The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #7

Chapter 7: Pergesekan Denominasi

Sebelum berangkat ke San Francisco. Dimana sore itu, mendung menggantung rendah di atas langit Surabaya, membawa hawa pengap yang menyelinap ke dalam ruang tamu rumah tua bergaya kolonial milik Paman Tagor. Bau kayu jati tua dan minyak kayu putih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang bagi banyak orang terasa menenangkan, namun bagi Yos, terasa seperti sebuah ruang tunggu menuju pengadilan.

​Paman Tagor, seorang penatua di gereja Protestan tradisional yang kental dengan warisan liturgi, duduk tegak di kursi goyangnya. Di tangannya terdapat secangkir kopi hitam pahit yang uapnya masih mengepul. Ia adalah representasi dari kekristenan arus utama yang kaku, tertib, dan sangat bangga akan sejarahnya. Di hadapannya, Yos duduk dengan gelisah, membawa tas berisi catatan-catatan merahnya dan sebuah paspor yang baru saja selesai diurus.

​"Jadi, kau benar-benar akan pergi, Yos?" suara Paman Tagor berat dan berwibawa, tipe suara yang biasa digunakan untuk membacakan hukum Taurat di depan jemaat.

​"Aku butuh udara segar, Paman," jawab Yos singkat. "Di sini, aku merasa tercekik. Bukan hanya oleh mereka yang di luar, tapi juga oleh kita yang di dalam."

​Paman Tagor meletakkan cangkirnya dengan dentingan pelan di atas meja marmer. "Kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang Karismatik itu, Yos. Imanmu jadi seperti kembang api—meledak-ledak, emosional, tapi cepat padam. Kau merasa ditindas karena kau sendiri yang memancing keributan dengan cara ibadah yang tidak tertib."

​Yos merasakan darahnya naik ke ubun-ubun. Inilah yang ia benci, denominational friction[50] atau pergesekan antar-denominasi yang sering kali lebih tajam daripada perselisihan antar-agama. Baginya, kaum tradisional seperti pamannya terlalu sibuk dengan ecclesiastical order[51] atau ketertiban gerejawi, hingga mereka kehilangan empati terhadap saudara-saudaranya yang sedang dipukul di lapangan.

​"Tertib?" Yos tertawa ketus. "Paman menyebut diamnya kita saat rumah ibadah tetangga dihancurkan sebagai sebuah ketertiban? Aku muak melihat gereja Paman yang merasa aman hanya karena punya kedekatan politik dengan penguasa, sementara gereja-gereja kecil di gang dianggap sebagai 'pengganggu'. Kita ini satu tubuh, tapi kenapa baunya seperti mayat yang saling membusukkan?"

​Paman Tagor menghela napas panjang, sebuah gestur yang biasa ia lakukan menghadapi jemaat yang "sesat". "Yos, kekristenan di Indonesia ini punya sejarah panjang untuk bertahan hidup. Kami bertahan dengan cara menjaga diplomasi, bukan dengan berteriak-teriak minta mukjizat di ruko-ruko tanpa izin. Kalian hanya membuat citra Kristen menjadi buruk di mata mayoritas."

​"Citra?" Yos berdiri, suaranya naik satu oktaf. "Paman lebih peduli pada citra di depan manusia daripada kebenaran di depan Tuhan? Kristen di Indonesia ini sedang mengalami identity crisis[52] yang parah, Paman. Kita terbagi dua dimana yang satu sibuk menjual mimpi kemakmuran di panggung yang penuh lampu warna-warni, dan yang satu lagi sibuk menjaga tradisi kaku yang sudah kehilangan jiwanya di dalam gedung-gedung kuno. Dua-duanya gagal memberikan jawaban bagi keadilan!"

​Yos mengeluarkan kitab milik kakeknya dari tas, memperlihatkan coretan-coretan dan catatan-catatannya yang penuh tinta merah kepada pamannya. Paman Tagor terbelalak, wajahnya berubah pucat pasi.

​"Apa ini, Yos? Kau sudah gila? Kenapa kau mencoret-coret kitab orang lain?"

Lihat selengkapnya