The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #3

Chapter 3: Serigala Berjubah Agama

Hujan baru saja reda, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan yang temaram di depan gedung megah milik Pemerintah Kota. Yos berdiri di balik pilar beton, memperhatikan deretan mobil mewah yang terparkir rapi. Malam ini ada perhelatan syukur atas penghargaan "Kota Paling Religius" yang baru saja diterima. Namun, bagi Yos, udara di sekitar gedung itu tidak terasa suci; ia terasa busuk, seperti bau sampah yang ditutupi tumpukan melati.

​Ia melihat sosok yang sangat ia kenali keluar dari sebuah mobil SUV hitam mengkilap. Bapak Hardianto—seorang pejabat tinggi yang wajahnya selalu menghiasi baliho di sudut kota dengan kutipan-kutipan ayat tentang amanah dan pengabdian. Hardianto turun dengan jubah putih bersih dan peci hitam yang letaknya sangat presisi. Senyumnya terkembang lebar, menyalami satu per satu tamu yang datang dengan gestur yang sangat rendah hati, atau setidaknya, terlihat seperti itu.

​Yos mengepalkan tangan di balik saku jaketnya. Ia tahu siapa Hardianto di balik tirai panggung. Hanya tiga hari yang lalu, ia secara tidak sengaja mendengar percakapan di sebuah kafe remang-remang antara Hardianto dan seorang kontraktor. Mereka bicara soal persentase "infak" dari proyek pembangunan pasar induk—sebuah istilah yang mereka gunakan untuk menghaluskan kata suap. Hardianto meminta jatah lebih besar dengan alasan untuk dana pembangunan pusat studi agama, yang Yos tahu hanyalah akal-akalan untuk mencuci uang hasil korupsinya.

​Ini adalah puncak dari apa yang Yos sebut sebagai hypocritical piousness[15] atau kesalehan yang munafik. Sebuah fenomena di mana simbol-simbol ketuhanan digunakan sebagai instrumen untuk menutupi kebusukan pribadinya. Yos melihat Hardianto bukan sebagai seorang pemimpin, melainkan sebagai seorang pemangsa yang menggunakan jubah keagamaan sebagai penyamaran.

​"Bagaimana mungkin seseorang bisa bicara tentang hari penghakiman di depan podium, sementara tangannya sibuk menghitung uang rakyat di bawah meja?" gumam Yos dengan nada getir.

​Kebencian Yos mulai mengkristal. Jika sebelumnya amarahnya bersifat reaktif terhadap penindasan fisik yang dialami gerejanya, kini amarahnya berubah menjadi kebencian intelektual yang dingin. Ia melihat sebuah pola yang sistemik, dimana agama di negerinya telah menjadi The great camouflage[16] atau penyamaran agung bagi para koruptor. Semakin besar uang yang dicuri, semakin panjang jubah yang dikenakan, dan semakin keras kutipan ayat yang diteriakkan.

​Ia memperhatikan bagaimana Hardianto naik ke podium. Suaranya bergema, sangat berwibawa. Ia bicara tentang pentingnya menjaga moralitas bangsa dan menjauhkan diri dari pengaruh asing yang merusak. Ia bicara seolah-olah ia adalah benteng terakhir pertahanan iman di kota ini. Masyarakat yang hadir tampak terpesona. Mereka mengangguk-angguk khusyuk, seolah sedang mendengarkan sabda suci, tanpa menyadari bahwa orang yang bicara itu baru saja memangkas anggaran makan rakyat miskin untuk dialihkan ke kantong pribadinya.

​Bagi Yos, ini adalah bentuk social engineering[17] yang sangat jahat. Dengan terus-menerus memberikan narasi agama, para pejabat ini membuat rakyatnya terhipnotis. Rakyat menjadi takut untuk mengkritik karena mengkritik pejabat tersebut seolah-olah mengkritik agama itu sendiri. Agama telah dijadikan sandera politik, sebuah perisai yang membuat para koruptor ini merasa tak tersentuh oleh hukum manusia maupun hukum moral.

Lihat selengkapnya