan motivational speaking[12] yang dibalut dengan bahasa-bahasa langit.

Lihat selengkapnya