Lampu-lampu neon Bandara Internasional Soekarno-Hatta memantul dingin di atas lantai marmer yang mengilap, menciptakan suasana steril yang seolah-olah berusaha menghapus segala jejak emosi dari wajah para musafir. Di sudut terminal keberangkatan internasional, Yos berdiri mematung. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah boarding pass[59] kelas ekonomi tujuan San Francisco, dengan transit di Shanghai. Di tangan kirinya, ia menyeret koper hitam besar yang beratnya nyaris mencapai batas maksimal ketentuan maskapai.
Koper itu tidak hanya berisi pakaian, beberapa pasang sepatu, atau perlengkapan mandi. Di dasar koper itu, terbungkus rapi di antara lipatan jeans dan jaket tebal, terselip "bom waktu" intelektualnya: mushaf kakeknya yang penuh coretan tinta merah, Alkitab yang sudah koyak di bagian Kitab Wahyu, dan berlembar-lembar catatan tentang kemunafikan Hardianto serta Pendeta Samuel. Yos tidak sedang pergi untuk berlibur; ia sedang melakukan intellectual exile[60] atau pengasingan intelektual.
Ia merasa seperti seorang penyelundup yang sedang membawa barang terlarang keluar dari zona konflik. Barang terlarang itu adalah kebenaran versinya sendiri—sebuah amarah yang telah ia saring menjadi rasa benci yang murni terhadap struktur sosial dan religius di negerinya.
"Akhirnya," bisik Yos pelan. Suaranya tenggelam dalam riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah kaki orang-orang yang terburu-buru.
Ia menatap ke arah pintu kaca besar yang memisahkan area publik dengan area imigrasi. Di luar sana, Jakarta sedang diguyur hujan malam yang lebat, menyembunyikan kemacetan, polusi, dan jeritan massa yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Yos merasa tidak ada lagi yang menahannya di sini. Orang tuanya sudah lama melepaskannya dengan doa yang ia anggap sebagai formalitas kosong. Teman-teman gerejanya menganggap keberangkatannya sebagai "berkat Tuhan" atas kesetiaannya, sebuah ironi yang membuat Yos ingin tertawa keras di tengah lobi bandara.
Mereka tidak tahu bahwa ia pergi dengan membawa resentment[61] atau rasa dendam yang telah mengkristal. Ia dendam pada mayoritas yang menganggapnya sebagai warga negara kelas dua. Ia dendam pada minoritasnya sendiri yang memilih untuk menjadi "domba penurut" demi keamanan perut. Dan yang paling dalam, ia dendam pada bahasa di negerinya yang menurutnya telah gagal menjadi jembatan bagi kejujuran spiritual.
Saat ia melangkah menuju konter imigrasi, Yos merasa sedang melewati sebuah rite of passage[62] atau ritual peralihan. Ia menyerahkan paspornya kepada petugas yang berwajah datar di balik kaca tebal. Petugas itu memindai wajah Yos, lalu memindai paspornya. Suara stempel yang menghantam halaman paspor terdengar seperti bunyi palu hakim di telinga Yos. Ctek. Putusan telah dijatuhkan dimana Yos resmi menjadi orang asing bagi tanah airnya sendiri.
Ia berjalan melewati security screening[63] dengan tatapan kosong. Petugas memintanya melepaskan ikat pinggang dan jaket. Yos melakukannya dengan patuh, namun di dalam kepalanya, ia sedang menelanjangi semua kemunafikan yang ia tinggalkan di balik pintu imigrasi itu. Ia merasa seolah-olah setiap langkah menjauh dari gerbang keberangkatan adalah sebuah pembersihan. Namun, ia tahu, pembersihan ini hanyalah permukaan. Penyakit sesungguhnya—amarah yang membara—masih tersimpan rapi di dalam kopernya yang kini sudah masuk ke dalam perut pesawat.
Yos duduk di ruang tunggu, menatap pesawat Boeing 777 yang bersandar di pelabuhan udara. Di sampingnya, seorang pria paruh baya mengenakan atribut keagamaan yang sama dengan orang-orang yang merusak gereja Yos sedang membaca sebuah buku doa kecil. Yos merasa otot-otot rahangnya mengeras. Secara otomatis, otaknya mulai melakukan stereotyping[64]. Ia membayangkan pria itu adalah bagian dari kelompok Hardianto, atau mungkin salah satu dari mereka yang melempar batu ke ruko gerejanya.
"Kalian tidak akan pernah bisa mengejarku ke sana," batin Yos. "Di San Francisco, kalian hanyalah statistik, bukan penguasa."