Debu tipis menari-nari dalam berkas cahaya lampu senter yang dipegang Yos. Udara di gudang belakang rumah ibunya terasa berat, pengap oleh aroma kertas tua, kayu lapuk, dan sisa-sisa kenangan yang sengaja dikubur. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kursi kayu yang sudah patah kakinya, sebuah peti kayu jati kecil tampak teronggok sepi. Peti itu milik kakeknya—seorang pria yang dalam sejarah keluarga mereka dianggap sebagai apostasía karena memutuskan menjadi muslim di usia senja.
Yos berlutut, mengabaikan rasa perih di lututnya yang bergesekan dengan lantai semen kasar. Ia membuka peti itu dengan sentakan kasar. Tangannya merogoh ke dalam, melewati beberapa kain sarung yang sudah berlubang dimakan gegat, hingga jemarinya menyentuh sebuah benda berbentuk persegi panjang yang dibungkus kain beludru hijau kusam.
Ia membukanya. Sebuah kitab Al-Qur'an terjemahan bahasa Indonesia cetakan lama.
Yos menatap buku itu dengan sorot mata yang dingin. Ia tidak datang ke gudang ini sebagai seorang pencari spiritual. Ia tidak datang untuk mendapatkan hidayah. Ia datang dengan niat yang jauh lebih gelap yaitu malicious intent[32]. Ia ingin membedah kitab ini, mencari setiap jengkal "celah kebodohan" yang bisa ia jadikan peluru untuk membenarkan kebenciannya. Ia ingin membuktikan bahwa agama yang dianut oleh orang-orang yang menindasnya, yang dianut oleh Hardianto si koruptor, adalah sebuah ajaran yang tidak logis, kaku, dan penuh kontradiksi.
"Mari kita lihat, apa yang membuat kalian begitu merasa suci," bisik Yos, suaranya bergema aneh di ruang sempit itu.
Ia duduk bersandar pada tumpukan kardus, meletakkan mushaf itu di atas pangkuannya. Jemarinya yang masih gemetar karena sisa amarah dari kejadian-kejadian sebelumnya mulai membalik halaman demi halaman. Ia melewati bagian pembukaan dengan cepat, matanya memindai baris demi baris teks dengan ketelitian seorang jaksa yang mencari kesalahan dalam berkas perkara.
Namun, semakin ia membaca, semakin ia merasa terganggu—bukan oleh isinya, melainkan oleh kualitas bahasanya. Ia menemukan bahwa terjemahan bahasa Indonesia di hadapannya terasa sangat kaku, seolah-olah dipaksakan untuk mengikuti struktur bahasa aslinya tanpa memedulikan nuansa rasa. Ia merasa bahasa Indonesia dalam kitab ini telah mengalami linguistic sterilization[33] atau pensterilan linguistik. Banyak kata yang menurutnya memiliki potensi makna yang dalam, justru diseragamkan menjadi istilah-istilah birokratis yang kering.
"Kiamat... lagi-lagi kiamat," Yos mendesis saat matanya tertumbuk pada surat-surat pendek di bagian belakang.
Ia mengambil pena tinta merah yang selalu ia bawa. Dengan gerakan yang hampir bersifat ritualistik, ia mulai menggoreskan garis-garis tebal di bawah kata-kata yang ia anggap "lemah". Ia membuat catatan di pinggir halaman—sebuah red margin[34] yang penuh dengan sarkasme. Ia mempertanyakan kenapa diksi "neraka" digambarkan dengan begitu monoton, atau kenapa konsep "keadilan" di sana tidak langsung menusuk ke jantung kemunafikan karakter manusia yang ia temui di jalanan.
Yos sedang melakukan apa yang disebut para akademisi sebagai confirmation bias[35]. Ia hanya mencari hal-hal yang mendukung kesimpulannya bahwa agama ini adalah produk dari kebodohan massal yang terorganisir. Ia ingin menemukan ayat-ayat yang bisa ia pelintir untuk menunjukkan bahwa pengikut kitab ini memang "disahkan" untuk menjadi bengis.