Udara di San Francisco tidak pernah benar-benar hangat, bahkan di musim panas sekalipun. Bagi Yos, dinginnya kota ini terasa seperti pisau bedah yang tipis—tajam, steril, dan mampu menguliti lapisan-lapisan emosi yang ia bawa dari Jakarta. Ia berdiri di dek observasi dekat Jembatan Golden Gate, namun struktur raksasa berwarna merah jingga itu nyaris tak terlihat, tertelan oleh kabut tebal yang oleh penduduk lokal disebut sebagai "Karl".
Kabut itu merayap pelan di atas teluk, putih dan masif, mengubah dunia menjadi ruang kosong yang bisu. Yos merapatkan jaket denimnya, merasakan embun yang mulai membasahi helai-helai rambutnya. Di sini, ia merasa seperti sebuah titik kecil yang hilang dalam koordinat semesta. Perasaan ini sangat baru baginya dimana sebuah profound solitude[70] atau kesepian yang mendalam, namun anehnya, tidak terasa menyakitkan. Ia justru merasa aman dalam kesunyian ini.
Sudah dua minggu sejak ia mendarat di Bandara Internasional San Francisco. Apartemen sempitnya di kawasan Sunset District masih berantakan dengan kardus-kardus yang belum sempat ia bongkar sepenuhnya. Satu-satunya benda yang sudah ia tata rapi di atas meja belajar adalah tumpukan buku dan catatan tinta merahnya.
Di Amerika, Yos bukan lagi "si minoritas yang tertindas" atau "si pemimpin pujian yang terancam". Di sini, ia hanyalah seorang mahasiswa pascasarjana informatics dengan ransel berat dan tatapan mata yang lelah. Tidak ada yang peduli apakah ia pergi ke gereja di hari Minggu, dan tidak ada yang akan melempari jendelanya jika ia berteriak di tengah jalan. Kebebasan ini, pada awalnya, terasa seperti oxygen toxicity[71]—terlalu banyak oksigen yang justru membuatnya pening karena selama ini ia terbiasa bernapas dalam sesak.
"Di sini, Tuhan tidak diteriakkan lewat pelantang suara," gumam Yos sambil menatap samar ke arah jembatan yang terputus oleh kabut.
Ia mulai mengamati orang-orang yang melintas di sekitarnya. Turis dari berbagai belahan dunia, penduduk lokal yang sedang jogging[72], dan pasangan-pasangan yang asyik berfoto. Mereka semua tampak begitu sibuk dengan eksistensi mereka masing-masing. Yos menyadari sesuatu yang sangat mendasar: di negeri ini, agama telah bergeser dari sebuah identitas politik yang agresif menjadi sebuah sociological phenomenon[73] atau fenomena sosiologis yang privat.
Orang-orang di sini melihat agama sebagai salah satu pilihan dari sekian banyak cara untuk memaknai hidup, bukan sebagai satu-satunya tiket untuk diakui sebagai manusia. Hal ini mulai mengguncang cara berpikir Yos. Selama di Indonesia, dunianya hanya terdiri dari "kami" dan "mereka". Segala sesuatu diukur dari jarak antara altar dan mimbar. Namun dari kejauhan ribuan mil ini, ia melihat bahwa drama yang ia jalani di Jakarta tampak seperti sebuah pertunjukan teater yang sangat kecil dan berisik di dalam sebuah ruangan yang sangat besar.
Ia teringat Hardianto. Dari San Francisco, Hardianto bukan lagi monster yang menakutkan; ia hanyalah seorang aktor kecil dalam sistem birokrasi yang gagal. Ia teringat massa yang merusak gerejanya; mereka hanyalah kumpulan orang yang terjebak dalam collective ignorance[74] atau ketidaktahuan kolektif yang dipelihara. Jarak fisik ternyata menciptakan emotional detachment[75]—sebuah keterlepasan emosional yang memungkinkannya untuk melihat segala luka lamanya dengan kacamata yang lebih objektif, hampir seperti seorang peneliti yang sedang mengamati koloni bakteri di bawah mikroskop.
"Apakah aku membenci mereka, atau aku membenci sistem yang menciptakan mereka?" Yos bertanya pada dirinya sendiri.
Kesepian di negeri orang memaksanya untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri lebih intens daripada sebelumnya. Tanpa gangguan suara azan yang saling bersahutan atau lonceng gereja yang menuntut kehadiran, Yos mulai mendengar suara-suara di dalam kepalanya yang selama ini tertutup oleh kebisingan luar. Ia mulai meragukan apakah tinta merah yang ia torehkan di bagian kosong pada kitab kakeknya itu benar-benar ditujukan untuk teksnya, ataukah itu sebenarnya adalah jeritan frustrasinya terhadap ketidakadilan dunia.
Ia berjalan meninggalkan dek observasi, menyusuri jalan setapak menuju kawasan Presidio. Pepohonan eukaliptus di kiri kanan jalan mengeluarkan aroma yang segar dan asing. Yos merasa sedang berada dalam kondisi cultural dislocation[76]. Ia secara fisik berada di California, namun hatinya masih sering kali "pulang" ke Surabaya atau Jakarta untuk sekadar mengulang-ulang adegan rasa sakit yang lama.