Kamar kos Yos malam itu terasa seperti kotak korek api yang siap meledak. Pendingin ruangan yang sudah tua menderu kasar, mencoba melawan hawa panas Jakarta yang seolah ikut merembes masuk lewat celah ventilasi. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas, berserakan kertas-kertas penuh coretan tinta merah, sebuah laptop yang mesinnya panas, dan sebuah Alkitab yang terbuka lebar di bagian paling akhir dari Kitab Wahyu.
Yos menatap baris-baris kalimat itu dengan mata merah karena kurang tidur. Ia sedang mencari sesuatu. Bukan penghiburan, bukan pula kasih. Ia mencari api. Ia mencari kehancuran. Ia sedang mendalami eschatology[24] atau ajaran tentang akhir zaman, namun bukan dengan kerendahan hati seorang murid, melainkan dengan dendam seorang korban yang haus akan pembalasan.
Baginya, dunia ini sudah terlalu busuk untuk diperbaiki. Penindasan yang ia alami di gereja ruko minggu lalu, kemunafikan Pendeta Samuel yang menjual harapan palsu, dan wajah licin pejabat korup seperti Hardianto telah membentuk sebuah simpulan tunggal di benaknya: satu-satunya bentuk keadilan yang tersisa hanyalah pemusnahan total.
"Biarlah semuanya hangus," bisik Yos, suaranya parau tertelan deru mesin AC. "Biarlah cawan murka itu ditumpahkan sekarang juga."
Ia membaca tentang naga, tentang binatang yang keluar dari laut, dan tentang penghakiman takhta putih. Dalam imajinasinya yang liar, ia memproyeksikan wajah-wajah orang yang membencinya ke dalam sosok-sosok yang akan dilemparkan ke dalam lautan api. Ia membayangkan Hardianto merangkak di bawah hujan belerang, memohon ampun dengan jubah putihnya yang kini menghitam terbakar. Ia membayangkan massa yang melempari gerejanya berteriak memanggil gunung-gunung untuk menimbun mereka agar terhindar dari murka sang anak domba.
Ini adalah apa yang ia sebut sebagai cowardly eschatology[25] atau eskatologi para pengecut. Sebuah pelarian spiritual bagi mereka yang terlalu lemah untuk melawan di dunia nyata, sehingga mereka meminjam tangan Tuhan untuk melakukan kekerasan yang tidak bisa mereka lakukan sendiri. Yos sadar ia sedang menjadi pengecut. Ia tidak punya keberanian untuk menghadapi Hardianto secara langsung, ia tidak punya kuasa untuk menghentikan massa, maka ia bersembunyi di balik ayat-ayat apokaliptik, mengubah nubuat menjadi doa kutukan pribadi.
"Aku ingin melihat mereka terbakar," tulis Yos di bagian kosong pada Alkitabnya, sebuah tindakan yang jika dilihat oleh Pendeta Samuel pasti akan dianggap sebagai penghujatan. Namun bagi Yos, kejujuran dalam membenci jauh lebih suci daripada kepalsuan dalam mengasihi.
Pikiran Yos mulai beralih pada perbandingannya dengan teks-teks Al-Qur'an yang ia bedah sebelumnya. Ia menyadari sebuah pola human frailty[26] atau kerapuhan manusia yang universal. Di satu sisi, ia melihat kaum mayoritas menggunakan narasi akhirat untuk menakut-nakuti orang agar tunduk pada otoritas mereka. Di sisi lain, kaum minoritas seperti dirinya menggunakan narasi akhirat sebagai mekanisme balas dendam mental. Dua-duanya menggunakan Tuhan sebagai algojo untuk musuh-musuh politik dan sosial mereka.
"Agama ini hanyalah sebuah weaponization of fear[27]," gumamnya. Persenjataan untuk menciptakan rasa takut.