Lampu meja di kamar kos Yos adalah saksi bisu atas sebuah obsesi yang kian gelap. Malam telah melewati pukul dua dini hari, namun Yos masih terjaga, duduk membungkuk di atas meja kayu yang permukaannya sudah penuh dengan noda kopi dan abu rokok. Di depannya terbentang kitab milik kakeknya, terbuka pada bagian Juz Amma—bagian yang paling sering dibaca, dihafalkan, namun menurut Yos, paling sering disalahpahami.
Tangan kanan Yos memegang sebuah pena tinta merah cair. Matanya yang merah karena kurang tidur bergerak cepat, memindai baris-baris ayat. Setiap kali ia menemukan kata yang diterjemahkan sebagai "hari kiamat", "hari kebangkitan", atau "hari pembalasan", ia akan membuat coretan tebal. Bukan garis bawah yang rapi, melainkan coretan agresif yang seolah-olah ingin menembus kertas tersebut.
"Lagi-lagi 'kiamat'. Di sini 'kiamat', di sana 'kiamat'," desis Yos. Suaranya yang serak memecah keheningan kamar yang pengap.
Ia membalik halaman dengan kasar. Ia menemukan kata Al-Qari'ah, ada catatan merah. Ia menemukan Al-Ghasyiyah, ada catatan merah lagi. Ia menemukan Al-Waqi'ah, ada catatan merah yang lebih besar. Baginya, penyeragaman istilah ini adalah sebuah intellectual insult[41] atau penghinaan intelektual. Ia merasa seolah-olah para penerjemah di negerinya menganggap umat mereka terlalu bodoh untuk memahami nuansa bahasa, sehingga setiap kejadian besar di akhir zaman cukup diringkas menjadi satu kata yang klise dan menakutkan.
Yos menuliskan sebuah kalimat besar di bagian yang kosong pada halaman surat Al-Zalzalah "TUHAN KALIAN KEKURANGAN KOSA KATA? ATAU PENERJEMAHNYA YANG MALAS BERPIKIR?"
Tinta merah itu merembes, menciptakan noda seperti darah kecil di balik kertas. Yos tidak peduli. Ia sedang dalam kondisi manic state[42]—sebuah kondisi euforia yang dipicu oleh kemarahan dan rasa puas karena merasa telah menemukan "cacat" dalam sistem keyakinan orang-orang yang membencinya. Baginya, tinta merah itu adalah simbol perlawanannya terhadap dominasi mayoritas yang selama ini menindasnya dengan narasi-narasi surga dan neraka yang dangkal.
Ia teringat Hardianto, pejabat korup yang ia amati tempo hari. Ia membayangkan Hardianto berdiri di mimbar, mengutip ayat-ayat ini untuk menakuti rakyat agar tetap patuh. "Kalian menggunakan kata-kata yang kalian sendiri tidak paham artinya," gumam Yos. Ia melihat adanya linguistic hegemony[43] di mana bahasa agama tidak lagi digunakan untuk mencerahkan, melainkan untuk mengontrol. Dengan menyeragamkan semua peristiwa dahsyat menjadi "kiamat", otoritas agama berhasil menciptakan ketakutan kolektif yang buta, tanpa kedalaman filosofis.
Yos mulai membandingkan dengan Alkitab bahasa Inggris yang ia miliki. Ia melihat bagaimana kata-kata seperti Judgment—penghakiman, Reckoning—perhitungan atau pembalasan, Tribulation—sengsara atau kesesakan, dan Revelation—wahyu atau pengungkapan digunakan dengan presisi untuk menggambarkan nuansa yang berbeda. Namun, di kitab terjemahan Indonesia ini, ia merasa semuanya menjadi datar. Ia menganggap ini sebagai bukti bahwa agama di sekelilingnya telah mengalami cultural stagnation[44]—stagnasi budaya yang membuat penganutnya tidak lagi memiliki daya kritis terhadap teks suci mereka sendiri.
"Kalian menyerang gerejaku karena merasa memegang kebenaran mutlak, padahal kalian membaca terjemahan yang sudah disaring oleh birokrasi," tulis Yos lagi di margin bawah. "Kalian adalah budak dari diksi yang miskin."
Setiap coretan merah yang ia torehkan terasa seperti sebuah pukulan balasan. Yos merasa sedang melakukan sebuah cognitive warfare[45] atau perang kognitif. Ia menyerang inti dari apa yang dianggap suci oleh mereka. Jika ia bisa membuktikan bahwa teks yang mereka agungkan ternyata "lemah" dalam penyajian bahasanya, maka ia merasa telah meruntuhkan legitimasi moral mereka untuk menindasnya.